Sabtu, 31 Maret 2012

Ibuku, Zuniar: Rumah Hancur, Jiwanya Tetap Tegar


Gempa bumi yang meluluh-lantakkan bumi Kabupaten Padang Pariaman tidak hanya mengakhiri hidup sekitar 600 jiwa penduduknya, tetapi menyisakan lara bagi ratusan ribu masyarakat setempat. Mereka akan menanggungkan derita berkepanjangan, entah akan sampai kapan....

Kesulitan demi kesulitan hidup akan menyertai hari-hari mereka hingga pemerintah - dengan dukungan dana negara dan donatur - melakukan rehabilitasi dan pemulihan pemukiman serta tempat-tempat usaha mereka. Mengharapkan masyarakat membangun kembali rumah mereka yang hancur merupakan hal yang sangat tidak mungkin.

Bagaimana tidak! Berdasarkan penelusuran wartawan anda ke lokasi-lokasi yang porak-poranda oleh guncangan gempa bumi 7,9 skala richter (SR), Rabu 30 September 2009 pukul 17.16 wib, umumnya rumah-rumah yang ambruk total atau rusak berat adalah milik warga berekonomi menengah ke bawah. Akan sangat mustahil bagi mereka bisa membangun kembali rumah tersebut dalam waktu cepat, bahkan hingga lima tahun ke depan.

Zuniar (ibu kandung yang melahirkanku pada hari Minggu 29 Juni 1969 jam 20.00 WIB) merupakan seorang di antara puluhan ribu wanita yang kehilangan tempat bernaung sekaligus tempatnya berusaha. Ibu tiga anak berusia 59 tahun itu adalah penduduk Korong Balaisatu, Kenagarian Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung. Rumah yang dibangun ayahnya, Boeyoeng Ketek (almarhum) tahun 1958 hancur tak berbentuk dalam hitungan detik.

Meski demikian, perempuan yang biasa disapa 'One Sijun' ini mengaku masih bersyukur ke hadirat Allah SWT. Sebab, ketika gempa terjadi ia baru memulai shalat ashar pada raka'at pertama di dalam rumah dengan seluruh dinding dari susunan batu kali itu. Begitu pula suaminya, Rusli (67 tahun) serta putri mereka, Devi (29 tahun) dengan suaminya, Syamsuardi (Boy) dan dua putri mereka, Sherlin dan Qaisya.

"Alhamdulillah, kami berhasil berhamburan ke luar. Beberapa detik kemudian, seluruh dinding rumah berikut atapnya ambruk; termasuk bagian dapur yang dibangunnya belakangan, sekitar 1974," katanya mengenang. "Lihatlah, tak ada dinding yang tersisa."

Bagi One Sijun, rumah yang berlokasi di pinggir jalan antara Kiambang dan Padanggedok, Pakandangan, itu sangatlah berarti. Selain sebagai tempat bernaung bersama suami, anak, menantu dan dua cucunya, juga tempatnya berusaha membuat berbagai jenis kue pesanan untuk keperluan pesta pernikahan dan hari-hari raya.

"Di rumah ini pula saya melahirkan anak pertama melalui perjuangan dan rasa sakit teramat sangat, Minggu 29 Juni 1969, dengan pertolongan dukun. Putra yang nyaris dikubur setelah lahir itu pun tumbuh dengan kondisi fisik yang cacat," paparnya sembari menyebutkan nama si anak.
Ditanya kapan akan membangun kembali rumah yang hancur itu, One Sijun hanya menerawangkan pandangan kosong.

Sejak tiga tahun lalu, katanya, anak dan menantunya sudah berniat hendak membangun baru rumah tersebut. Bahkan, seluruh kusen pintu dan jendela sudah selesai dibuat melalui kegiatan julo-julo (arisan) tukang. Akan tetapi, niat itu belum terlaksana lantaran biaya yang diperlukan belum terkumpul.

Setelah rumahnya roboh, One Sijun mengumpulkan barang-barang seperti pakaian dan perkakas dapur di emperan rumah tetangga yang tak ikut ambruk - tetapi juga rusak berat. Ruang tamu rumah tetangga itu pun dia tumpangi untuk tempat bernaung di malam hari walau dengan perasaan was-was karena retak di sana-sini.

Sedang untuk anggota keluarga yang lain, menurut One, anak bujangnya dan menantunya mendirikan tenda darurat dengan bahan alakadarnya di halaman rumah yang ambruk. "Kalau boleh berharap, kami ingin agar pemerintah atau pihak yang peduli membantu tenda standar ukuran keluarga, bukan tenda umum berukuran besar," pintanya.

Ketika sedang berbincang, sekali-sekali One melayangkan pandangan ke reruntuhan rumah berukuran 10,5 x 6,5 meter plus dapur 6 x 9 meter dan dilengkapi teras terbuka di bagian depan. Wajahnya masih kelihatan mencerminkan ketegaran jiwanya. Tak terdengar nada putus-asa dan kecewa atas ketentuan Allah SWT dari nada bicaranya.

Namun, di ruang matanya bagai terbaca beribu kepiluan. Kepiluan yang bagaimana; hanya One yang memahami maknanya.  

Catatan ini kubuat 10 Oktober 2009 pukul 21:25 

ALHAMDULILLAH... rumah tersebut sudah kembali mulai dibangun, meski bantuan Rp15 juta / rumah yang diprogramkan pemerintah belum lagi diterima ibuku hingga kini. Insya Allah, menurut rencana, pada hari Kamis 12 April 2012 nanti akan dilaksanakan hajatan batagak kudo-kudo, yakni acara memasang pekayuan untuk bubungan / atap secara gotong-royong dengan mengundang kaum-kerabat, kolega dan relasi.
Pembangunan kembali rumah tempatku dilahirkan ibunda dilaksanakan oleh adik iparku, Sutan Boy, bersama One dan adik-adikku, Devi dan Wiko, serta dibantu kaum kerabat. 

DIANGGAP PANDIR JIKA TIDAK KORUPSI


oleh Zakirman Tanjung

PERTANYAAN yang paling sering dihadapkan kolega dan teman kepada saya selalu terkait dengan materi alias harta kekayaan. Mereka beranggapan, sebagai wartawan dengan masa aktif sudah 24 tahun saya semestinya sudah memiliki banyak hal dalam ukuran materialistik. Setidaknya, menurut ukuran mereka, kepribadian saya sangat memadai. Antara lain saya tentu sudah memiliki rumah dan mobil pribadi.

Menghadapi pertanyaan demi pertanyaan serta anggapan demi anggapan senada sejak – minimal – sepuluh tahun silam, saya kerap tercekat dan tercenung. Setiap kali pertanyaan atau anggapan demikian teralamat kepada saya, saya susah-payah menanggapinya. Jawaban apa adanya – menurut yang saya jalani – nyaris selalu mereka tolak. Anggapan berikutnya pun muncul; saya sebenarnya memiliki banyak uang. Namun, sengaja menyimpan atau tidak menggunakannya.

