Rabu, 24 Juni 2015

SEJARAH RINGKAS KEPENULISANKU

PENDAHULUAN

Ingin belajar jurnalistik?

Gampang, asal ada minat atau kemauan. Jurnalistik merupakan karya tulis yang bersifat pelaporan.

Dalam pengertian dasar, contohnya bisa dilihat pada pemberitaan-pemberitaan yang dimuat suratkabar.

Syarat dasar penulisan laporan / berita mesti memuat minimal enam unsur yang dikenal dengan 5W + 1H :

What: apa yang terjadi?

Who: siapa pelaku dan terkait dalam kejadian?

Where: di mana peristiwa terjadi?

When: kapan terjadinya?

Why: mengapa bisa terjadi?

How: bagaimana kejadiannya?

Suatu laporan / berita hendaklah ditulis secara komprehensif / menyeluruh agar pembaca memperoleh informasi yang lengkap alias tidak menyisakan tanda-tanya.

Cara belajar efektif adalah dengan metode ATM BRI (amati, tiru, modifikasi ~ belajar rajin dan intensif) atau dikenal dengan autodidak ~ sebagaimana yang kulakukan semenjak sekolah dasar dengan menulis puisi dan cerpen.

SEKILAS TENTANG DIRIKU

Aku dilahirkan dalam kondisi cacat fisik dan tanpa suara tangisan, Minggu 29 Juni 1969 jam 20.00 WIB, di Provinsi Sumatera Barat. Kaum kerabat pun sepakat untuk mengusungku ke pusara.

Untunglah dukun yang menolong persalinan tidak kehilangan akal. Tubuh dan kepalaku dibenam ke dalam baskom berisi air; terlihatlah gelembung dari hidungku, lalu pecahlah tangis pertamaku (kesaksian yang kudengar dari orang² yang menyaksikan proses kelahiranku dari rahim ibu yang berjuang antara hidup dan mati; menanggungkan rasa sakit tak terkata selama sehari semalam)

SEJARAH KEPENULISANKU

Tulisan-tulisanku awalnya kutulis pada buku tebal (isi 100 halaman), kemudian beredar dari teman ke teman yang ingin membacanya.

Sejarah kepenulisanku di suratkabar bermula sewaktu kelas III SMPN Pakandangan (kini bernama SMPN 1 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman - Provinsi Sumbar), Agustus 1985. Waktu itu guru bahasa Inggris kami, Pak Aniswar (kini almarhum) - yang mengetahui kemampuanku menulis - memperlihatkan sebuah artikel yang dimuat Koran Masuk Sekolah (KMS) Singgalang terbitan Kota Padang, judulnya: Nyontek Penyakit pada Pelajar (aku lupa nama penulisnya).

Kemudian, Pak Aniswar memperlihatkan potongan halaman sebuah majalah terbitan Jakarta yang memuat tulisan dengan judul dan isi yang sama persis dengan nama penulis berbeda. "Man, coba tanggapi artikel yang dimuat KMS ini, siapa yang nyontek sesungguhnya?" pinta Pak Aniswar, sebab pada artikel di KMS penulisnya tidak menyebutkan sumber atau asal kutipan.

Saran Pak Aniswar kuturuti. Artikel tanggapan segera kutulis dan kuketik dengan menumpang pada mesin tik Tata Usaha SMP, kemudian kuserahkan kepada Pak Aniswar.

Beberapa hari kemudian, tulisan itu dimuat KMS yang merupakan bagian atau mengisi rubrik satu halaman tiap Selasa pada Harian Singgalang. Judulnya 'Nyontek Teriak Nyontek' oleh Zakirman, siswa Kelas III/C SMPN Pakandangan.

Semangat kepenulisanku pun terpicu. Pak Anis pun memotivasiku agar terus menulis dan mengisi rubrik yang tersedia pada KMS.

Maka, hampir setiap edisi KMS berikutnya memuat tulisanku; entah opini, puisi atau cerpen. Karena belum punya mesin tik, aku numpang di TU SMP atau di kantor kepala desa sepulang sekolah. Untuk mengirim ke redaksi, aku titip pada Pak Aniswar (semoga Allah SWT menjadikan ini sebagai amal yang pahalanya tak putus-putus mengalir kepada almarhum, aamin!).

Tamat SMP, Juni 1986, aku melamar ke SMA 3 Padang dengan motivasi dekat dengan tiga redaksi suratkabar harian yang terbit waktu itu. Untuk berjaga-jaga, aku pun memasukkan lamaran ke SMA Negeri Sicincin (kini bernama SMAN 1 2x11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman - Provinsi Sumbar). Sayangnya, waktu pengumuman calon siswa yang diterima, aku hanya berada pada posisi cadangan ke-62 pada SMA 3.

Alhasil, akupun melanjutkan pendidikan di SMA Sicincin. Namun, aktivitas kepenulisanku tak surut, tetap menjadi-jadi. Bukan hanya KMS Singgalang yang kukirimi, tetapi juga Redaksi Haluan Minggu. Mulai Agustus 1986 tulisan pertama yang kukirim dimuat Haluan Minggu dengan nama samaran Zastra Certa (Zakirman Susastra Cancer Tanjung).

Kenapa memakai nama samaran? Karena waktu itu aku sempat mendengar, kalau sudah menulis di Singgalang, tak boleh menulis di Haluan. Kedua harian itu konon bersaing. Siasatku sepertinya berhasil. Selain di KMS tiap Selasa, tulisan-tulisanku yang lain juga dimuat Haluan Minggu.Untuk menyiasati agar banyak tulisanku yang dimuat (tentunya dapat honor lebih besar) aku juga memakai nama samaran lain, di antaranya Mustika Zastra.

Untuk mengambilkan honor setiap tanggal 5 bulan berikutnya, aku membuat surat kuasa dari Mustika Zastra kepada Zastra Certa. Cara itu ternyata tokcer juga. Waktu itu, aku masih ingat honor satu tulisan berkisar Rp3.000 untuk artikel / cerita untuk anak dan Rp5.000 untuk cerpen dan rubrik PYMB (Pengalaman yang Masih Berbekas). Rata-rata setiap bulan aku menerima honor berkisar Rp25.000 s/d Rp60.000.-

Memasuki hari pertama semester genap Kelas I SMA, 2 Januari 1987, pihak sekolah mengumumkan kalau ada kiriman Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tentang kelanjutan pemberian beasiswa untukku. Besarnya Rp12 ribu / bulan untuk masa setahun. Aku bisa segera menguangkan termen pertama untuk enam builan. Maka, Sabtu pagi aku menemui Kepala SMPN Pakandangan Drs Syaifullah (sebagai penulis di KMS Singgalang beliau memakai nama Syaiful Ibrahim) dan menyerahkan uang itu kepadanya sembari memohon kesediaan beliau untuk membelikan mesin tik bekas di Kota Padang.

