Sabtu, 22 Juni 2013

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN RI




Dear Presiden RI
Pak Presiden yang baik,
Harga BBM naik, dengan gagah dan baik hati konon Bapak akan memberi kami kompensasi; Bapak akan membuat kami mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan. Tetapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami mengantre panjang mengular dari Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak! Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin.

Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami, pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian nasional’ yang konon sedang gawat itu. Tak perlu naikkan BBM, pakailah uang kami itu: kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan bangsa!

Hidup kami sederhana kok, Pak, disambung lembaran-lembaran uang recehan. Ilmu hitung kami pun kelas rendahan: berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya transportasi, biaya listrik bulanan dan kadang- kadang cicilan motor, dispenser atau DVD player. Tak perlu kalkulator.

Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit, kami tidak ke mana-mana, Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi meski kadang kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang beberapa anak buah Bapak yang korupsi.

Bila perlu, Pak, berdirilah di hadapan kami, katakan apa yang negara perlukan dari kami untuk menyelamatkan kegawatan bencana ekonomi negara ini? Bila Bapak perlu uang, kami akan menjual ayam, sapi, mesin jahit, jam tangan, gitar ,bass, alat-alat musik kami atau apa saja agar terkumpul sejumlah uang untuk melakukan pembangunan dan penyelamatan perekonomian bangsa. Bila Bapak disandra mafia, oknum-oknum pejabat yang bangsat atau oknum-oknum pengusaha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami: siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk membantumu melenyapkan mereka – tentu saja "semoga Anda bukan salah satu bagian dari mereka”!

Please… bagikan / share / forward ke teman-teman lainnya, jangan berhenti padamu, Pak, Bu, Oom, Tante, Bung & Nona – mudah-mudahan sampai ke Jokowi!

Salam Anak Negeri






Petisi 181 Juta Jiwa Lebih



izinkan saya menikmati kemerdekaan negeri ini, Pak!

saya hanya menghargai jasa pahlawan

kita sama-sama membenci penjajahan kan, Pak?

saya bukan gepeka, hanya penegak

kebenaran sering rebah, Pak

terinjak-injak

saya cuma cari makan

juga membajui Ibu Pertiwi

agar tidak usil dijahili jemari usil


izinkan saya memiliki kemerdekaan negeri ini, Pak!

saya juga cucu-buyut moyang yang berjuang

kemerdekaan ini untuk kita kan, Pak?

bagi mereka telah cukup seliang lahat sebilah papan

barisan doa dari kita yang rela berkhusu’


izinkan saya mempertahankan kemerdekaan negeri ini, Pak!

sebab, masih banyak famili kita yang tertindas di kolong-kolong keserakahan dimulutmanisi janji-janji imitasi

saya bukan gepeka hanya pembela

keadilan sering diomongkosongkan

padahal kita membutuhkannya kan, Pak?


Izinkanlah saya berjuang, Pak!

ternyata kemerdekaan belum sempurna

di sana-sini masih buka praktek penjajahan

entah legal atau tak ada yang berani menjegal


gepeka = generasi penggugat kemerdekaan


Jakarta, 1994




Puisi ‘Petisi 181 Juta Jiwa Lebih’ telah dipublikasikan Surat Kabar Suara Pembaruan, Jakarta, Minggu 12 Februari 1995




 Bulan Madu Negeri Pengungsian



kita kenyangi lapar ini dengan tawa

aku tak kuasa menatap bola di matamu

getir enggan beranjak

padahal kita begitu sering mengajaknya

mendustai kenyataan


mala mini kuingin mengulum lembut bibirmu

sayang terlanjur pagi kau menelannya

“pengganti sarapan,” cetusmu memelas


kita susuri hamparan retak-rengkah

kau bergelayut di belulang pundakku

trenyuh sapaan kanan – kiri

padahal kita bukan petugas kemanusiaan

aku ingin mengajakmu menyanyi

cacing-cacing di perut kita duluan bersenandung

tertegun, kita bertatapan, menikmati


“aku ngidam lihat hutan pegunungan,” rengekmu mengiris hati

kubawa kau terlelap ke barak

di mimpi kita menceburi sungai siak

kau tersenyum memipil sebelah jantungku


Perbatasan Zaire – Rwanda, 1995




Surat Anak Pengungsi



saya ingin menangis, Kak

tapi tak punya airmata lagi

air liur pun kering-kerontang

kamp-kamp pada tandus

perang itu jahat ya, Kak!



Kak, Indonesiamu indah ya?

hutannya sejuk rimbanya teduh

masa-masa sekolah mengasyikkan

oow, Indonesiamu di ujung angan

Kak, kirimi saya sedahan pinus


lapar kami beritamu, tangis kami nyanyianmu

tercetak di Koran-koran

tersiar di radio

kau tayangkan di televisi



Kak, kapan hujan akan turun?

kapan saya bias menangis lagi?



Ethiopia, 1989




Surat Tawanan Perang



kalau kau pernah merenung sesaat

longoklah kamp-kamp tandus dan gersang

tataplah negeri kami, rengkah tanah merah

genderang, biola dan pembantaian



kalau kau pernah masuk penjara

anak – binimu masih bisa melepas rindu

rasakan derita kami di sini

korban kebuasan nafsu duniawi


kalau kau pernah menanggung lapar

waktu berbuka dating menanti

sekadar tidur tak kami kata

bukan tangis narapidana



Palestina, 1988


Ketiga puisi di atas telah dipublikasikan Surat Kabar Riau Pos, Pekanbaru, Minggu 4 Mei 1997









Zakirman Tanjung (tzakirman@gmail.com)

atau pernah mempopulerkan diri dengan nama pena Zastra Certa (Zakirman Susastra Cancer Tanjung) dan Playboy Pattikawa, lahir 29 Juni 1969. Menulis puisi, cerita fiksi, opini dan surat cinta sejak masih di bangku SD tetapi baru mulai mempublikasikannya Agustus 1985. Pernah kuliah di Fakultas Sastra Universitas Andalas (BP 90184041) kemudian keluar setelah memecat rektor, memberhentikan dekan dan membebas-tugaskan dosen-dosen.