Pilihan terakhir; saya pun tidak menanggapinya. Toh, saya sendiri yang tahu kondisi sesungguhnya – karena saya yang tahu dengan diri saya – dan saya pula yang akan mempertanggungjawabkannya.

Dalam suatu diskusi relatif sehat, seorang kolega menyatakan, berprofesi sebagai wartawan sangat berpeluang mendapatkan materi sebanyak yang diinginkan. Sebab, wartawan itu sangat dekat petinggi dan aparat pemerintah maupun swasta yang memegang kekuasaan dan uang. Wartawan, dengan dengan ancaman bom publikasi yang dipegangnya, akan dengan mudah mendapatkan uang, baik dia minta maupun tidak.

Pembicaraan itu pun saya amini juga. Sebab, kalau saya perturutkan, bisa-bisa saya bakal ikut-ikutan merasa bodoh lantaran selama ini tidak memanfaatkan profesi yang saya geluti untuk memperkaya diri lantaran – memang – peluang untuk itu selalu terbuka luas. Lebih celaka lagi, saya kuatir akan benar-benar menerjuni perilaku demikian.

Mengambil momen Hari Antikorupsi se-Dunia yang diperingati tiap 9 Desember, saya mencoba menelaah mengapa korupsi mewabah di negeri ini, setidaknya begitulah anggapan yang berkembang. Bahwa, bisa dilihat dan didengar dari banyaknya pemberitaan tentang kasus-kasus dugan korupsi yang dilakukan oknum pejabat dan pengusaha; bisa dijadikan sebagai indikasi praktek korupsi tumbuh subur di Indonesia, bahkan tanpa mengenal musim seperti cendawan.

Mengacu pada banyaknya pertanyaan dan anggapan yang terlontar kepada saya serta pada diskusi dengan berbagai pihak, bisa dikira penyebab mewabahnya praktek korupsi tak hanya didorong oleh adanya tuntutan pemenuhan kebutuhan dan peluang yang terpapar tetapi juga dipicu oleh perasaan bodoh jika tidak melakukannya.

Dorongan lain adalah anggapan diri terhadap orang lain, terutama rekan atasan, sejawat dan bawahan; juga melakukan korupsi dan mereka nyaman dan aman-aman saja. Kalau pun ada yang satu-dua atau beberapa yang terjerat aparat penegak hukum, hanyalah kecelakaan dan mungkin sedang apes. Dalam hal ini, waskat (pengawasan melekat) yang kemudian diplesetkan menjadi pengawasan malaikat tidak terlalu menjadi persoalan.

Dengan adanya generalisasi praktek korupsi (jika memang demikian), figur-figur yang mencoba bertahan tidak melakukannya sering terpojok sendiri. Misalnya, jika tidak mau menerima bagian hasil korupsi (umpamanya di lingkungan tempat kerja) risikonya akan disisihkan, lalu dicurigai bakal jadi pengkhianat di belakang hari. Artinya, tekanan untuk ikut menikmati korupsi begitu kuat. Belum lagi tekanan dari pihak keluarga!

Tekanan-tekanan demikian bisa teramat kuat, bahkan bisa mengalahkan rasa takut terhadap ancaman Tuhan. Logika ekonomi dan spritual pun tak lagi menjadi perhatian. Bahwa kekayaan hasil korupsi tidak akan berkah; cenderung diabaikan. Orang-orang yang sudah terhipnotis oleh keinginan korup takkan memperhitungkan apakah kelak anak-anaknya menjadi brengsek atau mobil yang dibelinya bakal mengantarkannya masuk rumah sakit; boro-boro tentang surga dan neraka.

Menyadari fenomena demikian, para pemegang kekuasaan negara (mudah-mudahan tidak berjiwa korup pula!) semestinya mengubah cara dan pola pemberantasan korupsi. Tindakan menghukum secara keras dan terbuka (misalnya digantung sampai mati) terhadap pelaku yang terbukti melakukan korupsi diyakini akan memberikan efek jera kepada oknum-oknum yang akan melakukannya. Dalam hal ini, penerapan hukum dan hukuman semestinya tidak mengenal rasa kasihan.

Jika pemerintah berketetapan hati memberantas korupsi, semestinya presiden menempuh cara cepat untuk menangani para pelaku yang terbukti melakukannya.

Kamis, 29 Maret 2012

Kaki Gajah Bukan Penyakit Turunan



PADANG PARIAMAN--Bupati Drs H Ali Mukhni membuka acara Advokasi dan Sosialisasi Program Eliminasi Filariasis dalam rangka mewujudkan Komitmen Bersama menuju Eliminasi Filariasis di Indonesia Tahun 2020, Kamis (29/3), di Gedung Daerah Saiyo Sakato Pariaman.

Hadir dalam acara tersebut Ir Zulbaidah perwakilan USAID, beberapa Kasubid Kemenkes RI sebagai narasumber, Kadis Kesehatan dan beberapa Kepala SKPD serta Camat dan Kepala Puskesmas sebagai peserta.




Bupati Ali Mukhni dalam pidatonya, menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Dinkes ini. Dalam rangka menambah Ilmu dan Pengetahuan serta memberikan gambaran yang jelas pada pihak-pihak terkait, memang sangat perlu dilakukan sosialisasi seperti ini.

Sementara itu, Kadinkes dr H Zunirman dalam laporannya menyebutkan, di Kabupaten Padang Pariaman masih terdapat kasus filariasis (penyakit kaki gajah) di beberapa kecamatan, sekarang sudah ditemui 12 kasus. "Selama ini tidak muncul kasus tersebut bukan berarti tidak ada, tapi karena tidak dilacak dan terpantau sehingga tidak ditindaklanjuti. Kemudian masyarakat masih menganggap penyakit ini merupakan penyakit turunan sehingga tidak berusaha untuk berobat, padahal ini merupakan penyakit menular," ulas Zunirman.

Selanjutnya Kadinkes menambahkan bahwa kegiatan advokasi dan sosialisasi ini adalah yang pertama di Sumatera Barat dan akan diikuti oleh 7 Kabupaten/Kota lainnya. Sebenarnya beberapa Kabupaten dan Kota tetangga di Sumatera Barat merupakan endemis Filariasis sehingga Padang Pariaman terancam penyakit menular ini, untuk secara dini kita serius melacak penderita penyakit ini dan melakukan pemeriksaan serta pengobatan secara masal..

Selanjutnya Kadiskes menyatakan bahwa program Dinkes tentang Advokasi dan Sosialisasi Eliminasi Filariasis ini bekerja sama dengan USAID yang juga didanai oleh beberapa NGO seperti NTD dan NRTI.