Beliau memintaku datang lagi Senin lusa-nya untuk menjemput mesin tik tersebut. Ternyata, beliau membelikan mesin tik baru seharga Rp100 ribu. Aku sempat kaget karena tak punya uang tambahan. "Tidak apa-apa. Anggaplah itu sebagai wujud simpati Bapak kepada Zakirman," cetus Pak Syaiful yang kemudian menjadi Kepala SMPN 6 Padang, Kepala SMAN Sungai Limau dan pengawas pada Kandepdikbud Kabupaten Padang Pariaman.

Mulai Maret 1987 tulisan-tulisanku pun menghiasi halaman Surat Kabar Mingguan (SKM) Canang, juga terbitan Padang, dengan nama penulis Z Susastra Cancer Tanjung dan Playboy Pattikawa.

Ketika bersekolah di SMA, aku mengirim tulisan ke redaksi Singgalang, Haluan atau Mingguan Canang melalui Pak Zeta (guru SMPN Sicincin yang juga menjadi wartawan Singgalang plus agen ketiga surat kabar tersebut di rumahnya, tak jauh dari Pasar Sicincin). Tulisan-tulisan yang selesai kuketik, kumasukkan ke dalam amplop panjang, kutitip di rumah Pak Zeta (kini almarhum) yang beristrikan Bu Nurjani (guru SDN 1 Sicincin), selanjutnya Pak Zeta atau Bu Nurjani menitipkan ke sopir mobil yang mengantarkan koran Singgalang atau Haluan setiap pagi, atau ke sopir mobil Canang setiap hari Kamis (semoga Allah SWT menjadikan ini sebagai amal yang pahalanya tak putus-putus mengalir kepada almarhum, aamin!).

Tamat SMA, 1989, aku ikut Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan memilih program Psikologi UI dan Sosiologi Unand. Sayangnya, aku tidak diterima. Meski demikian, aktivitas menulisku jalan terus dengan mengirim via Pak Zeta. Ini kulakukan -- jika melalui pos musti pakai prangko plus karena naskah yang kukirim ada beberapa judul dalam satu amplop.

Gagal jadi mahasiswa, Kepala Desa Balai Satu, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, memintaku menjadi Sekretaris Desa. Aktivitasku kemudian lebih banyak berada di kantor desa. Kondisi ini kemudian mendapat pujian Bupati Padang Pariaman 1980 - 1990, Kolonel Inf H Anas Malik,  lantaran aku selalu membuka kantor setiap hari kerja, bahkan juga hari Minggu. Aku dianggap Sekdes teladan. Padahal, aktivitasku di kantor lebih banyak menulis opini, cerpen, puisi atau -- surat cinta. Ini disebabkan tidak banyak penduduk yang datang berurusan. Maklum, penduduk Desa Balai Satu waktu itu hanya berkisar seribu jiwa.

Kemudian, karena suatu sebab, kepala desa tidak dapat menunaikan tugasnya. Maka, untuk kelancaran urusan masyarakat, aku meminta Camat 2x11 Enam Lingkung Drs Maryunas Mahyuddin menerbitkan surat yang menyatakan pengangkatanku sebagai pejabat sementara (pjs) kepala desa.

Juni 1990, aku kembali ikut UMPTN. Kali ini kupilih program studi Jurnalistik Unpad dan Sastra Indonesia Unand. Malam menjelang UMPTN aku menumpang nginap di tempat kost Yulfian Azrial. Bukannya menyiapkan diri, aku malah mengikuti Yum nonton film di bioskop hingga tengah malam. Esoknya, aku bangun kesiangan dan kelimpungan mencari lokasi UMPTN. Alhamdulillah... aku diterima pada pilihan kedua sebagai mahasiswa Sasindo Unand.

Maka, aku pun segera mengumpulkan masyarakat untuk dapat menghadiri rapat mendadak di kantor desa dengan agenda tunggal: pengunduran diriku sebagai pjs kades karena hendak kuliah. Malam itu juga kami memilih pjs kades penggantiku.

Kuliahku hanya berlangsung dua semester, 1990/1991. Aku memilih berhenti lantaran tak kuasa melihat penderitaan ibuku, Zuniar, untuk mencarikan biaya kuliah anaknya ini. Dari minggu ke minggu wajah ibu yang kupanggil One kulihat semakin tua. Memang, aktivitas menulis tetap kujalani tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhanku.

Berhenti kuliah, hidupku sempat amburadul. Aktivitasku menulis sempat terhenti lantaran mesin tik-ku sudah lama rusak. Barulah sekitar Mei 1992 One memberiku uang untuk membeli mesin tik baru.

Selain menulis cerpen, puisi dan opini, sejak SMP aku sebenarnya juga memiliki kemampuan di bidang jurnalistik. Dalam hal ini aku bahkan sempat mengirim berita untuk Suratkabar Harian Singgalang tetapi tak begitu kutekuni. Barulah sekitar Oktober 1992 aku coba lagi mengirim berita tetapi ke Mingguan Canang. Ternyata, berita itu dimuat tetapi tidak mencantumkan kode namaku (zast) pada akhir berita, hanya kode (*).

Hal itu kubicarakan kepada wartawan Canang yang bertugas di Pariaman,  A Basril H alias Da Ujang. Ia menyarankan agar kalau aku mengirim berita lagi cantumkan kode berdua (zastra certa/AB) atau (zast/AB). Ternyata trik itu berhasil! Maka, berita-beritaku semakin banyak yang menghiasi halaman Mingguan Canang setiap edisi.

Sekitar enam bulan kemudian, Redaktur Pelaksana Mingguan Canang Yurman Dahwat memanggilku dan meminta agar aku mengajukan surat lamaran resmi menjadi wartawan. Dengan demikian, Pemimpin Redaksi (Pemred) Nasrul Siddik Sutan Mangkuto punya dasar menerbitkan surat tugas untukku. Atas dasar surat tugas itu aku bisa diusulkan untuk mengikuti ujian masuk menjadi calon anggota (CA) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Yurman pun menyatakan kekagetannya lantaran pada surat lamaran aku menulis nama asli, Zakirman, sesuai ijazah.

Dengan berbekal surat tugas, aku mendaftar untuk ikut ujian PWI. Namun, pendaftaranku ditolak panitia. Penyebabnya, syarat untuk bisa ikut ujian harus sudah 3x perpanjangan surat tugas atau 3x 3 bulan. Mungkin melihat raut kecewa pada wajahku – serta panitia sudah lama mengenalku sebagai penulis – aku diberi kesempatan sebagai peserta cadangan. Dengan kata lain, aku boleh ikut ujian jika ada peserta yang tidak hadir.

Pada hari-H aku datang ke lokasi ujian PWI di Kampus STIE/KBP. Ternyata, hingga ujian segera dimulai, ada sekitar tiga bangku kosong. Aku pun dipersilahkan menempati. Alhamdulillah… sewaktu pengumuman tanda lulus di Gedung PWI Cabang Sumbar, aku malah dinyatakan sebagai peserta terbaik dari sekitar seratusan peserta.

