Rabu, 24 Juni 2015
SEJARAH RINGKAS KEPENULISANKU
Melihat ada polisi berdiri di depan posnya tak jauh dari wisma, aku melangkah mendekati dan menanyakan di kawasan mana Jalan Gading Raya. Polisi itu mengaku tidak tahu, tetapi dia memanggil rekannya yang duduk di pos. Hingga polisi keenam yang mengelilingiku, tak seorang pun yang tahu di kawasan mana Jalan Gading Raya di Jakarta. Barulah polisi ketujuh yang melangkah dari pos yang menyebutkan: Itu kan di belakang RS Persahabatan, Rawamangun.
Senin pagi, Yuli mengantarku ke Gedung Dewan Pers. Setelah melakukan registrasi atau pendaftaran, staf LPDS menyatakan kegiatan PPR baru akan dimulai Selasa besok. Yuli pun mengajakku rekreasi ke Taman Monumen Nasional, lalu naik ke puncak Tugu Monas.
Di Kepulauan Seribu kami dapat fasilitas menginap di wisma milik Departemen Kehutanan di Pulau Semak Daun, sekitar 200 meter dari Pulau Pramuka. Hari Sabtu itu kami sempat mengunjungi Pulau Putri (kawasan wisata internasional) dan Pulau Bira Besar. Di Pulau Bira, kami sempat diburu dan diusir para satpam lantaran mengambil dokumen foto plus video lapangan golf.
Besoknya, aku dapat panggilan petugas untuk berfoto.
Lalu, print nomor paspor kuterima.
Jumat, 24 April 2015
TIADA MALANG YANG SEMUJUR INI
Perjalanan profesiku sebagai wartawan sungguh penuh romantika. Entah lantaran aku terlalu bersikukuh pada sikap yang kuyakini benar -- yang menurut teman-teman bahwa aku kelewat idealis -- tak pelak aku pun kerap berhadapan dengan kesulitan demi kesulitan. Meski demikian, aku tetap tidak bisa keluar dari kerangka keyakinanku.
Tahun 1990-an merupakan dasawarsa yang penuh warna dalam catatan karier jurnalistik-ku. Terancam pembunuhan, dapat penghargaan hingga berkali-kali memperoleh berkah atas peluang yang ditolak para wartawan senior.
Kali ini aku ingin menceritakan pengalaman mengecewakan yang ternyata berakhir menyenangkan. Itulah sebabnya mengapa catatan ini kuberi judul: Tiada Malang yang Semujur Ini.
Senin pagi itu, seperti biasanya, aku berangkat dari rumah menuju kantor bupati. Seperti biasanya juga, unit kerja pertama yang kutuju adalah ruang Bagian Humas (Hubungan Masyarakat). Namun, pintu ruangan itu tertutup dan terkunci. Aku jadi bertanya-tanya, ke mana mereka?
Dari staf bagian lain aku pun memperoleh informasi, Bagian Humas pergi mengikuti kunjungan kerja bupati ke Kepulauan Mentawai dengan mengajak serta sejumlah wartawan. Hmmm... berarti mereka sengaja tidak mengajakku! Padahal, hari Sabtu sebelumnya aku masih ke Bagian Humas.
Kecewa memang, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kususul pun mereka ke Pelabuhan Nusantara - Bungus tak ada gunanya. Toh, aku tidak diajak. Lagipula, kapal yang mereka tumpangi tentu sudah berangkat. Ah, biarlah! Mungkin ada hal yang tidak disenangi Kepala Bagian Humas atas pemberitaanku.
Siangnya, aku berangkat ke redaksi surat kabar mingguan tempatku bergabung di Kota Padang. Seperti biasa, tujuanku ke redaksi untuk menyerahkan beberapa naskah berita yang sudah kutulis di rumah berikut foto pendukung. Selain itu, juga menulis naskah berita yang kuperoleh hari itu.
Menjelang sore, pemimpin redaksi memanggilku ke ruangannya. Ternyata dalam ruangan itu sudah ada dua orang tamu yang kemudian kuketahui adalah Staf PT Minas Pagai Lumber Coorporation (MPLC). Staf itu menyampaikan surat permintaan wartawan guna mendampingi Direktris PT MPLC Selvyana Sofjan Husein yang akan berkunjung ke Kepulauan Mentawai, tepatnya ke Pulau Pagai Selatan, Rabu s/d Jumat. Pemimpin redaksi menugaskanku mengikuti kunjungan itu.
