PENDAHULUAN
Ingin
belajar jurnalistik?
Gampang,
asal ada minat atau kemauan. Jurnalistik merupakan karya tulis yang bersifat
pelaporan.
Dalam
pengertian dasar, contohnya bisa dilihat pada pemberitaan-pemberitaan yang
dimuat suratkabar.
Syarat dasar
penulisan laporan / berita mesti memuat minimal enam unsur yang dikenal dengan
5W + 1H :
What: apa
yang terjadi?
Who: siapa
pelaku dan terkait dalam kejadian?
Where: di
mana peristiwa terjadi?
When: kapan
terjadinya?
Why: mengapa
bisa terjadi?
How:
bagaimana kejadiannya?
Suatu
laporan / berita hendaklah ditulis secara komprehensif / menyeluruh agar
pembaca memperoleh informasi yang lengkap alias tidak menyisakan tanda-tanya.
Cara belajar
efektif adalah dengan metode ATM BRI (amati, tiru, modifikasi ~ belajar rajin
dan intensif) atau dikenal dengan autodidak ~ sebagaimana yang kulakukan
semenjak sekolah dasar dengan menulis puisi dan cerpen.
SEKILAS TENTANG DIRIKU
Aku dilahirkan
dalam kondisi cacat fisik dan tanpa suara tangisan, Minggu 29 Juni 1969 jam 20.00 WIB, di Provinsi Sumatera Barat. Kaum
kerabat pun sepakat untuk mengusungku ke pusara.
Untunglah
dukun yang menolong persalinan tidak kehilangan akal. Tubuh dan kepalaku
dibenam ke dalam baskom berisi air; terlihatlah gelembung dari hidungku, lalu
pecahlah tangis pertamaku (kesaksian yang kudengar dari orang² yang menyaksikan
proses kelahiranku dari rahim ibu yang berjuang antara hidup dan mati;
menanggungkan rasa sakit tak terkata selama sehari semalam)
SEJARAH KEPENULISANKU
Tulisan-tulisanku
awalnya kutulis pada buku tebal (isi 100 halaman), kemudian beredar dari teman
ke teman yang ingin membacanya.
Sejarah
kepenulisanku di suratkabar bermula sewaktu kelas III SMPN Pakandangan (kini
bernama SMPN 1 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman - Provinsi Sumbar),
Agustus 1985. Waktu itu guru bahasa Inggris kami, Pak Aniswar (kini
almarhum) - yang mengetahui kemampuanku menulis - memperlihatkan sebuah artikel
yang dimuat Koran Masuk Sekolah (KMS) Singgalang terbitan Kota Padang,
judulnya: Nyontek Penyakit pada Pelajar (aku lupa nama penulisnya).
Kemudian,
Pak Aniswar memperlihatkan potongan halaman sebuah majalah terbitan Jakarta
yang memuat tulisan dengan judul dan isi yang sama persis dengan nama penulis
berbeda. "Man, coba tanggapi artikel yang dimuat KMS ini, siapa
yang nyontek sesungguhnya?" pinta Pak Aniswar, sebab pada artikel di KMS
penulisnya tidak menyebutkan sumber atau asal kutipan.
Saran Pak
Aniswar kuturuti. Artikel tanggapan segera kutulis dan kuketik dengan menumpang
pada mesin tik Tata Usaha SMP, kemudian kuserahkan kepada Pak Aniswar.
Beberapa
hari kemudian, tulisan itu dimuat KMS yang merupakan bagian atau mengisi rubrik
satu halaman tiap Selasa pada Harian Singgalang. Judulnya 'Nyontek Teriak
Nyontek' oleh Zakirman, siswa Kelas III/C SMPN Pakandangan.
Semangat
kepenulisanku pun terpicu. Pak Anis pun memotivasiku agar terus menulis dan
mengisi rubrik yang tersedia pada KMS.
Maka, hampir
setiap edisi KMS berikutnya memuat tulisanku; entah opini, puisi atau cerpen.
Karena belum punya mesin tik, aku numpang di TU SMP atau di kantor kepala desa
sepulang sekolah. Untuk mengirim ke redaksi, aku titip pada Pak Aniswar (semoga
Allah SWT menjadikan ini sebagai amal yang pahalanya tak putus-putus mengalir
kepada almarhum, aamin!).
Tamat SMP,
Juni 1986, aku melamar ke SMA 3 Padang dengan motivasi dekat dengan tiga
redaksi suratkabar harian yang terbit waktu itu. Untuk berjaga-jaga, aku pun
memasukkan lamaran ke SMA Negeri Sicincin (kini bernama SMAN 1 2x11 Enam
Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman - Provinsi Sumbar). Sayangnya, waktu
pengumuman calon siswa yang diterima, aku hanya berada pada posisi cadangan
ke-62 pada SMA 3.