Banyak pengalaman dan lika-liku yang kujalani selama bergabung dengan Mingguan Canang. Aku mengikuti Lokakarya Lingkungan Hidup bagi Wartawan se-Sumatera, 24 – 31 Oktober 1994, sebagai peserta terakhir yang ditawari Pemred – undangan itu telah lusuh ketika sampai di tanganku. Konon, wartawan yang lebih senior menolak mengikuti lokakarya itu lantaran pada undangan panitia menyatakan tidak menyediakan uang saku, kecuali penginapan dan makan.

Di lokasi lokakarya aku sekamar dengan Fadril Aziz Isnaini alias Infai Rajo Imbang  dan berkenalan dengan sekitar 33 wartawan dari 8 provinsi di Sumatera. Suatu hal yang berkesan, waktu malam perpisahan aku melobi Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta, Atmakusumah Astraatmadja, agar berkenan mengundangku mengikuti Program Penyegaran Redaktur (PPR), tetapi dengan beasiswa penuh lantaran aku yakin perusahaan pers tempatku bergabung tidak mampu membayar biayanya Rp1,5 juta/peserta. (Pada brosur kulihat ada tiga pilihan: membayar penuh, membayar 50% atau beasiswa penuh).

Ternyata, permohonan yang kusampaikan secara lisan itu mendapat tanggapan. Buktinya, Sabtu (5/11/1994) siang, Redpel Canang Yurman Dahwat mencariku ke lokasi wisuda ATIP di Gedung Wanita kawasan GOR H Agus Salim. Ia memintaku segera menemui Inyiak (sapaan kami kepada Pemred) lantaran aku harus berangkat ke Jakarta besok pagi. “Tiket Pesawat Mandala Padang – Jakarta sudah dibelikan Inyiak,” kata Yurman.

Waktu itu aku benar-benar kaget. Yurman pun mengaku tak tahu ketika kutanya mengapa Inyiak mengirimku ke Jakarta dan mendadak pula. Tiada pilihan lain, aku pun mendatangi box telepon koin untuk menelepon Inyiak, tetapi rusak semua. Pilihan terakhir, aku naik angkot menuju rumah Inyiak di Wisma Warta Ulak Karang.

Inyiak pun memperlihatkan tiket pesawat yang akan kunaiki untuk pertama kali plus undangan mengikuti PPR (Angkatan) II selama 5 minggu, 7 November – 10 Desember 1994. Barulah teringat olehku lobi Sabtu (30/10) malam kepada Direktur Eksekutif LPDS.

 

Banyak pengalaman dan lika-liku yang kujalani selama bergabung dengan Mingguan Canang. Aku mengikuti Lokakarya Lingkungan Hidup bagi Wartawan se-Sumatera, 24 – 31 Oktober 1994, sebagai peserta terakhir yang ditawari Pemred – undangan itu telah lusuh ketika sampai di tanganku. Konon, wartawan yang lebih senior menolak mengikuti lokakarya itu lantaran pada undangan panitia menyatakan tidak menyediakan uang saku, kecuali penginapan dan makan.

Di lokasi lokakarya aku sekamar dengan Fadril Aziz Isnaini alias Infai Rajo Imbang  dan berkenalan dengan sekitar 33 wartawan dari 8 provinsi di Sumatera. Suatu hal yang berkesan, waktu malam perpisahan aku melobi Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta agar berkenan mengundangku mengikuti Program Penyegaran Redaktur (PPR), tetapi dengan beasiswa penuh lantaran aku yakin perusahaan pers tempatku bergabung tidak mampu membayar biayanya Rp1,5 juta/peserta. (Pada brosur kulihat ada tiga pilihan: membayar penuh, membayar 50% atau beasiswa penuh).

Ternyata, permohonan yang kusampaikan secara lisan itu mendapat tanggapan. Buktinya, Sabtu (5/11/1994) siang, Redaktur Pelaksana Mingguan Canang Yurman Dahwat mencariku ke lokasi wisuda ATIP di Gedung Wanita kawasan GOR H Agus Salim. Ia memintaku segera menemui Inyiak (sapaan kami kepada Pemimpin Umum dan Redaksi Mingguan Canang, Nasrul Siddik Sutan Mangkuto) lantaran aku harus berangkat ke Jakarta besok pagi. “Tiket Pesawat Mandala Padang – Jakarta sudah dibelikan Inyiak,” kata Yurman.

Waktu itu aku benar-benar kaget. Yurman pun mengaku tak tahu ketika kutanya mengapa Inyiak mengirimku ke Jakarta dan mendadak pula. Tiada pilihan lain, aku pun mendatangi box telepon koin untuk menelepon Inyiak, tetapi rusak semua. Pilihan terakhir, aku naik angkot menuju rumah Inyiak di Wisma Warta Ulak Karang.

Alhamdulillah… ternyata Inyiak masih di rumah. Beliau menyerahkan undangan dari LPDS untuk saya yang ditandatangani Atmakusumah. Barulah teringat olehku lobi Sabtu (30/10) malam kepada Direktur Eksekutif LPDS Atmakusumah Astraadmadja. 

Dalam undangan tercantum, saya diundang mengikuti PPR II (angkatan kedua – red) di Gedung Dewan Pers Lantai 8, Jalan Raya Kebon Sirih Nomor 10 Jakarta Pusat, 7 November s/d 10 Desember 1994, dengan fasilitas beasiswa penuh dari Ford Foundation – Manila, Filippina.

“Karena dimulai Senin lusa, angku (kamu) harus berangkat besok. Tiket pesawat sudah ambo (saya – red) belikan,” kata Inyiak sembari menyerahkan selembar tiket Mandala Airlines seharga Rp990 ribu. 

“Untuk bekal angku di Jakarta, ini ambo (saya) beri uang Rp100 ribu. Selanjutnya, ambo akan mengirimkan uang untuk angku melalui Perwakilan Canang di Jakarta, Pak Rusli Dahlan, yang beralamat di Cikini. Selama di Jakarta, angku menginap saja di Wisma Pemda Sumbar, Jalan Matraman. Berikan surat pengantar ini kepada petugas wisma.”

Menjelang dan selama mengikuti PPR II ini banyak kisah suka-duka yang kualami. 

Masih terpana dan bengong, kuterima undangan, tiket dan uang dari Inyiak, lalu pamit pulang ke rumah. Sesampai di kampung menjelang maghrib, aku mengabarkan kepada One (panggilanku kepada ibu) bahwa aku akan berangkat ke Jakarta dengan pesawat terbang jam 12 siang besok dari Bandara Tabing, Padang.

Tak kurang, One pun tampak terpana dan bengong. Ia mengungkapkan semua pakaianku kotor. Oleh karena itu, One menyatakan segera ke sungai di belakang rumah untuk mencuci pakaianku dengan penerangan lampu minyak tanah. 

One pun mempertanyakan apakah aku punya bekal untuk hidup di Jakarta. Aku pun menjelaskan, pemimpin redaksi memberi uang seratus ribu rupiah. Selain itu aku juga baru saja menerima wesel Rp225 ribu dari Redaksi Suara Pembaruan – Jakarta sebagai honor atas pemuatan cerpenku yang berjudul “Pemilihan Bupati”.