Kemudian Kasubdit Filariasis Kemenkes RI, dr. Saktiono yang membacakan pidato Menkes, menyatakan bahwa kasus kronis yg dilaporkan s/d tahun 2011 secara komulatif sebanyak 12.066. Didunia Indonesia menempati urut ke-3 kasus filariasis ini, setelah Nigeria dan India.

Untuk itu program Eliminasi Filariasis dijadikan Program Nasional, salah satu kegiatannya adalah advokasi, sosialisasi dan pengobatan masal. Tujuannya pada tahun 2020 Filariasis ini tidak lagi menjadi masalah nasional.

Kegiatan Sosialisasi yang berlangsung sehari penuh ini menampilkan beberapa Narasumber, yaitu: 1. Prof. dr. Saleha Sungkar DAP&E, MS, SpParK, Ketua Parasitalogi FKUI dengan materi ceramah tentang Eliminasi Filariasis. 2. dr. Saktiono (Kasubdit Filariasis Kemenkes R.I). menyampaikan materi ceramah tentang Kebijakan Nasional Program Eliminasi Filariasis. 3. DR. dr. Irene, MKM (Kasubdit Kemenkes) menyampaikan materi ceramah tentang Situasi Filariasis di Propinsi.

Menurut Prof. Saleha Sungkar, Filariasis atau penyakit Kaki Gajah merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria. Filariasis tergolong penyakit menular dan dapat ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini kalau sudah terjangkit dan kronis tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikurangi.

Dilaporkan: in / zast

 Foto

ROMANTIKA PENCARIAN CINTA


 
DALAM merealisir angan dan ingin banyak cara yang bisa dilakukan. Secara lahiriah sering disebut berupaya, berusaha atau berikhtiar. Wujudnya bisa sesuai aturan kehidupan atau malah menghalalkan segala cara (MSC, begitu sering saya singkat).

Akan tetapi, usaha saja belumlah cukup. Sadar, bahwa Allah Mahakuasa, kita pun mengiringi setiap usaha dengan doa. Hanya saja, kedua hal itu tidaklah menjamin keinginan dan harapan kita pasti menjadi kenyataan. Masih ada rangkaian ketiga dan keempat; beribadah sekhusu' dan seikhlas mungkin serta tawakkal.

Ya, tawakkal! Sebab, kita hanya bisa berusaha dan berdoa, kita hanya bisa berharap, berangan dan berkeinginan, tetapi Tuhan-lah Yang Maha Menentukan sesuai kehendak-Nya. Bukankah Dia Mahatahu terhadap kebutuhan dan kadar keperluan makhluk²Nya? Dalam hal ini kita tidak bisa memaksa takdir sesuai kemauan kita.

Pengalaman demi pengalaman spritual demikian begitu sering saya alami. Nilai kebenaran yang diciptakan Tuhan baru saya sadari setelah kejadian yang terkadang menyakitkan berlalu sekian waktu. Saya akui memang, ketika sedang terjadi, kadang sempat menyesali dan merutukinya.

Terkait masalah jodoh misalnya, berkali-kali saya hancur dan nyaris bunuh diri. Bagaimana tidak! Dengan kondisi fisik yang cacat, wajah tidak tampan dan ekonomi orangtua pas-pasan (bahkan sering kekurangan), menjelang tamat SMA saya berkenalan dengan seorang gadis yang begitu cantik. Kami pun segera akrab, 68 hari kemudian kami memproklamirkan ikatan cinta.

Meski sembunyi-sembunyi, kami menikmati masa-masa berpacaran yang panas membara. Tak usahlah saya papar-curahkan di sini; nanti terkena sensor. Sayangnya, kemesraan dalam kebersamaan itu tak berlangsung lama; hanya enam bulan lebih tiga hari, gadis itu mendatangiku dan meminta kami memutuskan hubungan percintaan.
Alasan meminta putus dia urai dalam belasan lembar buku yang hingga kini masih kusimpan. Namun, peristiwa terpenting yang kuingat, pada pertemuan terakhir itu si gadis menyerahkan segalanya padaku. Katanya sebagai wujud ketulusan cintanya padaku. Untunglah akal sehatku masih normal. Gadis itu kulepas tanpa cidera.
Dari peristiwa ini lahirlah serangkaian kata dari pikiranku; "Gadis yang aku cintai harus hidup bahagia walau dia dinikahi lelaki lain."

Bertahun-tahun hatiku remuk, serasa hidup ini tak ada artinya. Bahkan, saya pernah mengalami stres berat dan berkali-kali mencoba bunuh diri.

Ternyata hidupku terus berlanjut; hingga suatu ketika saya berkenalan dengan seorang gadis di atas bus. Saya naik dari Payakumbuh, duduk sendirian; gadis itu naik di Bangkinang, lalu duduk di sebelahku; kami sama-sama ke Pekanbaru, Riau. Dalam hitungan menit kami pun berkenalan dan saling bertukar nomor telepon.

Setelah menaikkan gadis itu ke mobil angkutan kota, saya melangkah gontai ke hotel. Setelah melepas lelah, kuhubungi gadis itu lalu kami pun janji bertemu di suatu tempat. Bahkan, dua hari kemudian, kami sebangku lagi di atas bus, kali ini dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Kota Solok, Sumbar. Gadis itu mengatakan akan mengunjungi kakaknya di Sijunjung.

Menikmati kebersamaan selama hampir delapan jam, banyak hal yang kami bicarakan, tak terkecuali keinginanku menyuntingnya. Lelah berpacaran, saya memang melakukan 'tembakan 12 pas'. Cinta tak lagi jadi ukuran. Asalkan saya menyukai, langsung tancap gas. Gayung bersambut kata berjawab. Setelahnya saya jadi rutin tour Padang - Pekanbaru. Berangkat Sabtu pagi, kembali Minggu sore.

Entah karena belum jodoh, suatu kali gadis itu menolak bertemu denganku. Lewat telepon ia menyatakan, "Cari saja gadis lain, Bang!" Saya terhenyak lagi walau tak separah sebelumnya dan tak menyisakan patah hati. Terbukti, perburuanku mencari jodoh terus berlanjut, bahkan hingga ke Batam dan Yogyakarta.

Namun, jika Tuhan belum menghendaki, upaya bagaimana pun tidak membuahkan hasil meski sering cawan sudah sampai di bibir; toh isinya tumpah juga. Banyak sebab yang tak logis mengapa hingga usia sudah melewati 30 tahun saya belum beristeri juga. Gurauan teman dan orang sekampung terdengar makin menyakitkan.

Suatu malam harapanku terasa bertunas lagi. Waktu itu saya menonton pagelaran teater di Taman Budaya Sumbar. Tatkala pertunjukan dimulai, lampu-lampu yang menerangi balkon penonton dipadamkan. Praktis saya tidak bisa mengenali penonton yang datang kemudian dan memenuhi deretan bertingkat di sekitar saya yang semula sepi. Rasa frustrasi telah menyebabkan saya enggan mendekati gadis-gadis.