Tak lama setelah Staf PT MPLC meninggalkan redaksi, datang tamu berikutnya, yakni Sekretaris DPRD Kota Solok. Sekwan yang tak kuingat lagi namanya itu juga meminta wartawan untuk mendampingi kunjungan kerja (kunker) dewan ke luar provinsi, Senin s/d Rabu depan. Lantaran wartawan yang stand by di redaksi sore itu, lagi-lagi pemimpin redaksi menugaskanku untuk mengikuti kunjungan itu.
Tak selesai sampai di situ, menjelang maghrib datang lagi tamu ketiga yang juga meminta wartawan. Tamu ketiga adalah Humas Depot Logistik (Dolog) Sumbar. Ia meminta wartawan untuk mendampingi Kepala Dolog Drs Muslim Kasim Ak (kini Wakil Gubernur Sumbar) melakukan kunjungan kerja ke Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Selasa besok. Namun, karena jarak tempuh cukup jauh, mencapai 200 km, rombongan berangkat malam itu juga dan dijadwalkan menginap di sebuah hotel di Kota Bukittinggi.
Karena tak punya pilihan lain, otomatis penugasan itu tertuju kepadaku. Kepada Humas Dolog kukatakan, aku akan menunggunya di Puncak Kiambang karena aku harus pulang dulu ke rumah (kampungku berada di kawasan Jalan Raya Padang - Bukittinggi km 44).
Dalam perjalanan pulang ke rumah aku tercenung di atas bus: Tuhan benar-benar Mahakuasa. Dia punya rencana yang tidak diketahui hamba-hambaNya. Mungkin karena aku bersabar ketika mengetahui ditinggalkan Bagian Humas Kantor Bupati, hari itu juga Tuhan menggantinya dengan tiga penugasan berturut-turut. Mahabenar-lah FirmanNya dalam Al-Qur'an surah ke-2 Al-Baqarah ayat 153 .... Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
Sesampai di rumah, aku segera berganti pakaian dan memasukkan satu stel pakaian pengganti ke dalam tas sandang, lalu berangkat menuju Puncak Kiambang. Sekitar jam 21.30 mobil Humas Dolog menyinggahiku dan kami berangkat menuju Kota Bukittinggi. Keesokan paginya kami bergabung dan konvoi dengan mobil Kepala Dolog menuju Lubuk Sikaping.
Usai acara di kantor bupati, Selasa siang, Kepala Dolog tidak langsung kembali ke Kota Padang tetapi justru mengarah ke Pasaman Barat via Talu lantaran ada pula yang hendak dia tinjau ke kawasan itu. Otomatis Humas terpaksa mengikuti. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, jam berapalah nanti akan sampai di rumah? Padahal besok pagi aku harus berangkat ke Mentawai mendampingi Direktris PT MPLC.
Di Pasaman Barat, Kepala Dolog memanggilku agar mendekat ke mobilnya. Ternyata dia memberiku uang Rp200 ribu. Ahaa... aku terkesima. Kalau sekiranya aku diajak Humas Kantor Bupati, untuk tiga hari perjalanan paling mendapat uang saku Rp150 ribu. Untuk satu penugasan saja aku sudah untung Rp50 ribu.
Ternyata memang aku baru sampai kembali di rumah sudah menjelang tengah malam. Kelelahan menyebabkanku tertidur pulas. Rabu pagi, aku buru-buru berangkat ke Kota Padang. Dari Terminal Lintas Andalas aku naik taksi ke Kantor PT MPLC. Namun, menurut seorang staf, rombongan sudah setengah jam lalu berangkat ke Pelabuhan Muara. Yaa, aku ketinggalan!
Tak menyerah begitu saja, aku kembali menyetop taksi dan menyuruh sopir ngebut menuju Pelabuhan Muara. Alhamdulillah... meski ketika menapaki dermaga anak buah kapal (ABK) Kuda Laut sudah membuka tali pengikat kapal, aku masih bisa melompat masuk kapal.
Di atas kapal cukup lama aku bengong sendiri lantaran tidak seorang pun yang kukenal. Tapi, tak masalah, yang penting aku ikut, terlebih seorang Staf MPLC mempersilahkanku duduk setelah kepada kuperlihatkan undangan mengikuti kegiatan itu yang sudah di-disposisi pemimpin redaksi. Kemudian, baru aku berkenalan dengan tiga wartawan lain yang juga ikut. Mereka adalah wartawan Harian Semangat Erion Saad, Wartawan LKBN Antara Riza Mulyadi dan Wartawan TVRI Stasiun Padang Agung Nugroho Widi.