Minggu pagi, aku berangkat ke bandara dengan membawa satu tas pakaian lembab atau baru kering air setelah dijemur One semalaman. Ini untuk pertama kali aku akan naik pesawat terbang. Di ruang tunggu bandara aku bertemu Asisten I Setdaprov Sumbar Rajuddin Nuh, ia mengajakku minum kopi di cafe.

Mungkin karena keasyikan berbincang, aku pun jalan beriringan dengan Pak Rajuddin memasuki pesawat, kemudian duduk di sebelahnya di kursi VIP, paling depan di belakang kokpit. Tak lama, pramugari mendatangiku dan meminta memperlihatkan tiket. Ia pun menyatakan, kursi-ku nomor 29 D, jauh di bagian belakang. Tak ayal, terdengar suara bergaung dari sejumlah penumpang, “Hoooii… wartawan sasek (tersesat, salah menempati kursi – red).

Turun di Bandara Soekarno – Hatta setelah terbang 1,5 jam, sesuai pesan Inyiak, aku mencari dan menanyakan Bus Damri dengan trayek melewati Jalan Matraman. Entah karena melihat wajah udik-ku  yang terlihat bengong, seorang sopir menyatakan, Damri ke Matraman sudah habis, yang ada hanya Damri jurusan Gambir. aku pun naik dan disodori tiket oleh knek seharga Rp3.500.

Lantaran baru pertama kali ke Jakarta sejak dewasa (sebelumnya pernah bermukim di ibukota RI ini selama dua tahun, 1974 – 1976), sesampai di Gambir aku kembali bengong. Seorang sopir taksi mendekat dan menanyakan tujuanku. Ketika kusebutkan Wisma Pemda Sumbar – Matraman, ia mempersilahkanku naik dan meminta Rp20 ribu. Aku pun protes dalam bahasa Minang karena terlalu mahal dan menawar Rp10 ribu. Sopir itu menyatakan, “Ini harga awak sama awak”.

Iyalah, daripada bengong, aku pun naik. Eh, ternyata jarak Gambir – Matraman begitu dekat. Rasanya tak cukup 10 menit sudah sampai. Mungkin karena sopir mengambil jalan pintas. aku pun merasa terkecoh justru oleh orang Minang sendiri.

Sesampai di Wisma Pemda ternyata persoalanku belum selesai. Ketika aku memperlihatkan surat pengantar dari Inyak yang antara lain berisi menitipkanku menginap di wisma itu selama 35 hari dengan pembayaran di belakang, petugas menyatakan semua kamar penuh. Aku pun tertegun!

Melihat ada tamu wisma yang kukenal, seorang teman sesama penulis di Koran Singgalang tahun 1980-an, aku pun menemuinya dan mengabarkan persoalan, teman itu malah meledek, “Matilah kau, ini Jakarta, Bung!” 

Begitu juga dua orang lainnya yang kukenal yang terlihat duduk di kursi tamu, Asbon Budinan Haza (budayawan) dan Dr Mestika Zed (dosen IKIP Padang, kini UNP – red), ketika kutemui dan kukabarkan masalahku, pun tidak memberikan solusi.

Lunglai, aku melangkah meninggalkan wisma. Di pinggir Jalan Matraman aku kebingungan, akan ke mana? Sore sudah mendekati senja. Sebelum berangkat dari kampung, aku tak sempat pula menanyakan ke One alamat banyak famili di Jakarta yang bisa kudatangi.

Tiba-tiba terbersit di benakku nama seorang sahabat pena, Yuliarti (21 tahun), dan alamatnya teringat jelas: Jalan Gading Raya II Nomor …. Jakarta 13230. Tetapi, di kawasan mana itu? Aku kembali bingung.

Melihat ada polisi berdiri di depan posnya tak jauh dari wisma, aku melangkah mendekati dan menanyakan di kawasan mana Jalan Gading Raya. Polisi itu mengaku tidak tahu, tetapi dia memanggil rekannya yang duduk di pos. Hingga polisi keenam yang mengelilingiku, tak seorang pun yang tahu di kawasan mana Jalan Gading Raya di Jakarta. Barulah polisi ketujuh yang melangkah dari pos yang menyebutkan: Itu kan di belakang RS Persahabatan, Rawamangun.

Iya, ya… aku jadi ingat. Sebab, dulu, kami pernah menumpang di rumah itu selama setahun, One jadi pembantu di rumah itu. Waktu itu Yuli baru berusia tiga tahun. Yuli kembali kukenal tahun 1993, lalu kami bersahabat pena.

Sesuai petunjuk arah polisi ketujuh, aku melangkah ke Jalan Pramuka, menyeberang dan menyetop taksi. Sopir menanyakan tujuanku, lalu menanyakan di kawasan mana. Dengan santai kujawab, di Rawamangun, belakang Persahabatan. Ketika dia tanya, bayar berapa, kujawab: pakai argo saja, lalu menyandar di kursi belakang laksana seorang boss, maklum berat badanku waktu itu mencapai 76 kg dengan tinggi 165 cm.

Sialnya, sopir yang mengaku asal Makassar itu ternyata lebih cerdik dariku. Sewaktu hendak melewati perempatan di ujung Pramuka, dia bertanya lurus, belok kiri atau kanan? Bengong karena memang tidak tahu, kujawab ambil jalan pintas saja.

Setelah cukup lama mutar-mutar, argo pun terus bergerak melewati angka 25 ribu, barulah sampai di Jalan Rawamangun. Sopir kusuruh bertanya di mana jalan Gading Raya. Alhamdulillah…, pas selepas adzan maghrib barulah sampai rumah yang kutuju. Setelah kuketuk pintu, muncul empat anak lelaki. Aku memperkenalkan nama, menyatakan teman Yuli dan ingin menumpang menginap di rumah itu.

Keempat adik Yuli tampak ragu. Yuli bersama ayah ibunya tidak di rumah karena sedang pergi kondangan, menghadiri resepsi pernikahan kerabat. Aku pun menjelaskan kalau dulu, sebelum mereka lahir – kecuali yang paling besar, Ade – aku pernah setahun di rumah itu. Mereka pun mempersilahkanku masuk. Barulah sekitar jam 22.00 Yuli dan kedua orangtuanya pulang. Mereka menyambutku dengan hangat.

Senin pagi, Yuli mengantarku ke Gedung Dewan Pers. Setelah melakukan registrasi atau pendaftaran, staf LPDS menyatakan kegiatan PPR baru akan dimulai Selasa besok. Yuli pun mengajakku rekreasi ke Taman Monumen Nasional, lalu naik ke puncak Tugu Monas.

Kisah selama mengikuti PPR II tak kalah heroiknya. Sebagai peserta paling muda serta bukan sarjana dan belum jadi redaktur – dari 13 peserta, termasuk dua dari Viet Namh, staf LPDS menulis namaku di kokarde: Drs Zakirman

Alhamdulillah… aku dinyatakan sebagai peserta paling aktif dan paling kritis. Sebaliknya, pimpinan dan staf LPDS juga mengeritik pakaianku yang selalu lusuh dan kumal.