Hingga, usai saya menyulut rokok, ada seorang gadis menarik pergelangan tangan kiri saya; meminta pindah ke sisinya dengan meminta temannya bergeser menempati posisi saya. Hati pun berbunga-bunga. Setelah dia menyebut nama dan mendengar suaranya, saya baru ingat; mengenal gadis mahasiswi Fakultas Sastra Unand itu ketika ia kemping jurusan di Pantai Ulakan seminggu sebelumnya.

Karuan saja konsentrasi kami terhadap pementasan jadi terburai. Menjelang tengah malam ia kuantar ke tempat setelah menikmati martabak mesir dan membungkuskan untuk teman-temannya. Selanjutnya, kami sering bertemu dan teleponan. Jarak usia kami berkisar delapan tahun.

Dengan maksud hendak menyatakan isi hati, gadis itu kuajak plesiran ke objek wisata alam Anai Resor. Kami berangkat dari Padang sudah agak siang, cuaca pun mendung. Tetapi kondisi itu tak menghalangi. Kami pun berbasah-basah di objek wisata pemandian itu.

Hanya, sikap lahiriah gadis itu ternyata tidaklah mencerminkan hatinya. Hatiku boleh bergetar ketika menggenggam jemarinya, ketika... ah! Namun, ketika kutanyakan hal sesungguhnya, dengan santai dia menjawab, "Saya telah bertunangan...." Glegarrrrr!!!

Terjatuh, bangun lagi, berburu lagi. Hikmah semua kegagalan itu baru kurasakan setelah benar-benar menemukan jodoh, lalu menikah, Jumat 24 Maret 2000. Banyak hal yang kupahami kemudian (dan tak mungkin kutuliskan, sebab gadis-gadis yang dulu itu kemudian juga bergabung dan berteman denganku dalam facebook ini).

Namun, satu hal, Tuhan tidak menghendaki saya berjodoh dengan gadis-gadis dulu itu. Gadis terbaik untukku adalah perempuan yang telah melahirkan dua putri dan seorang putraku; perempuan yang kini jadi isteriku tanpa proses pacaran; bertemu langsung kulamar.

Masih tentang kehendak Tuhan, ada pengalaman spritual lain yang kuingat; terjadi persis setahun silam. Pagi itu, Jumat 12 Desember 2008 isteriku mengeluh sakit dan mengira akan segera melahirkan. Ditemani tetangga, ia memeriksakan diri ke bidan. Sorenya saya dapat laporan, bidan menyarankan USG ke dokter.

Kami pun berangkat menemui dokter dimaksud ditemani si bidan. Sekitar pukul 22.30 wib barulah pemeriksaan berlangsung. Dengan tenang si dokter berkata, "Anaknya perempuan, lahir seminggu lagi." Kulihat, wajah isteri menegang. Di luar ruang ia pun mengeluh dan mengomel, "Perempuan lagi, perempuan lagi!"

Ia juga mengeluhkan lamanya waktu yang diperkirakan dokter. Padahal, rasa sakit hendak melahirkan sudah ia rasakan sejak dua bulan sebelumnya. Saya pun tak berdaya, kecuali menghiburnya, Proklamator Bung Hatta juga hanya memiliki, ternyata 'jadi orang ketiganya', lalu kutawarkan operasi caesar.

Hingga kembali pulang ke rumah, isteri masih terus mengeluh dan mengomel. Dinihari Sabtu 13 Desember, ia kembali minta diantar ke rumah bidan. Saya pun membangunkan tetangga, seorang sopir angkutan kota (angkot). Ia berangkat ditemani ibu, adik dan seorang tetangga. Saya tetap di rumah, menemani dua putri kami yang tertidur pulas.

Tak tahu hendak mengapa; tidur lagi tak bisa, saya pun berwudhu'. Lantaran waktu shalat subuh belum masuk, saya membuka Kitab Suci Al-Qur'an. Ingat ucapan dokter bahwa anak di kandungan isteriku perempuan, saya pun membaca surah ke-19 Maryam dengan mengikhlaskan jika anak ketiga kami perempuan lagi. Ternyata, ayat 1 - 15 belum membahas kisah Maryam dan Nabi 'Isa a.s, melainkan kisah Nabi Zakariyya a.s dan Nabi Yahya a.s.

Bertepatan ketika saya melantunkan ayat ke-7, ponsel berdering. Kulihat, dari isteri, "Ya...?" Lalu....
"Ini Etek mah, Sutan, anak sudah lahir, laki-laki.... " (Etek = bibi, adik mertua)
Alhamdulillah... Allahuakbar! Suara adzan subuh pun bergema dari menara-menara masjid dan mushala se-Kota Padang. Ternyata benar; Jika Tuhan berkehendak.... Katakanlah analisa dokter benar, tetapi Allah SWT bisa saja mengubahnya, bahkan dalam hitungan waktu sepersekian detik.

Inilah hikmah berikutnya yang kupahami kemudian. Ayat ke-7 surah Maryam yang kubaca ketika kemudian ponsel berdering: Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.

Subhanallah, Walhamdulillah...!

Anak itu kemudian kuberi nama Adzanil Subhani D'smiza. Namun, ibu yang mengandung dan melahirkannya, Gusmiati, menginginkan nama putranya 'Habil'. Maka, ketika mengurus akte kelahiran ke Catatan Sipil, kudaftarkan namanya M Habil AS D'smiza (Muhammad Habil Adzanil Subhani D'smiza)

Padang, 13 Desember 2009 -- 22.06 wib

PAHIT-GETIR PERNIKAHAN


kilas balik pernikahan kami


oleh Zakirman Tanjung

PERNIKAHAN dan hidup berumahtangga tentulah hal yang biasa. Semua orang yang sudah menjalani tentu telah mengalami suka dan dukanya. Di dalamnya campur-aduk segala peristiwa dengan beragam makna.

Aku dikenalkan Mbak Atik (Titi Ekowati) [karyawati Mingguan Canang - Padang, suratkabar tempatku bergabung sebagai penulis dan wartawan sejak Maret 1987] dengan Gusmiati (Emi), Rabu 19 Januari 2000; Emi pun kuajak pergi minum sekadar untuk mencoba membangun keakraban. Setelah itu ia kuantar pulang; kepadanya kucatatkan nomor telepon rumah tetangga.

Empat hari kemudian, Minggu, kami ketemuan lagi, ia kuajak duduk-duduk di Taman Budaya Padang. Saat itulah kuutarakan niatku untuk memperisterinya. Ia tak langsung mengiyakan, tetapi butuh waktu hingga 4 jam sebelum ia memintaku menemui mamak (paman, saudara ibunya).