Setelah empat jam membelah laut, kami sampai di Base Camp PT MPLC, Pulau Pagai Selatan. Rasa lapar menyebabkan kami melahap suguhan ikan bakar tanpa menunggu nasi masak. Kami dapat kamar penginapan cukup layak plus fasilitas penunjang akomodasi.
Kamis pagi, kami menelusuri pedalaman Pagai Selatan mengikuti misi sosial Direktris PT MPLC. Antara lain mengunjungi dua unit sekolah dasar dan dua unit gereja. Jika lokasi yang hendak dituju tak bisa dimasuki Kapal Kuda Laut, perjalanan diteruskan dengan menaiki beberapa sampan nelayan, selanjutnya berjalan kaki.
Menjelang senja barulah kami kembali ke base camp. Kelelahan lagi-lagi menyebabkan kami disergap kantuk.
Jumat pagi kami kembali ke Kota Padang. Namun, sebelumnya Staf Humas PT MPLC memberi kami uang saku, masing-masing Rp400 ribu. Satu jam menjelang berlabuh, aku teringat kalau hari itu merupakan pelantikan Kapolda Sumbar. Dan, kulihat Bu Direktris sedang duduk santai. Dia kudekati dan kepadanya kutawarkan pemuatan iklan ucapan selamat atas pelantikan kapolda untuk surat kabar tempatku bergabung dan Surat Kabar Semangat. Selvyana mempersilahkanku mengajukan penawaran tertulis.
Langsung saja kutemui Erion Saad yang duduk di bagian belakang kapal dan kuminta dia membuat penawaran. Karena tak ada kertas folio semisal HVS, kuminta Erion menulis penawaran itu pada lembaran notes, baik untuk koranku maupun koran dia, masing-masing dengan tawaran harga Rp1 juta. Selesai, aku pun kembali mendekati Selvyana untuk meminta dia membubuhkan persetujuan.
Selvi sempat berkilah, "Nantilah, kita makan dulu di restoran." Oke, lembaran itu kusimpan kembali. Segera selesai makan, kusodorkan kedua lembar penawaran itu. Selvi langsung men-disposisi "Setuju". Aku kaget, karena dia tidak menawar dengan harga lebih rendah.
Karuan saja, timbul perintah dari otakku dan mulutku berkata, "Bu, harga yang satu juta ini untuk perusahaan surat kabar," Selvi kembali menarik kertas yang akan dia serahkan kepadaku lalu menulis kalimat tambahan: Rp1 juta untuk redaksi + Rp500 ribu untuk wartawan.
Urusan selesai. Dari perjalanan mengikuti PT MPLC aku mengantongi penghasilan bersih Rp1,1 juta. Rinciannya Rp400 ribu dari Staf Humas, Rp500 ribu Direktris dan Rp200 ribu merupakan fee iklan dari perusahaan.
Dua hari kemudian, Minggu siang, aku berangkat menuju Kota Solok, lalu mencari penginapan tak jauh dari Gedung DPRD. Sebab, tak mungkin bagiku berangkat dari rumah Senin pagi. Sebab, jadwal keberangkatan kunker dewan Senin pagi pula. Lagipula, sebelumnya aku belum pernah bertugas di Kota Solok, otomatis aku tak mengenal dan dikenal oleh pejabat dan anggota DPRD kota itu.
Sekitar jam delapan pagi aku melapor ke Sekwan. Aku pun dia minta memilih, mau ikut tim ke Kota Pekanbaru (Riau) atau ke Kota Jambi? Kupilih ke Jambi lantaran memang belum pernah mengunjungi daerah itu. Sedangkan tim ke Pekanbaru diikuti Wartawan Singgalang, Wannedi Saman. Bendarawan DPRD pun membayarkan uang saku untukku Rp1 juta... sialnya dalam bentuk lembaran Rp1.000.
Sempat kelabakan harus menyimpan di mana sepuluh ikat uang kertas -- tas sandangku sudah padat berisi pakaian -- seorang staf DPRD menyarankanku untuk menukar uang itu ke BRI Cabang yang berjarak sekitar 100 meter dari gedung dewan.