Di PPR II LPDS, aku mengenal banyak tokoh pers nasional yang menjadi narasumber. Di antaranya Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama dan Pendiri Harian Bisnis Indonesia Amir Daud. Pak Amir malah menawari hendak memberikan memo kepada Pemimpin Redaksi Republika Parni Hadi agar menerimaku bergabung jadi wartawan dan staf redaksi di surat kabar yang dia pimpin.

Sayangnya, yang kemudian kusesali, tawaran itu kutolak dengan santun. Waktu itu, aku beralasan tidak sanggup hidup dan bekerja di Jakarta. Sepanjang siang dan malam tubuhku selalu banjir keringat, naik bus berdempetan. Ketika tawaran yang kutolak itu kuceritakan kepada pimpinan dan redaktur SKM Canang, mereka pun turut menyesalkan. Padahal, itu peluang bagus untuk berkarier di Jakarta!

Dengan sesama peserta PPR II aku pun dengan mudah menjadi akrab. Pada minggu kedua, aku meminta Wiwien Sri Sundari (Wiwien Maryanto, wartawati TVRI) agar melobi Menteri Pariwisata supaya menyediakan fasilitas untuk kami pergi ke Kepulauan Seribu.

“Kamu kan wartawan ibukota, Wien, tentu kenal dengan dengan Pak Menteri. Ayo dooong, kami yang dari daerah ini kan ingin juga mengunjungi Pulau Seribu….” Permintaanku didukung oleh para peserta lain yang berasal dari Makassar, Surabaya, Maluku, Timor-Timur dan Viet Namh (di PPR II saya satu-satunya peserta dari Pulau Sumatera).

Alhamdulillah…. Hari Sabtu 2 Desember 1994 pagi kami sudah berkumpul di Pelabuhan Muara Angke. Wiwien berhasil memperoleh fasilitas untuk kami menunjungi Kepulauan Seribu berupa perahu nelayan bermesin tempel tetapi dari Menteri Kehutanan. Tidak apalah! Selain kami peserta PPR II, juga ikut Syubah (DN Aidit) Asa, seorang Perwakilan WWF (LSM Lingkungan Internasional) dan seorang staf LPDS, Nunung. 

Di Kepulauan Seribu kami dapat fasilitas menginap di wisma milik Departemen Kehutanan di Pulau Semak Daun, sekitar 200 meter dari Pulau Pramuka. Hari Sabtu itu kami sempat mengunjungi Pulau Putri (kawasan wisata internasional) dan Pulau Bira Besar. Di Pulau Bira, kami sempat diburu dan diusir para satpam lantaran mengambil dokumen foto plus video lapangan golf.

Senin 4 Desember 2000 aku menyerahkan surat Pernyataan Mengundurkan Diri dari posisi redaktur dan wartawan Canang.

Minggu pertama Desember itu juga aku bergabung dengan Mingguan Padang Pos sebagai wartawan.

Jumat 13 April 2001 aku bergabung dengan Harian Sumbar Mandiri dan Rabu 18 April aku menyatakan pengunduran diri secara lisan dari Padang Pos.

Desember 2001 Sumbar Mandiri berhenti terbit, 14 Januari 2002 aku bergabung dengan Tabloid Berita Mingguan ZAMAN.

Mulai Februari 2010 aku menonaktifkan diri dari ZAMAN dan selama sekitar setahun aku sempat menganggur.

Maret 2011, bergabung dengan www.sumbaronline.com  

Juni 2015, bergabung dengan www.sumbarsatu.com

CERITA TENTANG NAMA

Ibuku bercerita, namaku merupakan pemberian ayahku. Beberapa hari setelah aku lahir, ayah yang kupanggil 'Pa' membawa sebuah gambar pemandangan berbingkai. Pada gambar itu ada tulisan Zakirman lahir hari Minggu 29 Juni 1969 jam 8 malam"

Namun, dalam lampiran Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef tahun 1982 (aku lupa momor dan tanggalnya) tentang penerima beasiswa tahun kedua (SK pertama tahun 1981), namaku tertulis 'Zahirman' tetapi nama sekolah benar: murid kelas V SDN 2 Lubuk Pandan.

Kepala Sekolah-ku waktu itu, Djamaris Dt Perpatih bertanya, apakah aku menerima nama itu? Aku menggeleng. Maka, Pak Djamaris mengirim surat ke menteri untuk meminta agar mengubah namaku kembali menjadi Zakirman'. Konsekuensinya, pencairan dana beasiswa-ku sempat tertunda.

Sewaktu belajar di SMPN Pakandangan, tahun 1985, aku merasa namaku terlalu pasaran lantaran ada beberapa orang yang senama denganku. Maka tercetus dalam pikiranku sebuah rangkaian nama: Zakirman Susastra Cancer Tanjung yang kusingkat menjadi Zastra Certa.

Nama Zastra Certa pernah kupakai sebagai identitas tulisan-tulisanku pada Surat Kabar Haluan - Padang - Agustus 1986 s/d 1992, serta pada media ibukota seperti Majalah Anita Cemerlang.

Namun, dalam workshop kepenulisan, 1993, Budayawan Wisran Hadi mengingatkan, nama samaran itu kelak bisa menyusahkanku jika suatu ketika aku jadi penulis besar dan dapat undangan ke luar negeri. Ia menceritakan pengalaman seorang penyair yang ditolak panitia pengundang di Thailand lantaran namanya di paspor (Agustami) tak sesuai nama populernya yang diundang  (Leon Agusta).

Sejak saat itu, aku memantapkan identitasku sebagai penulis dengan nama Zakirman Tanjung. Namun, ketika mencalonkan diri menjadi anggota DPRD pada Pemilu 2004 sempat timbul masalah. Lantaran di kampung namaku terlanjur populer dengan sebutan Zast, aku kuatir nama Zakirman tak lagi dikenal. Maka, sesuai permintaanku kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), di surat suara namaku tertulis: Zakirman suku Tanjung. alias Zastra Certa.

Masalah terakhir kualami sewaktu dapat undangan berkunjung ke luar negeri dan aku mesti mengurus paspor. Lantaran namaku di ijazah dan akte kelahiran (Zakirman) sedangkan di Buku NIkah, Kartu Keluarga (KK) dan KTP (Zakirman Tanjung), aku sempat berpikir menolak undangan itu. Pasti paspor-ku tak bisa terbit!

Ketika hal itu kuceritakan pada seorang teman, ia pun menelepon kenalannya -- pejabat pada Kantor Imigrasi. Aku pun mengurus paspor dengan mengisi formulir di ruang pejabat itu pada lantai II, bukan pada loket pelayanan di lantai I. Otomatis copy dokumen yang kulampirkan hanya Buku Nikah, KK dan KTP.