Kepada mamaknya pun kuutarakan niat tsb. Tetapi, dua mamaknya (kakak dan adik ibunya) meminta waktu setahun untuk mempersiapkan diri. Alasan mereka; aku orang Piaman, di mana lelaki 'dibeli' dengan sebutan uang hilang dan uang jemputan.

Aku pun menegaskan, untukku tidak ada uang hilang dan uang jemputan dimaksud. Aku yang akan meyakinkan para mamak dan penghulu kaumku untuk hal itu. Maka, kami pun merencanakan pihak Emi datang meminang ke pihakku (sesuai sistem budaya matrilinel) dua minggu kemudian.

Pihak kaumku setelah kusampaikan rencana tersebut menyatakan kesediaan. Mamak terdekatku pun menyebar undangan ke seluruh anggota kaum dan urang sumando (para suami perempuan di kaum kami) untuk menanti kedatangan pihak perempuan.

Menjelang hari-H peminangan, aku mengajak seorang mamak kaum bicara di surau. Intinya, aku meminta agar dalam musyawarah dengan pihak perempuan jangan membahas uang hilang dan uang jemputan, apalagi meminta dan menetapkan jumlahnya.

Sempat terjadi perdebatan dan bersoal-jawab antaraku dan si mamak. Namun, setelah kujelaskan dasar sikapku menurut ajaran Islam yang kupahami serta akibat kelak yang bakal kuhadapi setelah menjadi suami dan ayah, si mamak pun tak berkutik.

Sedangkan ibuku, Zuniar, sudah bisa kuberi pemahaman tentang hal itu. Ayahku, Ramli, yang berdomisili di Krui, Lampung Barat, tak banyak terlibat.

Meski demikian, ketika musyawarah guna mencari mufakat antara kedua belah pihak akan dimulai di rumah orangtuaku, ibu sempat memanggilku untuk bertemu mamak kaum. Intinya, meminta penegasan apakah aku benar-benar menolak penerimaan uang hilang dan uang jemputan yang sudah mentradisi di daerahku? Aku nyatakan, ya!

Pertanyaan berikutnya pun muncul, jika tidak ada pemberian dari pihak perempuan, bagaimana modal menggelar pesta pernikahan? Kujawab, yang penting melaksanakan akad-nikah.

Sesuai skenario yang kubuat, ninik-mamak menyepakati hari pernikahan, Jumat 24 Maret 2000. Selanjutnya resepsi di rumah pihak perempuan, Minggu 9 April 2000, dan resepsi di rumah orangtuaku, Sabtu 15 April 2000.

Alhamdulillah, akad-nikah berlangsung lancar di ruang pertemuan Kantor Urusan Agama (KUA) Kototangah, Kota Padang. Dengan demikian aku sudah sah sebagai suami dari Gusmiati.

Meski resepsi di rumah perempuan masih dua minggu lagi, Sabtu sore keesokan harinya aku sudah pulang ke rumah isteriku dan menginap plus 'malam pertama'. Sekadar diketahui, sesuai budaya matrilneal, di daerahku suami memang ikut isteri dan bertempat tinggal di rumah yang disediakan mertua menjelang mampu membangun rumah sendiri atau mengontrak.

Alhamdulillah, resepsi pernikahan di rumah orangtuaku berlangsung sukses. Nyaris semua undangan 'plat merah' dan relasi yang kuundang hadir, kecuali Presiden Abdurrahman Wahid dan Wapres Megawati Soekarnoputri. Masing-masing tamu yang hadir, seperti biasa, menyerahkan pemberian berupa amplop kepadaku selaku pengundang. Bagi yang tidak sempat hadir; ada yang berkirim ke temannya atau menyerahkan amplop ketika bertemu denganku besok-besok harinya.

Alhamdulillah... lagi, setelah menghitung isi amplop yang terkumpul keesokan hari setelah resepsi, kami memperoleh sekitar Rp4,7 juta ditambah perhiasan mas sekitar 3,5 mas (8,75 gram) serta beberapa kado berisi pakaian dll.

Untuk diketahui, semua bahan masakan (kecuali beras) diutangi ibuku pada pedagang di Pasar Sicincin, Kabupaten Padangpariaman, hal yang biasa di daerah kami. Ketika kutanya, ibuku menyebutkan Rp1,9 juta; langsung kuserahkan ke ibu. Kemudian utang rokok untuk keperluan mengundang tamu laki-laki yang dilakukan mamak-ku Rp960 ribu pun kulunasi. Pengeluaranku sendiri untuk sewa pentas musik, tenda, air mineral dll Rp500.000 (catatan: biaya mendatangkan grup musik ditanggung seorang relasi yang bersimpati padaku. Maka, bersisalah pendapatan resepsi sekitar Rp800ribu. Sisa uang tersebut plus 3,5 gram mas kuserahkan ke tangan ibu sebagai keuntungan resepsi.

Tinggallah uang di tanganku sekitar Rp500 ribu, bagian yang kuambil sebagai pengeluaranku. Sekitar Rp300ribu kuserahkan kepada ayah untuk ongkos kembali ke Lampung. Maka, dengan sisa dua ratusan ribu rupiah aku melanjutkan perjalanan hidup sebagai suami.

Pas-pasan memang, tetapi itulah realitanya. Setelah memulai hidup baru, kami langsung menjalani rutinitas. Tak ada bulan madu. Rumah yang disediakan mertua pun amat-sangat sederhana dan belum dimasuki aliran listrik. Untunglah tetangga sebelah bersedia merentangkan kabel ke rumah kami.

(Kisah awal pernikahanku yang teramat getir mungkin akan sangat panjang jika kuurai secara detil. Insya Allah nanti kulengkapi jika berkesempatan menulis autobiografi)

Isteriku langsung hamil, kuyakini terjadi pembuahan pada belah duren malam pertama. Kurang sembilan bulan kemudian, Minggu 17 Desember 2000 / 21 Ramadhan 1421 pagi, kami dikaruniai Allah SWT seorang putri yang kami beri nama Fashinta R (Rahmatdhani / Rahmat di Bulan Ramadhan) D'smiza. Kisah kelahiran itu pun benar-benar memilukan!

Sebenarnya, Rabu 13 Desember, isteriku sudah minta diantar ke klinik bersalin. Bidan yang mengepalai klinik menyarankan agar isteriku dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani operasi. Untunglah isteriku memilih kembali pulang.

Jumat malam ia kembali mengaku merasakan sakit hendak melahirkan. Kali ini ia minta diantar ke rumah bidan di samping Puskesmas Lubukminturun, Febrawati SPd nama bidan itu. Di sini isteriku menjalani rawat inap, tetapi belum juga ada tanda-tanda akan melahirkan; setelah bertahan 30 jam, barulah putri kami lahir setelah masuk dua tabung cairan infus ke tubuh isteriku.