Alhasil,
akupun melanjutkan pendidikan di SMA Sicincin. Namun, aktivitas kepenulisanku
tak surut, tetap menjadi-jadi. Bukan hanya KMS Singgalang yang kukirimi,
tetapi juga Redaksi Haluan Minggu. Mulai Agustus 1986 tulisan pertama
yang kukirim dimuat Haluan Minggu dengan nama samaran Zastra Certa (Zakirman
Susastra Cancer Tanjung).
Kenapa
memakai nama samaran? Karena waktu itu aku sempat mendengar, kalau sudah
menulis di Singgalang, tak boleh menulis di Haluan. Kedua harian itu konon
bersaing. Siasatku sepertinya berhasil. Selain di KMS tiap Selasa, tulisan-tulisanku
yang lain juga dimuat Haluan Minggu.Untuk menyiasati agar banyak tulisanku yang
dimuat (tentunya dapat honor lebih besar) aku juga memakai nama samaran lain,
di antaranya Mustika Zastra.
Untuk
mengambilkan honor setiap tanggal 5 bulan berikutnya, aku membuat surat kuasa
dari Mustika Zastra kepada Zastra Certa. Cara itu ternyata tokcer juga. Waktu
itu, aku masih ingat honor satu tulisan berkisar Rp3.000 untuk artikel / cerita
untuk anak dan Rp5.000 untuk cerpen dan rubrik PYMB (Pengalaman yang Masih
Berbekas). Rata-rata setiap bulan aku menerima honor berkisar Rp25.000 s/d
Rp60.000.-
Memasuki
hari pertama semester genap Kelas I SMA, 2 Januari 1987, pihak sekolah
mengumumkan kalau ada kiriman Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Mendikbud) tentang kelanjutan pemberian beasiswa untukku. Besarnya
Rp12 ribu / bulan untuk masa setahun. Aku bisa segera menguangkan termen
pertama untuk enam builan. Maka, Sabtu pagi aku menemui Kepala SMPN Pakandangan
Drs Syaifullah (sebagai penulis di KMS Singgalang beliau memakai nama
Syaiful Ibrahim) dan menyerahkan uang itu kepadanya sembari memohon kesediaan
beliau untuk membelikan mesin tik bekas di Kota Padang.
Beliau
memintaku datang lagi Senin lusa-nya untuk menjemput mesin tik tersebut.
Ternyata, beliau membelikan mesin tik baru seharga Rp100 ribu. Aku sempat kaget
karena tak punya uang tambahan. "Tidak apa-apa. Anggaplah itu sebagai
wujud simpati Bapak kepada Zakirman," cetus Pak Syaiful yang kemudian
menjadi Kepala SMPN 6 Padang, Kepala SMAN Sungai Limau dan pengawas pada
Kandepdikbud Kabupaten Padang Pariaman.
Mulai Maret
1987 tulisan-tulisanku pun menghiasi halaman Surat Kabar Mingguan (SKM) Canang,
juga terbitan Padang, dengan nama penulis Z Susastra Cancer Tanjung dan Playboy
Pattikawa.
Ketika
bersekolah di SMA, aku mengirim tulisan ke redaksi Singgalang, Haluan
atau Mingguan Canang melalui Pak Zeta (guru SMPN Sicincin yang juga
menjadi wartawan Singgalang plus agen ketiga surat kabar tersebut di rumahnya,
tak jauh dari Pasar Sicincin). Tulisan-tulisan yang selesai kuketik, kumasukkan
ke dalam amplop panjang, kutitip di rumah Pak Zeta (kini almarhum) yang
beristrikan Bu Nurjani (guru SDN 1 Sicincin), selanjutnya Pak Zeta atau
Bu Nurjani menitipkan ke sopir mobil yang mengantarkan koran Singgalang atau
Haluan setiap pagi, atau ke sopir mobil Canang setiap hari Kamis (semoga Allah
SWT menjadikan ini sebagai amal yang pahalanya tak putus-putus mengalir kepada
almarhum, aamin!).
Tamat SMA,
1989, aku ikut Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan memilih
program Psikologi UI dan Sosiologi Unand. Sayangnya, aku tidak diterima. Meski
demikian, aktivitas menulisku jalan terus dengan mengirim via Pak Zeta. Ini
kulakukan -- jika melalui pos musti pakai prangko plus karena naskah yang
kukirim ada beberapa judul dalam satu amplop.