Sempat muncul pertanyaan dari staf pejabat Imigrasi yang melayaniku, "Copy ijazah dan akte kelahirannya mana, Pak?"

Dengan santai kujawab, "Kalau harus sekolah dulu baru bisa mengurus paspor, berarti aku batal berangkat Sabtu depan....."

"Ooo... anda wartawan ya?" tanya staf itu. Aku mengangguk.

Besoknya, aku dapat panggilan petugas untuk berfoto. Lalu, print nomor paspor kuterima.

mobile: tzakirman@gmail.com

Jumat, 24 April 2015

TIADA MALANG YANG SEMUJUR INI

Perjalanan profesiku sebagai wartawan sungguh penuh romantika. Entah lantaran aku terlalu bersikukuh pada sikap yang kuyakini benar -- yang menurut teman-teman bahwa aku kelewat idealis -- tak pelak aku pun kerap berhadapan dengan kesulitan demi kesulitan. Meski demikian, aku tetap tidak bisa keluar dari kerangka keyakinanku.

 

 Tahun 1990-an merupakan dasawarsa yang penuh warna dalam catatan karier jurnalistik-ku. Terancam pembunuhan, dapat penghargaan hingga berkali-kali memperoleh berkah atas peluang yang ditolak para wartawan senior.

 

Kali ini aku ingin menceritakan pengalaman mengecewakan yang ternyata berakhir menyenangkan. Itulah sebabnya mengapa catatan ini kuberi judul: Tiada Malang yang Semujur Ini.

 

Senin pagi itu, seperti biasanya, aku berangkat dari rumah menuju kantor bupati. Seperti biasanya juga, unit kerja pertama yang kutuju adalah ruang Bagian Humas (Hubungan Masyarakat). Namun, pintu ruangan itu tertutup dan terkunci. Aku jadi bertanya-tanya, ke mana mereka?

 

Dari staf bagian lain aku pun memperoleh informasi, Bagian Humas pergi mengikuti kunjungan kerja bupati ke Kepulauan Mentawai dengan mengajak serta sejumlah wartawan. Hmmm... berarti mereka sengaja tidak mengajakku! Padahal, hari Sabtu sebelumnya aku masih ke Bagian Humas.

 

Kecewa memang, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kususul pun mereka ke Pelabuhan Nusantara - Bungus tak ada gunanya. Toh, aku tidak diajak. Lagipula, kapal yang mereka tumpangi tentu sudah berangkat. Ah, biarlah! Mungkin ada hal yang tidak disenangi Kepala Bagian Humas atas pemberitaanku.

 

Siangnya, aku berangkat ke redaksi surat kabar mingguan tempatku bergabung di Kota Padang. Seperti biasa, tujuanku ke redaksi untuk menyerahkan beberapa naskah berita yang sudah kutulis di rumah berikut foto pendukung. Selain itu, juga menulis naskah berita yang kuperoleh hari itu.

 

Menjelang sore, pemimpin redaksi memanggilku ke ruangannya. Ternyata dalam ruangan itu sudah ada dua orang tamu yang kemudian kuketahui adalah Staf PT Minas Pagai Lumber Coorporation (MPLC). Staf itu menyampaikan surat permintaan wartawan guna mendampingi Direktris PT MPLC Selvyana Sofjan Husein yang akan berkunjung ke Kepulauan Mentawai, tepatnya ke Pulau Pagai Selatan, Rabu s/d Jumat. Pemimpin redaksi menugaskanku mengikuti kunjungan itu.

 

Tak lama setelah Staf PT MPLC meninggalkan redaksi, datang tamu berikutnya, yakni Sekretaris DPRD Kota Solok. Sekwan yang tak kuingat lagi namanya itu juga meminta wartawan untuk mendampingi kunjungan kerja (kunker) dewan ke luar provinsi, Senin s/d Rabu depan. Lantaran wartawan yang stand by di redaksi sore itu, lagi-lagi pemimpin redaksi menugaskanku untuk mengikuti kunjungan itu.

 

Tak selesai sampai di situ, menjelang maghrib datang lagi tamu ketiga yang juga meminta wartawan. Tamu ketiga adalah Humas Depot Logistik (Dolog) Sumbar. Ia meminta wartawan untuk mendampingi Kepala Dolog Drs Muslim Kasim Ak (kini Wakil Gubernur Sumbar) melakukan kunjungan kerja ke Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Selasa besok. Namun, karena jarak tempuh cukup jauh, mencapai 200 km, rombongan berangkat malam itu juga dan dijadwalkan menginap di sebuah hotel di Kota Bukittinggi.

 

Karena tak punya pilihan lain, otomatis penugasan itu tertuju kepadaku. Kepada Humas Dolog kukatakan, aku akan menunggunya di Puncak Kiambang karena aku harus pulang dulu ke rumah (kampungku berada di kawasan Jalan Raya Padang - Bukittinggi km 44).

 

Dalam perjalanan pulang ke rumah aku tercenung di atas bus: Tuhan benar-benar Mahakuasa. Dia punya rencana yang tidak diketahui hamba-hambaNya. Mungkin karena aku bersabar ketika mengetahui ditinggalkan Bagian Humas Kantor Bupati, hari itu juga Tuhan menggantinya dengan tiga penugasan berturut-turut. Mahabenar-lah FirmanNya dalam Al-Qur'an surah ke-2 Al-Baqarah ayat 153 .... Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

 

Sesampai di rumah, aku segera berganti pakaian dan memasukkan satu stel pakaian pengganti ke dalam tas sandang, lalu berangkat menuju Puncak Kiambang. Sekitar jam 21.30 mobil Humas Dolog menyinggahiku dan kami berangkat menuju Kota Bukittinggi. Keesokan paginya kami bergabung dan konvoi dengan mobil Kepala Dolog menuju Lubuk Sikaping.

 

Usai acara di kantor bupati, Selasa siang, Kepala Dolog tidak langsung kembali ke Kota Padang tetapi justru mengarah ke Pasaman Barat via Talu lantaran ada pula yang hendak dia tinjau ke kawasan itu. Otomatis Humas terpaksa mengikuti. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, jam berapalah nanti akan sampai di rumah? Padahal besok pagi aku harus berangkat ke Mentawai mendampingi Direktris PT MPLC.

 

Di Pasaman Barat, Kepala Dolog memanggilku agar mendekat ke mobilnya. Ternyata dia memberiku uang Rp200 ribu. Ahaa... aku terkesima. Kalau sekiranya aku diajak Humas Kantor Bupati, untuk tiga hari perjalanan paling mendapat uang saku Rp150 ribu. Untuk satu penugasan saja aku sudah untung Rp50 ribu.

 

Ternyata memang aku baru sampai kembali di rumah sudah menjelang tengah malam. Kelelahan menyebabkanku tertidur pulas. Rabu pagi, aku buru-buru berangkat ke Kota Padang. Dari Terminal Lintas Andalas aku naik taksi ke Kantor PT MPLC. Namun, menurut seorang staf, rombongan sudah setengah jam lalu berangkat ke Pelabuhan Muara. Yaa, aku ketinggalan!