Perjalanan menuju Kota Jambi tenyata sangat menyenangkan. Rombongan Tim II berangkat dengan tiga unit mobil Toyota Kijang. Oleh Sekwan yang ikut ke Riau aku ditumpangkan ke mobil BA 5 P yang merupakan mobil dinas Ketua Bappeda Drs Aulizul Syuib. Praktis, aku baru mengenalnya setelah menaiki mobil itu. Begitu juga dengan tiga anggota DPRD yang semobil denganku.
Lantaran aku duduk persis di belakang sopir, praktis aku bisa bebas berbicara dengan Aulizul yang kupanggil Pak Cun karena ia duduk di samping sopir. Ketiga anggota dewan, seorang di sebelahku dan dua lagi di bangku belakang. Sepanjang perjalanan menuju Kota Jambi sekitar 6 jam -- kami sering berhenti untuk makan dan mengopi -- Pak Cun, sopir dan ketiga anggota dewan kubuat tak pernah berhenti tertawa, apalagi sampai tertidur.
Hingga kembali lagi ke Solok, Rabu sore, uang saku yang diberikan Bendaharawan DPRD kepadaku tersimpan utuh. Malah bertambah hingga menjadi Rp2,5 juta. Penyebabnya, ilmu akalku juga, ilmu yang dianugerahkan Tuhan.
Baru saja sampai di Hotel Adipura - Kota Jambi, kulihat beberapa anggota DPRD berbisik-bisik sembari melirik kepadaku. Setelah kutelusuri, rupanya mereka kuatir dengan keikutsertaanku. Selain belum mereka kenal seperti wartawan lain yang bertugas di Kota Solok, surat kabar tempatku bergabung sangat kritis dalam menyajikan pemberitaan.
Guna mengendorkan suasana, aku berinisiatif mengumpulkan kesepuluh anggota dewan dan berkata kepada mereka, bahwa kehadiranku hanya sebatas untuk meliput kegiatan kunker dan hal itu pula yang akan kutulis dan kulaporkan nanti. "Jangan kuatir, saya tidak akan mengamati urusan atau kegiatan pribadi Bapak-bapak dan Ibu anggota dewan yang terhormat, apalagi akan menulisnya dan melaporkan jadi berita."
Karuan saja, kemudian satu persatu anggota dewan itu menemuiku dan memberi uang dengan kilah untuk tambahan permbeli film. Waktu itu aku masih menggunakan kamera atau tustel biasa dan belum mengenal kamera digital. Sedangkan biaya makan-minum dan rokokku mulai berangkat hingga kembali ke Kota Solok ditanggung oleh Ketua Bappeda. Bahkan, malam pertama di Kota Jambi aku dijemput ke hotel dan dijamu oleh Mursyid YM Songsang, koresponden RCTI di kota itu.
===
Ibarat pohon, bersabar itu memang pahit, tetapi buahnya sangat manis
Jumat, 24 April 2015 -- 21.45
Sabtu, 14 Februari 2015
Yurnaldi, Wartawan Hebat Jadi Pedagang Mpek-Mpek
(kumpulan komentar saya di postingan Yurnaldi / facebook)
Jujur saja, ketika pertama kali hendak memesan Mpek-mpek Lamak Bana Ayuk Lina, saya sempat ragu, apa benar Da Nal (sapaan saya kepada Yurnaldi) benar-benar akan membawakan mpek-mpek dan menunggu menunggu di Simpang Lalang? Saya ragu karena ... bukankah Yurnaldi itu wartawan hebat? Apalagi kedatangan saya rada molor akibat macet panjang di kawasan Lubuk Buaya
Ternyata memang, Da Nal benar-benar menunggu. Dari kejauhan sudah terlihat ia duduk di atas sadel sepeda motor. Saya merasa surprise!
Sebab, sebelumnya, saya pernah mengenal banyak oknum wartawan yang angkuh dan sombong. Itulah mengapa dalam berbagai kesempatan saya sering menyatakan, "Saya ini wartawan paling senior di Sumbar, bahkan di Indonesia."
Saya punya alasan untuk menyatakan hal itu! Sejak memulai jadi penulis di KMS Singgalang, Agustus 1985, tak ada seorang pun wartawan senior yang berkenan membina atau membimbing. Jadilah saya merangkak secara otodidak, bahkan hingga kini.
Namun, kesan angkuh dan sombong itu pupus ketika bertemu Da Nal. Saya jadi ingat Prof Khaidir Anwar yang terlihat biasa saja pergi ke kampus naik bis kota dan berdiri pula, bahkan dengan baju lusuh meskipun rapi.