Gagal jadi
mahasiswa, Kepala Desa Balai Satu, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, memintaku
menjadi Sekretaris Desa. Aktivitasku kemudian lebih banyak berada di kantor
desa. Kondisi ini kemudian mendapat pujian Bupati Padang Pariaman 1980 - 1990, Kolonel
Inf H Anas Malik, lantaran aku selalu membuka kantor setiap hari
kerja, bahkan juga hari Minggu. Aku dianggap Sekdes teladan. Padahal,
aktivitasku di kantor lebih banyak menulis opini, cerpen, puisi atau -- surat
cinta. Ini disebabkan tidak banyak penduduk yang datang berurusan. Maklum,
penduduk Desa Balai Satu waktu itu hanya berkisar seribu jiwa.
Kemudian,
karena suatu sebab, kepala desa tidak dapat menunaikan tugasnya. Maka, untuk
kelancaran urusan masyarakat, aku meminta Camat 2x11 Enam Lingkung Drs
Maryunas Mahyuddin menerbitkan surat yang menyatakan pengangkatanku sebagai
pejabat sementara (pjs) kepala desa.
Juni 1990,
aku kembali ikut UMPTN. Kali ini kupilih program studi Jurnalistik Unpad dan
Sastra Indonesia Unand. Malam menjelang UMPTN aku menumpang nginap di tempat
kost Yulfian Azrial. Bukannya menyiapkan diri, aku malah mengikuti Yum
nonton film di bioskop hingga tengah malam. Esoknya, aku bangun kesiangan dan
kelimpungan mencari lokasi UMPTN. Alhamdulillah... aku diterima pada
pilihan kedua sebagai mahasiswa Sasindo Unand.
Maka, aku
pun segera mengumpulkan masyarakat untuk dapat menghadiri rapat mendadak di
kantor desa dengan agenda tunggal: pengunduran diriku sebagai pjs kades karena
hendak kuliah. Malam itu juga kami memilih pjs kades penggantiku.
Kuliahku
hanya berlangsung dua semester, 1990/1991. Aku memilih berhenti lantaran tak
kuasa melihat penderitaan ibuku, Zuniar, untuk mencarikan biaya
kuliah anaknya ini. Dari minggu ke minggu wajah ibu yang kupanggil One kulihat
semakin tua. Memang, aktivitas menulis tetap kujalani tetapi tidak mampu
memenuhi kebutuhanku.
Berhenti
kuliah, hidupku sempat amburadul. Aktivitasku menulis sempat terhenti lantaran
mesin tik-ku sudah lama rusak. Barulah sekitar Mei 1992 One memberiku uang
untuk membeli mesin tik baru.
Selain
menulis cerpen, puisi dan opini, sejak SMP aku sebenarnya juga memiliki
kemampuan di bidang jurnalistik. Dalam hal ini aku bahkan sempat mengirim
berita untuk Suratkabar Harian Singgalang tetapi tak begitu kutekuni.
Barulah sekitar Oktober 1992 aku coba lagi mengirim berita tetapi ke Mingguan Canang.
Ternyata, berita itu dimuat tetapi tidak mencantumkan kode namaku (zast) pada
akhir berita, hanya kode (*).
Hal itu
kubicarakan kepada wartawan Canang yang bertugas di Pariaman, A
Basril H alias Da Ujang. Ia menyarankan agar kalau aku mengirim berita lagi
cantumkan kode berdua (zastra certa/AB) atau (zast/AB). Ternyata trik itu
berhasil! Maka, berita-beritaku semakin banyak yang menghiasi halaman Mingguan Canang
setiap edisi.
Sekitar enam
bulan kemudian, Redaktur Pelaksana Mingguan Canang Yurman Dahwat
memanggilku dan meminta agar aku mengajukan surat lamaran resmi menjadi
wartawan. Dengan demikian, Pemimpin Redaksi (Pemred) Nasrul Siddik Sutan
Mangkuto punya dasar menerbitkan surat tugas untukku. Atas dasar surat
tugas itu aku bisa diusulkan untuk mengikuti ujian masuk menjadi calon anggota
(CA) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Yurman pun
menyatakan kekagetannya lantaran pada surat lamaran aku menulis nama asli, Zakirman,
sesuai ijazah.
Dengan
berbekal surat tugas, aku mendaftar untuk ikut ujian PWI. Namun, pendaftaranku
ditolak panitia. Penyebabnya, syarat untuk bisa ikut ujian harus sudah 3x
perpanjangan surat tugas atau 3x 3 bulan. Mungkin melihat raut kecewa pada
wajahku – serta panitia sudah lama mengenalku sebagai penulis – aku diberi
kesempatan sebagai peserta cadangan. Dengan kata lain, aku boleh ikut ujian
jika ada peserta yang tidak hadir.