 

Tak menyerah begitu saja, aku kembali menyetop taksi dan menyuruh sopir ngebut menuju Pelabuhan Muara. Alhamdulillah... meski ketika menapaki dermaga anak buah kapal (ABK) Kuda Laut sudah membuka tali pengikat kapal, aku masih bisa melompat masuk kapal.

 

Di atas kapal cukup lama aku bengong sendiri lantaran tidak seorang pun yang kukenal. Tapi, tak masalah, yang penting aku ikut, terlebih seorang Staf MPLC mempersilahkanku duduk setelah kepada kuperlihatkan undangan mengikuti kegiatan itu yang sudah di-disposisi pemimpin redaksi. Kemudian, baru aku berkenalan dengan tiga wartawan lain yang juga ikut. Mereka adalah wartawan Harian Semangat Erion Saad, Wartawan LKBN Antara Riza Mulyadi dan Wartawan TVRI Stasiun Padang Agung Nugroho Widi.

 

Setelah empat jam membelah laut, kami sampai di Base Camp PT MPLC, Pulau Pagai Selatan. Rasa lapar menyebabkan kami melahap suguhan ikan bakar tanpa menunggu nasi masak. Kami dapat kamar penginapan cukup layak plus fasilitas penunjang akomodasi.

 

Kamis pagi, kami menelusuri pedalaman Pagai Selatan mengikuti misi sosial Direktris PT MPLC. Antara lain mengunjungi dua unit sekolah dasar dan dua unit gereja. Jika lokasi yang hendak dituju tak bisa dimasuki Kapal Kuda Laut, perjalanan diteruskan dengan menaiki beberapa sampan nelayan, selanjutnya berjalan kaki.

 

Menjelang senja barulah kami kembali ke base camp. Kelelahan lagi-lagi menyebabkan kami disergap kantuk.

 

Jumat pagi kami kembali ke Kota Padang. Namun, sebelumnya Staf Humas PT MPLC memberi kami uang saku, masing-masing Rp400 ribu. Satu jam menjelang berlabuh, aku teringat kalau hari itu merupakan pelantikan Kapolda Sumbar. Dan, kulihat Bu Direktris sedang duduk santai. Dia kudekati dan kepadanya kutawarkan pemuatan iklan ucapan selamat atas pelantikan kapolda untuk surat kabar tempatku bergabung dan Surat Kabar Semangat. Selvyana mempersilahkanku mengajukan penawaran tertulis.

 

Langsung saja kutemui Erion Saad yang duduk di bagian belakang kapal dan kuminta dia membuat penawaran. Karena tak ada kertas folio semisal HVS, kuminta Erion menulis penawaran itu pada lembaran notes, baik untuk koranku maupun koran dia, masing-masing dengan tawaran harga Rp1 juta. Selesai, aku pun kembali mendekati Selvyana untuk meminta dia membubuhkan persetujuan.

 

Selvi sempat berkilah, "Nantilah, kita makan dulu di restoran." Oke, lembaran itu kusimpan kembali. Segera selesai makan, kusodorkan kedua lembar penawaran itu. Selvi langsung men-disposisi "Setuju". Aku kaget, karena dia tidak menawar dengan harga lebih rendah.

 

Karuan saja, timbul perintah dari otakku dan mulutku berkata, "Bu, harga yang satu juta ini untuk perusahaan surat kabar," Selvi kembali menarik kertas yang akan dia serahkan kepadaku lalu menulis kalimat tambahan: Rp1 juta untuk redaksi + Rp500 ribu untuk wartawan.

 

Urusan selesai. Dari perjalanan mengikuti PT MPLC aku mengantongi penghasilan bersih Rp1,1 juta. Rinciannya Rp400 ribu dari Staf Humas, Rp500 ribu Direktris dan Rp200 ribu merupakan fee iklan dari perusahaan.

 

Dua hari kemudian, Minggu siang, aku berangkat menuju Kota Solok, lalu mencari penginapan tak jauh dari Gedung DPRD. Sebab, tak mungkin bagiku berangkat dari rumah Senin pagi. Sebab, jadwal keberangkatan kunker dewan Senin pagi pula. Lagipula, sebelumnya aku belum pernah bertugas di Kota Solok, otomatis aku tak mengenal dan dikenal oleh pejabat dan anggota DPRD kota itu.

 

Sekitar jam delapan pagi aku melapor ke Sekwan. Aku pun dia minta memilih, mau ikut tim ke Kota Pekanbaru (Riau) atau ke Kota Jambi? Kupilih ke Jambi lantaran memang belum pernah mengunjungi daerah itu. Sedangkan tim ke Pekanbaru diikuti Wartawan Singgalang, Wannedi Saman. Bendarawan DPRD pun membayarkan uang saku untukku Rp1 juta... sialnya dalam bentuk lembaran Rp1.000.

 

Sempat kelabakan harus menyimpan di mana sepuluh ikat uang kertas -- tas sandangku sudah padat berisi pakaian -- seorang staf DPRD menyarankanku untuk menukar uang itu ke BRI Cabang yang berjarak sekitar 100 meter dari gedung dewan.

 

Perjalanan menuju Kota Jambi tenyata sangat menyenangkan. Rombongan Tim II berangkat dengan tiga unit mobil Toyota Kijang. Oleh Sekwan yang ikut ke Riau aku ditumpangkan ke mobil BA 5 P yang merupakan mobil dinas Ketua Bappeda Drs Aulizul Syuib. Praktis, aku baru mengenalnya setelah menaiki mobil itu. Begitu juga dengan tiga anggota DPRD yang semobil denganku.

 

 Lantaran aku duduk persis di belakang sopir, praktis aku bisa bebas berbicara dengan Aulizul yang kupanggil Pak Cun karena ia duduk di samping sopir. Ketiga anggota dewan, seorang di sebelahku dan dua lagi di bangku belakang. Sepanjang perjalanan menuju Kota Jambi sekitar 6 jam -- kami sering berhenti untuk makan dan mengopi -- Pak Cun, sopir dan ketiga anggota dewan kubuat tak pernah berhenti tertawa, apalagi sampai tertidur.

 

Hingga kembali lagi ke Solok, Rabu sore, uang saku yang diberikan Bendaharawan DPRD kepadaku tersimpan utuh. Malah bertambah hingga menjadi Rp2,5 juta. Penyebabnya, ilmu akalku juga, ilmu yang dianugerahkan Tuhan.

 

Baru saja sampai di Hotel Adipura - Kota Jambi, kulihat beberapa anggota DPRD berbisik-bisik sembari melirik kepadaku. Setelah kutelusuri, rupanya mereka kuatir dengan keikutsertaanku. Selain belum mereka kenal seperti wartawan lain yang bertugas di Kota Solok, surat kabar tempatku bergabung sangat kritis dalam menyajikan pemberitaan.