Minggu malam aku memilih tidur di rumah; sementara isteri dan bayi kami ditunggui mertua. Meski sangat lelah dan mengantuk, mataku tak bisa terpejam, bahkan setelah melewati sahur dan shalat subuh. Sebab, pikiranku dikecamuki bagaimana cara mendapatkan uang untuk membayar biaya persalinan. Saat itu, total uang yang kumiliki hanya Rp175.000,- padahal isteriku dirawat sudah 3 malam plus menghabiskan dua tabung infus.

Saat itu aku sedang menganggur pula. Kamis 7 Desember 2000 aku mengajukan surat pernyataan mengundurkan diri dari posisi wartawan dan redaktur Surat Kabar Mingguan Canang, koran tempatku bergabung sejak Oktober 1992. Inilah yang memusingkan pikiranku; bagaimana cara mendapatkan uang untuk membayar biaya persalinan?

Senin pagi muncul ide di benakku; berangkat ke kantor bupati Padangpariaman, mengabarkan kelahiran putri ke teman-teman pejabat pemkab, relasi kerjaku sebagai wartawan selama ini; mudah-mudahan ada yang bersimpati dan mengulurkan bantuan. Maklum, waktu itu aku belum punya ponsel.

Baru saja hendak berangkat, mertuaku tiba di rumah; mengabarkan isteri dan bayiku segera pulang pagi itu. Mertua memintaku segera ke rumah bidan.

Tiada pilihan lain, aku naik angkot 2x ke rumah bidan. Ternyata benar, sedang berlangsung memasukkan perlengkapan ke mobil milik suami si bidan. Kesempatan itu kugunakan untuk menanyakan ke Bidan Febra, berapa biaya persalinan?

Tanpa menyebutkan angkanya, Febra berujar, "Uda bayar sajalah beli obat."

Bingung, aku desak lagi berapa hingga ia menyebutkan Rp250ribu. Plong rasanya kepalaku mengingat semalam aku menemukan simpanan isteri di lemari Rp150ribu. Kepadanya kupinjam Rp100ribu. Uang yang disebutkan Febra kuserahkan sesampai di rumah kami.

Esoknya, Selasa, barulah aku ke kantor bupati di Pariaman. Kepada rekan pejabat yang kutemui kukabarkan jika putriku telah lahir. Pejabat itu mengucapkan selamat sembari menanyakan, apakah sudah dibawa pulang; kujawab sudah.

Pertanyaan berikutnya pun tiada.

Muncul godaan di benakku, sebaiknya katakan saja masih di rumah sakit; supaya rekan-rekan pejabat ada yang mengulurkan bantuan. Tetapi, untunglah saat itu juga muncul kesadaran; "Hei... bukankah anakmu perempuan? Jika baru lahir saja sudah kau jual  untuk mendapatkan uang, jangan-jangan kelak setelah remaja dan dewasa putrimu akan berprofesi sebagai pelacur...!"

Astaghfirullah...!
Hari-hari setelah itu pun kujalani dengan getir....


Belakangan, barulah kupahami makna QS ke-2 Al-Baqarah ayat 212 & 214. 

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas. (Al-Qur'an Surah ke-2 Al-Baqarah ayat 212)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Qur'an Surah ke-2 Al-Baqarah ayat 214)

Minggu, 25 Maret 2012

KISAH SEORANG GADIS MENJAJAKAN KEPERAWANANNYA



 
WANITA itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Seorang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tetapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dia pesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri; adakah seseorang yang sedang ditunggunya?

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa, tetapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:

”Maaf, Nona.… Apakah anda sedang menunggu seseorang?”

”Tidak!” jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

”Lantas untuk apa anda duduk di sini?”

”Apakah tidak boleh?” wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam.

”Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”

”Maksud Bapak?”

”Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk di sini.”

” Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tetapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual,” kata wanita itu dengan suara lambat.
”Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini?”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu.Tak nampak ada barang yang akan dia jual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
”Oke-lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti.”

”Saya ingin menjual diri saya,” kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam ke arah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
”Mari ikut saya,” kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperatif karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
”Apakah anda serius?”
”Saya serius,” jawab wanita itu tegas.
”Berapa tarif yang anda minta?”

”Setinggi-tingginya...."
”Mengapa?” petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.

”Saya masih perawan.”

”Perawan?” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tetapi wajahnya berseri; peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini....

”Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”

”Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan..., iya kan?”

”Kalau tidak terbukti?”

”Tidak usah bayar.…”

”Baiklah.…” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.

”Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda.”
”Cobalah.”

”Berapa tarif yang diminta?”

”Setinggi-tingginya. ”

”Berapa?”

”Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa?”

”Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya.”

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu. Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
”Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp5 juta. Bagaimana?”

”Tidak adakah yang lebih tinggi?”

”Ini termasuk yang tertinggi,” petugas satpam itu mencoba meyakinkan.

”Saya ingin yang lebih tinggi….”
”Baiklah. Tunggu di sini…,” petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

”Saya dapatkan harga yang lebih tinggi, Rp6 jut. Bagaimana?”
”Tidak adakah yang lebih tinggi?”
”Nona, ini harga sangat pantas untuk anda!Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap
saya, karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan? Kita sama-sama butuh….”
”Saya ingin tawaran tertinggi..., ”jawab wanita itu tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun, ia tidak kehilangan semangat.

”Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tetapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli,” pinta petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tetapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.
Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

”Ini yang saya maksud, Tuan. Apakah Tuan berminat?” tanya petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu.
”Berapa?” tanya pria itu kepada wanita itu.
”Setinggi-tingginya,” jawab wanita itu dengan tegas.
”Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang?” tanya pria itu kepada sang petugas satpam.
”Rp6 juta, Tuan.”
”Kalau begitu saya berani dengan harga Rp7 juta untuk semalam.”
Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.

”Bagaimana?” tanya pria itu.

”Saya ingin lebih tinggi lagi."

Petugas satpam itu tersenyum kecut.

”Bawa pergi wanita ini,” ujar pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
”Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual...?”

”Tentu!”

”Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu…?”
”Saya minta yang lebih tinggi lagi.…”
Petugas satpam itu menghela napas panjang, seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang.
Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.

”Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lain.”

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu-persatu pria yang ada, berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

”Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta rupiah. Apakah itu tidak cukup?” terdengar suara pria itu berbicara.
Wajah pria itu nampak masam seketika.

”Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.... Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?!”
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, ketika dilihatnya pria itu menutup teleponnya; ada kekesalan di wajah pria itu.
Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada pria itu: ”Pak, apakah anda butuh wanita…?" Huffh ....
Pria itu menatap sekilas ke arah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.

”Ada wanita yang duduk di sana,” petugas satpam itu menujuk ke arah wanita tadi, ia tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini. “Dia masih perawan....”

Pria itu mendekati petugas satpam itu, wajah mereka hanya berjarak sejengkal. ” Benarkah itu?”
”Benar, Pak.”
”Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu.…”
”Dengan senang hati. Tapi, Pak…, wanita itu minta harga setinggi tingginya.”