Kali kedua, saya sebenarnya sudah sampai di Simpang Tabing. Tetapi, teringat permintaan isteri sejak beberapa hari terakhir dan mengingat masih sore serta saya pun sudah men-jamak shalat ashar, saya menelepon Da Nal. Dia pun mempersilahkan ke rumah. Saya naik angkot ke Simpang Lalang.
Pertama kali memasuki ..... jalan menuju rumah Da Nal, saya sempat protes dalam hati. Katanya cuma 150 meter. Telapak kaki saya sudah semakin sakit tiap kali dipijakkan. Ternyata tujuh tiang listrik baru sampai di simpang komplek perumahan seperti tanda-tanda yang Da Nal sebutkan. Itu berarti 350 meter.
Tapi tak apa, dorongan ingin mengenal kehidupan Da Nal memicu saya terus melangkah. Ketika bertanya ke warga untuk kedua kali, rupanya saya sudah berada di depan pintu pagar rumah Da Nal. Masuk, kedatangan saya disambut Ayuk Rozalina. Mengucap salam, saya lihat Da Nal sedang memasukkan mpek-mpek lamak bana ke dalam kemasan. Selain untuk saya, katanya juga memenuhi order seseorang di Anduriang.
Semula, saya bermaksud ambil pesanan dan pamit. Namun, Da Nal dan Ayuk Lina 'memaksa' saya duduk dulu sebagai tamu, mencicipi hidangan mpek-mpek lamak bana dan teh hangat.
Ada setengah jam kami bertukar kabar tentang banyak hal. Saya pun pamit dan Da Nal menawarkan hendak mengantar hingga ke jalan raya, tapi saya menolak (begitulah saya, Da Nal, dari dulu paling tidak mau menyusahkan orang, bahkan keluarga sendiri).
Sepuluh menit menjelang sampai Sungailareh, hujan turun dengan sangat lebat. Turun dari angkot, berlari ke teras rumah orang, saya kirim SMS ke rumah (350 meter dari pinggir jalan) agar mengantarkan payung dan sandal jepit. Sepuluh menit kemudian, putri sulung datang membawa dua payung dan sandal jepit.
Alhamdulillah.... meski tubuh bagian belakang basah kuyup karena hjujan disertai angin kencang, mpek-mpek lamak bana tak terkena air karena sudah dikemas Da Nal dengan rapi dan berbungkus dua lapis plastik pula.
Selepas shalat maghrib, isteri saya menghabiskan enam potong mpek-mpek lamak bana, putri sulung tiga potong, putri kedua dua potong dan si kecil Habil satu potong. Lebihnya baru habis sore tadi.
***
Rumah tulisan? Ide yang sangat tepat, Thamrin Husein! Pertama masuk rumah Da Nal, pandangan saya dipukau oleh ratusan buku, sebagian tersusun rapi di setiap celah anak tangga menuju lantai dua yang diberi sekat atau dinding.
Da Nal pantas berjuluk wartawan hebat lantaran gemar membeli dan mengoleksi buku, sekaligus tentu seorang yang suka membaca. Sangat berbeda dengan saya yang tidak begitu suka membeli buku. Kalaupun pernah membeli satu - dua buku, langsung saya abaikan setelah selesai membacanya.
Sebagai mahasiswa abadi Program Super Doktor S.7) Universitas Kehidupan, saya memang juga suka membaca, tetapi apa saja; terkadang koran bekas atau buku-buku yang saya temukan di mana saja. Saya bahkan, sangat jarang membeli koran atau majalah.
Tentang hal ini, saya ingat ancaman yang dilontarkan Da Gusfen Khairul, koordinator Koran Masuk Sekolah (KMS) Singgalang. Katanya, kalau saya tidak mau membeli serta mengedarkan KMS di sekolah, tulisan-tulisan yang saya kirim takkan dia muat lagi (ini kisah semasa saya SMA).
Tetapi, saya memang tidak suka dan tidak bisa, mau bagaimana lagi? Nyatanya, Da Gusfen tetap saja menurunkan / memuat setiap tulisan yang saya kirim dengan cara menitipkan melalui agen Singgalang di Sicincin, bahkan tak satu pun naskah yang saya kirim masuk tong sampah
***
http://www.facebook.com/yurnaldi.raja/posts/10205477328283441?notif_t=comment_mention
Langganan:
Postingan (Atom)