 

Guna mengendorkan suasana, aku berinisiatif mengumpulkan kesepuluh anggota dewan dan berkata kepada mereka, bahwa kehadiranku hanya sebatas untuk meliput kegiatan kunker dan hal itu pula yang akan kutulis dan kulaporkan nanti. "Jangan kuatir, saya tidak akan mengamati urusan atau kegiatan pribadi Bapak-bapak dan Ibu anggota dewan yang terhormat, apalagi akan menulisnya dan melaporkan jadi berita."

 

Karuan saja, kemudian satu persatu anggota dewan itu menemuiku dan memberi uang dengan kilah untuk tambahan permbeli film. Waktu itu aku masih menggunakan kamera atau tustel biasa dan belum mengenal kamera digital. Sedangkan biaya makan-minum dan rokokku mulai berangkat hingga kembali ke Kota Solok ditanggung oleh Ketua Bappeda. Bahkan, malam pertama di Kota Jambi aku dijemput ke hotel dan dijamu oleh Mursyid YM Songsang, koresponden RCTI di kota itu.

===

Ibarat pohon, bersabar itu memang pahit, tetapi buahnya sangat manis

Jumat, 24 April 2015 -- 21.45

Sabtu, 14 Februari 2015

Yurnaldi, Wartawan Hebat Jadi Pedagang Mpek-Mpek

(kumpulan komentar saya di postingan Yurnaldi / facebook)

Jujur saja, ketika pertama kali hendak memesan Mpek-mpek Lamak Bana Ayuk Lina, saya sempat ragu, apa benar Da Nal (sapaan saya kepada Yurnaldi) benar-benar akan membawakan mpek-mpek dan menunggu menunggu di Simpang Lalang? Saya ragu karena ... bukankah Yurnaldi itu wartawan hebat? Apalagi kedatangan saya rada molor akibat macet panjang di kawasan Lubuk Buaya

Ternyata memang, Da Nal benar-benar menunggu. Dari kejauhan sudah terlihat ia duduk di atas sadel sepeda motor. Saya merasa surprise!

Sebab, sebelumnya, saya pernah mengenal banyak oknum wartawan yang angkuh dan sombong. Itulah mengapa dalam berbagai kesempatan saya sering menyatakan, "Saya ini wartawan paling senior di Sumbar, bahkan di Indonesia."

Saya punya alasan untuk menyatakan hal itu! Sejak memulai jadi penulis di KMS Singgalang, Agustus 1985, tak ada seorang pun wartawan senior yang berkenan membina atau membimbing. Jadilah saya merangkak secara otodidak, bahkan hingga kini.

Namun, kesan angkuh dan sombong itu pupus ketika bertemu Da Nal. Saya jadi ingat Prof Khaidir Anwar yang terlihat biasa saja pergi ke kampus naik bis kota dan berdiri pula, bahkan dengan baju lusuh meskipun rapi.

Kali kedua, saya sebenarnya sudah sampai di Simpang Tabing. Tetapi, teringat permintaan isteri sejak beberapa hari terakhir dan mengingat masih sore serta saya pun sudah men-jamak shalat ashar, saya menelepon Da Nal. Dia pun mempersilahkan ke rumah. Saya naik angkot ke Simpang Lalang.

Pertama kali memasuki ..... jalan menuju rumah Da Nal, saya sempat protes dalam hati. Katanya cuma 150 meter. Telapak kaki saya sudah semakin sakit tiap kali dipijakkan. Ternyata tujuh tiang listrik baru sampai di simpang komplek perumahan seperti tanda-tanda yang Da Nal sebutkan. Itu berarti 350 meter.

Tapi tak apa, dorongan ingin mengenal kehidupan Da Nal memicu saya terus melangkah. Ketika bertanya ke warga untuk kedua kali, rupanya saya sudah berada di depan pintu pagar rumah Da Nal. Masuk, kedatangan saya disambut Ayuk Rozalina. Mengucap salam, saya lihat Da Nal sedang memasukkan mpek-mpek lamak bana ke dalam kemasan. Selain untuk saya, katanya juga memenuhi order seseorang di Anduriang.

Semula, saya bermaksud ambil pesanan dan pamit. Namun, Da Nal dan Ayuk Lina 'memaksa' saya duduk dulu sebagai tamu, mencicipi hidangan mpek-mpek lamak bana dan teh hangat.

Ada setengah jam kami bertukar kabar tentang banyak hal. Saya pun pamit dan Da Nal menawarkan hendak mengantar hingga ke jalan raya, tapi saya menolak (begitulah saya, Da Nal, dari dulu paling tidak mau menyusahkan orang, bahkan keluarga sendiri).

Sepuluh menit menjelang sampai Sungailareh, hujan turun dengan sangat lebat. Turun dari angkot, berlari ke teras rumah orang, saya kirim SMS ke rumah (350 meter dari pinggir jalan) agar mengantarkan payung dan sandal jepit. Sepuluh menit kemudian, putri sulung datang membawa dua payung dan sandal jepit.

Alhamdulillah.... meski tubuh bagian belakang basah kuyup karena hjujan disertai angin kencang, mpek-mpek lamak bana tak terkena air karena sudah dikemas Da Nal dengan rapi dan berbungkus dua lapis plastik pula.

Selepas shalat maghrib, isteri saya menghabiskan enam potong mpek-mpek lamak bana, putri sulung tiga potong, putri kedua dua potong dan si kecil Habil satu potong. Lebihnya baru habis sore tadi.

***

Rumah tulisan? Ide yang sangat tepat, Thamrin Husein! Pertama masuk rumah Da Nal, pandangan saya dipukau oleh ratusan buku, sebagian tersusun rapi di setiap celah anak tangga menuju lantai dua yang diberi sekat atau dinding.

Da Nal pantas berjuluk wartawan hebat lantaran gemar membeli dan mengoleksi buku, sekaligus tentu seorang yang suka membaca. Sangat berbeda dengan saya yang tidak begitu suka membeli buku. Kalaupun pernah membeli satu - dua buku, langsung saya abaikan setelah selesai membacanya.

Sebagai mahasiswa abadi Program Super Doktor S.7) Universitas Kehidupan, saya memang juga suka membaca, tetapi apa saja; terkadang koran bekas atau buku-buku yang saya temukan di mana saja. Saya bahkan, sangat jarang membeli koran atau majalah.

Tentang hal ini, saya ingat ancaman yang dilontarkan Da Gusfen Khairul, koordinator Koran Masuk Sekolah (KMS) Singgalang. Katanya, kalau saya tidak mau membeli serta mengedarkan KMS di sekolah, tulisan-tulisan yang saya kirim takkan dia muat lagi (ini kisah semasa saya SMA).

Tetapi, saya memang tidak suka dan tidak bisa, mau bagaimana lagi? Nyatanya, Da Gusfen tetap saja menurunkan / memuat setiap tulisan yang saya kirim dengan cara menitipkan melalui agen Singgalang di Sicincin, bahkan tak satu pun naskah yang saya kirim masuk tong sampah

***

http://www.facebook.com/yurnaldi.raja/posts/10205477328283441?notif_t=comment_mention