Pada hari-H
aku datang ke lokasi ujian PWI di Kampus STIE/KBP. Ternyata, hingga ujian segera
dimulai, ada sekitar tiga bangku kosong. Aku pun dipersilahkan menempati. Alhamdulillah…
sewaktu pengumuman tanda lulus di Gedung PWI Cabang Sumbar, aku malah
dinyatakan sebagai peserta terbaik dari sekitar seratusan peserta.
Banyak
pengalaman dan lika-liku yang kujalani selama bergabung dengan Mingguan Canang.
Aku mengikuti Lokakarya Lingkungan Hidup bagi Wartawan se-Sumatera, 24 – 31
Oktober 1994, sebagai peserta terakhir yang ditawari Pemred – undangan itu
telah lusuh ketika sampai di tanganku. Konon, wartawan yang lebih senior
menolak mengikuti lokakarya itu lantaran pada undangan panitia menyatakan tidak
menyediakan uang saku, kecuali penginapan dan makan.
Di lokasi
lokakarya aku sekamar dengan Fadril Aziz Isnaini alias Infai Rajo Imbang dan
berkenalan dengan sekitar 33 wartawan dari 8 provinsi di Sumatera. Suatu hal
yang berkesan, waktu malam perpisahan aku melobi Direktur Eksekutif Lembaga
Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta, Atmakusumah Astraatmadja, agar
berkenan mengundangku mengikuti Program Penyegaran Redaktur (PPR), tetapi
dengan beasiswa penuh lantaran aku yakin perusahaan pers tempatku bergabung
tidak mampu membayar biayanya Rp1,5 juta/peserta. (Pada brosur kulihat ada tiga
pilihan: membayar penuh, membayar 50% atau beasiswa penuh).
Ternyata,
permohonan yang kusampaikan secara lisan itu mendapat tanggapan. Buktinya,
Sabtu (5/11/1994) siang, Redpel Canang Yurman Dahwat mencariku ke lokasi wisuda
ATIP di Gedung Wanita kawasan GOR H Agus Salim. Ia memintaku segera menemui Inyiak
(sapaan kami kepada Pemred) lantaran aku harus berangkat ke Jakarta besok
pagi. “Tiket Pesawat Mandala Padang – Jakarta sudah dibelikan Inyiak,” kata
Yurman.
Waktu itu
aku benar-benar kaget. Yurman pun mengaku tak tahu ketika kutanya mengapa
Inyiak mengirimku ke Jakarta dan mendadak pula. Tiada pilihan lain, aku pun
mendatangi box telepon koin untuk menelepon Inyiak, tetapi rusak semua. Pilihan
terakhir, aku naik angkot menuju rumah Inyiak di Wisma Warta Ulak Karang.
Inyiak pun
memperlihatkan tiket pesawat yang akan kunaiki untuk pertama kali plus undangan
mengikuti PPR (Angkatan) II selama 5 minggu, 7 November – 10 Desember 1994.
Barulah teringat olehku lobi Sabtu (30/10) malam kepada Direktur Eksekutif LPDS.
Banyak pengalaman dan lika-liku yang kujalani
selama bergabung dengan Mingguan Canang.
Aku mengikuti Lokakarya Lingkungan Hidup bagi Wartawan se-Sumatera, 24 – 31
Oktober 1994, sebagai peserta terakhir yang ditawari Pemred – undangan itu telah
lusuh ketika sampai di tanganku. Konon, wartawan yang lebih senior menolak
mengikuti lokakarya itu lantaran pada undangan panitia menyatakan tidak
menyediakan uang saku, kecuali penginapan dan makan.
Di lokasi lokakarya aku sekamar dengan Fadril
Aziz Isnaini alias Infai Rajo Imbang dan berkenalan dengan sekitar 33 wartawan dari
8 provinsi di Sumatera. Suatu hal yang berkesan, waktu malam perpisahan aku
melobi Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta agar berkenan
mengundangku mengikuti Program Penyegaran Redaktur (PPR), tetapi dengan
beasiswa penuh lantaran aku yakin perusahaan pers tempatku bergabung tidak
mampu membayar biayanya Rp1,5 juta/peserta. (Pada brosur kulihat ada tiga
pilihan: membayar penuh, membayar 50% atau beasiswa penuh).