”Saya tidak peduli….” Pria itu menjawab dengan tegas.

Pria itu menyalami hangat wanita itu.

”Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah!” kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
”Mari kita bicara di kamar saja,” ajak pria itu sambil menyisipkan uang ke genggaman petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar.…

”Beritahu berapa harga yang kamu minta!”
...
”Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit....”

”Maksud kamu?”

”Saya ingin menjual satu-satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Hanya inilah cara yang saya lihat…. ”

”Hanya itu…?”

”Ya!”

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut ke mana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan di atas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

”Siapa nama kamu?”

”Apakah itu penting? Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar.… ” kata wanita itu.

”Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. ”

”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan!” cetus wanita itu sembari beranjak menuju pintu.

”Ada, tunggu dulu! ” cegah pria itu seketika.

”Sebutkan!”

”Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit.... Dan, sekarang pulanglah… ” kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

”Saya tidak mengerti….”

”Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tetapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar….”

”Dan, apakah Bapak ikhlas?”

”Apakah uang itu kurang? ”

”Lebih dari cukup, Pak ….”

”Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal?”

”Silahkan….”

”Mengapa kamu begitu berani…?”

”Siapa bilang saya berani? Saya takut, Pak….
Tetapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal.
Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya..., maka itu bukanlah karena dorongan nafsu; bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh`.… Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan….”

”Keyakinan apa?”

” Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan-lah yang akan menjaga kehormatan kita….”

Wanita itu kemudian melangkah ke luar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:

”Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini…?”