Ternyata, permohonan yang kusampaikan secara
lisan itu mendapat tanggapan. Buktinya, Sabtu (5/11/1994) siang, Redaktur Pelaksana Mingguan Canang
Yurman Dahwat mencariku ke lokasi wisuda ATIP di Gedung Wanita kawasan GOR H
Agus Salim. Ia memintaku segera menemui Inyiak
(sapaan kami kepada Pemimpin Umum dan Redaksi Mingguan Canang, Nasrul Siddik Sutan Mangkuto) lantaran aku harus berangkat ke Jakarta besok
pagi. “Tiket Pesawat Mandala Padang – Jakarta sudah dibelikan Inyiak,” kata
Yurman.
Waktu itu aku benar-benar kaget. Yurman pun
mengaku tak tahu ketika kutanya mengapa Inyiak mengirimku ke Jakarta dan
mendadak pula. Tiada pilihan lain, aku pun mendatangi box telepon koin untuk
menelepon Inyiak, tetapi rusak semua. Pilihan terakhir, aku naik angkot menuju
rumah Inyiak di Wisma Warta Ulak Karang.
Alhamdulillah…
ternyata Inyiak masih di rumah. Beliau menyerahkan undangan dari LPDS untuk
saya yang ditandatangani Atmakusumah. Barulah teringat olehku lobi
Sabtu (30/10) malam kepada Direktur Eksekutif LPDS Atmakusumah Astraadmadja.
Dalam undangan tercantum, saya diundang
mengikuti PPR II (angkatan kedua – red) di Gedung Dewan Pers Lantai 8, Jalan
Raya Kebon Sirih Nomor 10 Jakarta Pusat, 7 November s/d 10 Desember 1994,
dengan fasilitas beasiswa penuh dari Ford Foundation – Manila, Filippina.
“Karena
dimulai Senin lusa, angku (kamu) harus berangkat besok. Tiket pesawat sudah ambo (saya
– red) belikan,” kata Inyiak sembari menyerahkan selembar tiket Mandala
Airlines seharga Rp990 ribu.
“Untuk bekal angku di Jakarta, ini ambo (saya) beri uang
Rp100 ribu. Selanjutnya, ambo akan mengirimkan uang untuk angku melalui
Perwakilan Canang di Jakarta, Pak Rusli Dahlan, yang beralamat di Cikini.
Selama di Jakarta, angku menginap saja di Wisma Pemda Sumbar, Jalan Matraman.
Berikan surat pengantar ini kepada petugas wisma.”
Menjelang dan selama mengikuti PPR II ini banyak kisah
suka-duka yang kualami.
Masih
terpana dan bengong, kuterima undangan, tiket dan uang dari Inyiak, lalu
pamit pulang ke rumah. Sesampai di kampung menjelang maghrib, aku mengabarkan
kepada One (panggilanku kepada ibu) bahwa aku akan berangkat ke Jakarta dengan
pesawat terbang jam 12 siang besok dari Bandara Tabing, Padang.
Tak
kurang, One pun tampak terpana dan bengong. Ia mengungkapkan semua pakaianku
kotor. Oleh karena itu, One menyatakan segera ke sungai di belakang rumah untuk
mencuci pakaianku dengan penerangan lampu minyak tanah.
One pun mempertanyakan apakah aku punya bekal untuk hidup
di Jakarta. Aku pun menjelaskan, pemimpin redaksi memberi uang seratus ribu rupiah.
Selain itu aku juga baru saja menerima wesel Rp225 ribu dari Redaksi Suara Pembaruan
– Jakarta sebagai honor atas pemuatan cerpenku yang berjudul “Pemilihan
Bupati”.
Minggu
pagi, aku berangkat ke bandara dengan membawa satu tas pakaian lembab atau baru
kering air setelah dijemur One semalaman. Ini untuk pertama kali aku akan naik
pesawat terbang. Di ruang tunggu bandara aku bertemu Asisten I Setdaprov
Sumbar Rajuddin Nuh, ia mengajakku minum kopi di cafe.
Mungkin
karena keasyikan berbincang, aku pun jalan beriringan dengan Pak Rajuddin
memasuki pesawat, kemudian duduk di sebelahnya di kursi VIP, paling depan di
belakang kokpit. Tak lama, pramugari mendatangiku dan meminta memperlihatkan
tiket. Ia pun menyatakan, kursi-ku nomor 29 D, jauh di bagian belakang. Tak ayal, terdengar suara
bergaung dari sejumlah penumpang, “Hoooii… wartawan sasek (tersesat, salah
menempati kursi – red).
Turun
di Bandara Soekarno – Hatta setelah terbang 1,5 jam, sesuai pesan Inyiak, aku mencari dan menanyakan
Bus Damri dengan trayek melewati Jalan Matraman. Entah karena melihat wajah
udik-ku yang terlihat bengong, seorang sopir menyatakan, Damri ke Matraman
sudah habis, yang ada hanya Damri jurusan Gambir. aku pun naik dan disodori
tiket oleh knek seharga Rp3.500.
Lantaran
baru
pertama kali ke Jakarta sejak dewasa (sebelumnya pernah bermukim di
ibukota RI ini selama dua tahun, 1974 – 1976), sesampai di Gambir aku
kembali
bengong. Seorang sopir taksi mendekat dan menanyakan tujuanku. Ketika
kusebutkan Wisma Pemda Sumbar – Matraman, ia mempersilahkanku naik dan
meminta
Rp20 ribu. Aku pun protes dalam bahasa Minang karena terlalu mahal dan
menawar
Rp10 ribu. Sopir itu menyatakan, “Ini harga awak sama awak”.
Iyalah,
daripada bengong, aku pun naik. Eh, ternyata jarak Gambir – Matraman begitu
dekat. Rasanya tak cukup 10 menit sudah sampai. Mungkin karena sopir mengambil
jalan pintas. aku pun merasa terkecoh justru oleh orang Minang sendiri.
Sesampai
di Wisma Pemda ternyata persoalanku belum selesai. Ketika aku
memperlihatkan surat pengantar dari Inyak yang antara lain berisi menitipkanku
menginap di wisma itu selama 35 hari dengan pembayaran di belakang,
petugas menyatakan semua kamar penuh. Aku pun tertegun!
Melihat
ada tamu wisma yang kukenal, seorang teman sesama penulis di Koran Singgalang
tahun 1980-an, aku pun menemuinya dan mengabarkan persoalan, teman itu malah
meledek, “Matilah kau, ini Jakarta, Bung!”
Begitu juga dua orang lainnya yang
kukenal yang terlihat duduk di kursi tamu, Asbon Budinan Haza (budayawan) dan
Dr Mestika Zed (dosen IKIP Padang, kini UNP – red), ketika kutemui dan
kukabarkan masalahku, pun tidak memberikan solusi.
Lunglai, aku melangkah meninggalkan wisma. Di pinggir Jalan Matraman aku kebingungan,
akan ke mana? Sore sudah mendekati senja. Sebelum berangkat dari kampung, aku
tak sempat pula menanyakan ke One alamat banyak famili di Jakarta yang bisa
kudatangi.
Tiba-tiba
terbersit di benakku nama seorang sahabat pena, Yuliarti (21 tahun), dan
alamatnya teringat jelas: Jalan Gading Raya II Nomor …. Jakarta 13230. Tetapi,
di kawasan mana itu? Aku kembali bingung.
Melihat
ada polisi berdiri di depan posnya tak jauh dari wisma, aku melangkah
mendekati dan menanyakan di kawasan mana Jalan Gading Raya. Polisi itu mengaku
tidak tahu, tetapi dia memanggil rekannya yang duduk di pos. Hingga polisi
keenam yang mengelilingiku, tak seorang pun yang tahu di kawasan mana Jalan
Gading Raya di Jakarta. Barulah polisi ketujuh yang melangkah dari pos yang
menyebutkan: Itu kan di belakang RS Persahabatan, Rawamangun.
Iya, ya… aku jadi ingat. Sebab, dulu, kami pernah menumpang di rumah itu
selama setahun, One jadi pembantu di rumah itu. Waktu itu Yuli baru berusia
tiga tahun. Yuli kembali kukenal tahun 1993, lalu kami bersahabat pena.
Sesuai petunjuk arah polisi ketujuh, aku melangkah ke Jalan Pramuka,
menyeberang dan menyetop taksi. Sopir menanyakan tujuanku, lalu menanyakan di
kawasan mana. Dengan santai kujawab, di Rawamangun, belakang Persahabatan.
Ketika dia tanya, bayar berapa, kujawab: pakai argo saja, lalu menyandar di
kursi belakang laksana seorang boss, maklum berat badanku waktu itu mencapai 76
kg dengan tinggi 165 cm.
Sialnya,
sopir yang mengaku asal Makassar itu ternyata lebih cerdik dariku. Sewaktu
hendak melewati perempatan di ujung Pramuka, dia bertanya lurus, belok kiri
atau kanan? Bengong karena memang tidak tahu, kujawab ambil jalan pintas saja.