”Kesadaran….”

~~~

Di sebuah rumah di pemukiman kumuh.... Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.

”Kamu sudah pulang, Nak?”

”Ya, Bu.…”

”Ke mana saja kamu, Nak…? Huffh!”

”Menjual sesuatu, Bu….”

”Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini; di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakkan.

Tetapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan ....

”Kini saatnya ibu untuk berobat.…”

Wanita itu menggendong ibunya dari pembaringan sembari berkata: ”Tuhan telah membeli yang saya jual....”

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di mulut gang depan rumahnya.

Dimasukkannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir: ”Antar kami ke rumah sakit....”

sumber: catatan facebook seorang teman (coppast + edit)

Jumat, 23 Maret 2012

IRONISME SEMANGKUK BAKSO SEGENGGAM PENYEDAP: FENOMENA GOLPUT(?), WABAH GOLTAP(!)

Oleh Zakirman Tanjung

KEKUATIRAN banyak pemerhati politik terhadap rendahnya tingkat partisipasi publik pada pemilihan umum (pemilu) legislatif dan presiden cukup dapat dimengerti. Fakta pada beberapa pemilihan kepala daerah (pilkada) menunjukkan kecenderungan demikian; tingkat partisipasi publik hanya berkisar 50 s/d 60%.

Secara hukum, seberapa pun tingkat keikutsertaan pemegang hak memilih terdaftar yang menggunakan haknya dalam pemilu tidak ada masalah. Sebab, belum ada satu aturan pun yang menyaratkan kuorum atau presentase tertentu sebagai batasan sah-tidaknya pemilu. Andai cuma 10% pemilih terdaftar saja yang menggunakan hak pilih – atau malah di bawah itu – hasil pemilu akan tetap sah dan takkan diulang. 

Hanya saja, semakin kecil partisipasi pemilih, legitimasi figur pemimpin / wakil rakyat  terpilih juga semakin rendah. Dengan alasan “demi hukum”, figur-figur tersebut boleh saja berkuasa, tetapi kepemimpinannya tidak diakui mayoritas rakyat.

Hal ini bisa menyebabkan kepercayaan dan dukungan rakyat terhadap pemimpin atau legislator hasil pemilu akan sangat rendah. Dampak lanjutannya, apapun kebijakan yang dilahirkan pemimpin demikian takkan dianggap oleh rakyat. Artinya, pemimpin bak kata pemimpin, rakyat bak kata rakyat pula.

Siapapun di antara kita pasti berharap akan tercapai suatu harmonisasi dalam hubungan antara pemimpin dan rakyat; baldatun tayyibatun warrabun ghafuur. Pemimpin mencintai rakyat, rakyat mencintai pemimpin. Maka, kalimat-kalimat indah tentang kecintaan terhadap bangsa dan negara akan terwujud. Betapa indah jika impian masa-masa menuntut ilmu di bangku sekolah dasar (SD) menjadi kenyataan!

Sayangnya, semua itu hanya tersimpan dalam buku catatan lusuh Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kini berganti nama menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarga-Negaraan (PPKN). Realita yang kita dapati sering berbanding terbalik. Rakyat menentang para pemimpin dan wakil mereka di lembaga legislatif dengan demonstrasi disertai aksi-aksi brutal bin anarkis. Mungkin mereka sudah terlalu muak terhadap banyaknya tikus bergentayangan, lalu tanpa berpikir panjang nekat membakar lumbung padi.

Kita tentu tak habis pikir, bagaimana mungkin rakyat bangsa yang terkenal berbudi luhur dengan ketinggian budaya seperti Indonesia bisa berprilaku sebagaimana orang bar-bar? Membakar, merusak dan menghancurkan jadi pemandangan rutin yang tertayang di layar televisi. Pelakunya seperti tidak berpikir jika akibat perusakan yang mereka lancarkan pasti dibayar dengan menyedot anggaran daerah dan negara, anggaran yang sebenarnya untuk perbaikan taraf ekonomi mereka juga sebagai rakyat.

Tetapi, begitulah kenyataan yang berlangsung, terutama semenjak kran yang disebut era reformasi terlepas dari sumbatan. Satu lagi impian yang terajut pertengahan 1998 menguap ke awang-awang!

Semua tentu bukan tanpa penyebab. Reformasi di negeri kita bagai menjadi selubung bagi para oknum yang beruntung terpilih menjadi penguasa. Mereka seperti memperoleh suasana untuk melabuhkan hasrat terkekang. Maka, berbagai aturan pembenaran mereka lahirkan, intinya untuk peningkatan kesejahteraan aparatur penyelenggara negara, tak terkecuali para wakil rakyat. Air liur rakyat sebagai pemilik sah negara ini pun berjelijehan!

Secara logika, upaya peningkatan penghasilan penyelenggara negara sangat dapat diterima. Kalau sudah hidup layak, mereka diharapkan bakal melabuhkan pengabdian maksimal. Setelah kebutuhan terpenuhi tentulah mereka akan mencurahkan seluruh perhatian, pemikiran, waktu dan tenaga untuk sepenuhnya melayani dan mengusahakan hajat hidup dan kepentingan rakyat. Akan tetapi, ternyata hal itu hanyalah logika terhadap manusia beradab.

Tindak pidana korupsi, kolusi, manipulasi dan nepotisme (KKMN) bahkan kian menjadi-jadi, bagai menjadi budaya dan peradaban baru para oknum penyelenggara negara ini. Seorang pengamat menyebutnya sebagai peningkatan luar biasa. Menurutnya, jika dulu perbuatan korupsi masih dilakukan di bawah meja alias malu-malu, belakangan justru terang-terangan di atas meja, jika perlu sekalian dengan mejanya juga dikorupsi. Tak ayal, tindak pidana KKMN pun terorganir dan terstruktur dengan modus yang makin rapi.

Di sisi lain, upaya pemberantasan KKMN pun terkesan gencar. Tanpa menunggu lama, pemerintah melengkapi institusi dan konstitusi khusus untuk itu. Publikasi kinerja institusi tersebut pun dikemas dengan dahsyat. Hanya saja, disebut “terkesan” karena upaya demikian lebih pada gebyar belaka, seakan-akan pemberantasan KKMN benar-benar serius.

Persoalannya, upaya dimaksud juga tersendat oleh rumit dan berbelitnya proses hukum, belum lagi terganjal oleh apa yang digembar-gemborkan sebagai hak azasi manusia (HAM).

Inilah ironi penegakan hukum! Akibatnya, kemampuan institusi itu melakukan pemberantasan KKMN tak sebanding dengan pertumbuhannya. Entah lantaran perlakuan aparat penegak hukum terhadap tersangka, terdakwa dan terpidana-nya terlalu manusiawi, praktek-praktek KKMN tetap – bahkan makin – tumbuh subur dengan beragam modus operandi.

Fakta-fakta demikian terpertontonkan kepada rakyat tanpa sensor, terlebih lagi didukung oleh kebebasan informasi. Rakyat pun jadi jenuh dan muak, lalu memilih pilihannya sendiri. Dengan berupaya mengebalkan diri terhadap berbagai derita yang diakibatkan oleh krisis multidimensi, mayoritas rakyat mencoba bertahan hidup dengan cara masing-masing. Namun, konsekuensinya, mereka kehilangan kepedulian terhadap politik penyelenggaraan daerah dan negara.

Sikap-sikap ketidakpedulian inilah yang mencuat ke permukaan. Semakin banyak saja rakyat yang bersikap tidak mau tahu terhadap penyelenggaraan pemilu, pilkada atau pilpres. Pemimpin berganti atau tidak, bagi mereka sama saja. Partai politik bertumbuhan atau bertumbangan sekali pun, bagi mereka tak ada artinya. Ada atau tidak wakil rakyat bagi mereka tak ada bedanya. Pemerintahan bagi mereka antara ada dan tiada.

Kondisi beginilah sesungguhnya yang melatari mengapa semakin kecil saja tingkat partisipasi rakyat dalam pemilu, pilkada atau pilpres. Baik secara moril maupun – apalagi – materil, mereka merasa tak memiliki kaitan dengan pemilu yang cendrung melahirkan perubahan bohong-bohongan.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) boleh-boleh saja menghamburkan uang sampai puluhan miliar rupiah untuk memuat iklan di media massa guna menyosialisasikan daftar caleg sementara dan tetap, tetapi bisa diyakini tidaklah seberapa yang mencermati karena kebanyakan rakyat tidak peduli.

Satu-satunya solusi, munculnya figur kharismatik di antara elemen bangsa ini; figur yang terjun ke medan politik tidak semata-mata untuk politik tetapi lebih mengedepankan jiwa kenegarawanan yang tulus. Pertanyaannya, apakah di Indonesia figur negarawan seperti itu ada? Faktanya, bangsa ini sepertinya hanya dihuni para politisi. Negarawan sudah pada wafat atau mungkin belum lahir. Entah kapan kita punya Bung Hatta lagi, entah kapan Buya Hamka hidup lagi, entah kapan figur-figur seperti Muhammad Natsir kita miliki lagi!

Sesungguhnya siapa saja bisa membangun kharismatika diri di depan publik. Syaratnya tidak berat. Cukup memiliki kemauan yang kuat ke arah itu disertai ketulusan menunaikan pengabdian. Dalam tataran politik boleh-boleh saja memanfaatkan jalur publikasi, akan tetapi penyajiannya hendaklah tidak terlalu berlebihan. Bagaimanalah rasanya semangkok bakso yang dibubuhi segenggam bumbu penyedap?

Untuk meraih simpati publik banyak figur politisi menggambarkan dirinya teramat bersih dan punya kemampuan luar biasa dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Mereka pun mengemas pencitraan tentang dirinya melalui berbagai media, tetapi menyembunyikan ambisi-ambisi purbawi jika kelak mengantongi amanah rakyat. Dengan kata lain, mereka tak segan-segan menghejan tuah yang sebenarnya tidak mereka miliki.

Tidak banyak, bahkan nyaris tak ada, figur politisi kita yang mengedepankan kerendah-hatian dengan menyatakan jika diri mereka adalah manusia biasa dengan segala kekurangan, bukan malaikat, apalagi punya kemauan memberikan pendidikan politik untuk mencerdaskan rakyat pemegang hak memilih. Sebaliknya, kebanyakan politisi cendrung melakukan pembodohan publik!

Kalau pun ada figur kharismatik di negeri ini, sayangnya, terkesan tidak memiliki sikap percaya diri. Untuk menyatakan dirinya figur terbaik, ia tak segan-segan menjelek-jelekkan pihak lain yang menjadi lawan politik. Metode MSC alias menghalalkan segala cara diterapkannya tanpa sisa. Akibatnya, lama-kelamaan publik pun muak terhadap figur itu.

Jadi, titik persoalan mengapa tingkat partisipasi rakyat pemegang hak memilih relatif, bahkan semakin, rendah bukanlah menggejalanya fenomena golongan putih alias golput. Sebab, pemilih golput jelas-jelas mempunyai pilihan untuk tidak memilih. Sikap tersebut mereka ambil setelah mencermati dan ternyata tidak ada figur calon anggota legislatif, kepala daerah atau presiden yang layak menurut mereka.

Titik persoalannya adalah semakin banyak rakyat yang tidak peduli pada perpusaran politik! Tipe rakyat seperti ini penulis sebut sebagai goltap alias golongan tak peduli.

Persoalan sesungguhnya yang dihadapi bangsa ini adalah banyaknya goltap; ada pemilu atau tidak, wakil rakyat / pemimpin berganti atau tidak, toh kondisi bangsa / daerah tak jua berubah. Mereka pun bersikap apatis.

Goltap inilah yang perlu disikapi, bukan golput!

Lalu, siapa yang peduli pada – dan punya kemauan kuat menumbuhkan kepedulian – mereka? 

Padang, 13 Februari 2009


Berminat diskusi politik dengan penulis? Silahkan kontak via email: tzakirman@gmail.com