Setelah
cukup lama mutar-mutar, argo pun terus bergerak melewati angka 25 ribu, barulah
sampai di Jalan Rawamangun. Sopir kusuruh bertanya di mana jalan Gading Raya.
Alhamdulillah…, pas selepas adzan maghrib barulah sampai rumah yang kutuju.
Setelah kuketuk pintu, muncul empat anak lelaki. Aku memperkenalkan nama,
menyatakan teman Yuli dan ingin menumpang menginap di rumah itu.
Keempat
adik Yuli tampak ragu. Yuli bersama ayah ibunya tidak di rumah karena sedang
pergi kondangan, menghadiri resepsi pernikahan kerabat. Aku pun menjelaskan
kalau dulu, sebelum mereka lahir – kecuali yang paling besar, Ade – aku pernah
setahun di rumah itu. Mereka pun mempersilahkanku masuk. Barulah sekitar jam
22.00 Yuli dan kedua orangtuanya pulang. Mereka menyambutku dengan hangat.
Senin
pagi, Yuli mengantarku ke Gedung Dewan Pers. Setelah melakukan registrasi atau
pendaftaran, staf LPDS menyatakan kegiatan PPR baru akan dimulai Selasa
besok. Yuli pun mengajakku rekreasi ke Taman Monumen Nasional, lalu naik ke
puncak Tugu Monas.
Kisah selama mengikuti PPR II tak kalah heroiknya. Sebagai peserta paling muda
serta bukan sarjana dan belum jadi redaktur – dari 13 peserta, termasuk dua
dari Viet Namh, staf LPDS menulis namaku di kokarde: Drs Zakirman.
Alhamdulillah… aku dinyatakan sebagai peserta paling aktif dan paling kritis.
Sebaliknya, pimpinan dan staf LPDS juga mengeritik pakaianku yang selalu lusuh
dan kumal.
Di PPR
II LPDS, aku mengenal banyak tokoh pers nasional yang menjadi narasumber. Di
antaranya Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama dan Pendiri Harian Bisnis
Indonesia Amir Daud. Pak Amir malah menawari hendak memberikan memo kepada
Pemimpin Redaksi Republika Parni Hadi agar menerimaku bergabung jadi wartawan
dan staf redaksi di surat kabar yang dia pimpin.
Sayangnya,
yang kemudian kusesali, tawaran itu kutolak dengan santun. Waktu itu, aku beralasan
tidak sanggup hidup dan bekerja di Jakarta. Sepanjang siang dan malam tubuhku
selalu banjir keringat, naik bus berdempetan. Ketika tawaran yang kutolak itu
kuceritakan kepada pimpinan dan redaktur SKM Canang, mereka pun turut menyesalkan.
Padahal, itu peluang bagus untuk berkarier di Jakarta!
Dengan
sesama peserta PPR II aku pun dengan mudah menjadi akrab. Pada minggu kedua, aku meminta Wiwien Sri Sundari (Wiwien Maryanto, wartawati TVRI) agar melobi
Menteri Pariwisata supaya menyediakan fasilitas untuk kami pergi ke Kepulauan
Seribu.
“Kamu
kan wartawan ibukota, Wien, tentu kenal dengan dengan Pak Menteri. Ayo dooong,
kami yang dari daerah ini kan ingin juga mengunjungi Pulau Seribu….”
Permintaanku didukung oleh para peserta lain yang berasal dari Makassar,
Surabaya, Maluku, Timor-Timur dan Viet Namh (di PPR II saya satu-satunya
peserta dari Pulau Sumatera).
Alhamdulillah….
Hari Sabtu 2 Desember 1994 pagi kami sudah berkumpul di Pelabuhan Muara Angke.
Wiwien berhasil memperoleh fasilitas untuk kami menunjungi Kepulauan Seribu
berupa perahu nelayan bermesin tempel tetapi dari Menteri Kehutanan. Tidak
apalah! Selain kami peserta PPR II, juga ikut Syubah (DN Aidit) Asa, seorang
Perwakilan WWF (LSM Lingkungan Internasional) dan seorang staf LPDS,
Nunung.
Di Kepulauan Seribu
kami dapat fasilitas menginap di wisma milik Departemen Kehutanan di Pulau
Semak Daun, sekitar 200 meter dari Pulau Pramuka. Hari Sabtu itu kami sempat
mengunjungi Pulau Putri (kawasan wisata internasional) dan Pulau Bira Besar. Di
Pulau Bira, kami sempat diburu dan diusir para satpam lantaran mengambil
dokumen foto plus video lapangan golf.
Senin 4
Desember 2000 aku menyerahkan surat Pernyataan Mengundurkan Diri dari posisi
redaktur dan wartawan Canang.
Minggu
pertama Desember itu juga aku bergabung dengan Mingguan Padang Pos sebagai
wartawan.
Jumat 13
April 2001 aku bergabung dengan Harian Sumbar Mandiri dan Rabu 18 April
aku menyatakan pengunduran diri secara lisan dari Padang Pos.
Desember
2001 Sumbar Mandiri berhenti terbit, 14 Januari 2002 aku bergabung
dengan Tabloid Berita Mingguan ZAMAN.
Mulai
Februari 2010 aku menonaktifkan diri dari ZAMAN dan selama sekitar
setahun aku sempat menganggur.
CERITA TENTANG NAMA
Ibuku bercerita, namaku merupakan pemberian ayahku.
Beberapa hari setelah aku lahir, ayah yang kupanggil 'Pa' membawa sebuah gambar
pemandangan berbingkai. Pada gambar itu ada tulisan Zakirman lahir hari Minggu
29 Juni 1969 jam 8 malam"
Namun, dalam lampiran Surat Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef tahun 1982 (aku lupa momor dan
tanggalnya) tentang penerima beasiswa tahun kedua (SK pertama tahun 1981),
namaku tertulis 'Zahirman' tetapi nama sekolah benar: murid kelas V SDN 2
Lubuk Pandan.
Kepala Sekolah-ku waktu itu, Djamaris Dt Perpatih
bertanya, apakah aku menerima nama itu? Aku menggeleng. Maka, Pak Djamaris
mengirim surat ke menteri untuk meminta agar mengubah namaku kembali menjadi
Zakirman'. Konsekuensinya, pencairan dana beasiswa-ku sempat tertunda.
Sewaktu belajar di SMPN Pakandangan, tahun 1985, aku
merasa namaku terlalu pasaran lantaran ada beberapa orang yang senama denganku.
Maka tercetus dalam pikiranku sebuah rangkaian nama: Zakirman Susastra Cancer
Tanjung yang kusingkat menjadi Zastra Certa.
Nama Zastra Certa pernah kupakai sebagai identitas
tulisan-tulisanku pada Surat Kabar Haluan - Padang - Agustus 1986 s/d 1992,
serta pada media ibukota seperti Majalah Anita Cemerlang.
Namun, dalam workshop kepenulisan, 1993, Budayawan
Wisran Hadi mengingatkan, nama samaran itu kelak bisa menyusahkanku jika suatu
ketika aku jadi penulis besar dan dapat undangan ke luar negeri. Ia
menceritakan pengalaman seorang penyair yang ditolak panitia pengundang di
Thailand lantaran namanya di paspor (Agustami) tak sesuai nama populernya yang
diundang (Leon Agusta).
Sejak saat itu, aku memantapkan identitasku sebagai
penulis dengan nama Zakirman Tanjung. Namun, ketika mencalonkan diri menjadi
anggota DPRD pada Pemilu 2004 sempat timbul masalah. Lantaran di kampung namaku
terlanjur populer dengan sebutan Zast, aku kuatir nama Zakirman tak lagi
dikenal. Maka, sesuai permintaanku kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), di surat
suara namaku tertulis: Zakirman suku Tanjung. alias Zastra Certa.
Masalah terakhir kualami sewaktu dapat undangan
berkunjung ke luar negeri dan aku mesti mengurus paspor. Lantaran namaku di
ijazah dan akte kelahiran (Zakirman) sedangkan di Buku NIkah, Kartu Keluarga
(KK) dan KTP (Zakirman Tanjung), aku sempat berpikir menolak undangan itu.
Pasti paspor-ku tak bisa terbit!
Ketika hal itu kuceritakan pada seorang teman, ia pun
menelepon kenalannya -- pejabat pada Kantor Imigrasi. Aku pun mengurus paspor
dengan mengisi formulir di ruang pejabat itu pada lantai II, bukan pada loket
pelayanan di lantai I. Otomatis copy dokumen yang kulampirkan hanya Buku Nikah,
KK dan KTP.
Sempat muncul pertanyaan dari staf pejabat Imigrasi
yang melayaniku, "Copy ijazah dan akte kelahirannya mana, Pak?"
Dengan santai kujawab, "Kalau harus sekolah dulu
baru bisa mengurus paspor, berarti aku batal berangkat Sabtu depan....."
"Ooo... anda wartawan ya?" tanya staf itu.
Aku mengangguk.
Besoknya, aku dapat panggilan petugas untuk berfoto.
Lalu, print nomor paspor kuterima.
mobile: tzakirman@gmail.com