Jumat, 26 Oktober 2012
Minggu, 19 Agustus 2012
WANITA DI OTAK LAKI-LAKI
Kamu tahu kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab?
Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi.
Dan kamu tahu? Di kampus tempat saya seharian di sana, ke mana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.
Melihat ke depan ada perempuan berlenggok dengan seutas tank top, menoleh ke kiri pemandangan 'pinggul / udel terbuka', menghindar ke kanan ada sajian 'celana ketat plus you can see', berbalik ke belakang dihadang oleh 'dada indah/montok menantang!'
Astaghfirullah... ke mana lagi mata ini harus memandang?
Kalau berbicara nafsu, ooow... jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tetapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang.
Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tetapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran 'culas' dan hati pun menjadi keras.
Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi; kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk menikmati 'aset berharga' yang mereka punya.
Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi.
Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitu: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!
Mau tidak mau, sengaja atau pun tidak, anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apakah itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan, siapa yang semestinya disalahkan?
Saya yakin, anda menjawabnya 'lelaki' bukan?
Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki normal di jaman sekarang ini!
Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang menawari. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk mendapatkan.
Nah, apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai? Saya yakin, siapa yang melihat tentulah ingin mencicipinya.
Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap hari!. Saya ingin protes, tapi mau protes ke siapa? Atau, apakah saya harus menikmatinya...? Tetapi, saya sungguh takut dengan Dzat Yang Memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan penglihatan ini? Sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya!
Allah Subhannahu Wa Taala telah berfirman: Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya," yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur : 30-31)
Jadi, tak salah bukan(?) kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggungjawabkan nantinya di akhirat.
Jadi, tak salah juga bukan(?) kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.
Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu, bahkan semakin, menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk, kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?
So, saudariku muslimah, berjilbablah ...(!) karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempesona dan tentunya sejuk di mata lelaki.
Allah Subhannahu Wa Ta'ala mewajibkan perempuan berjilbab; please baca Al-Qur'an surah ke-33 Al-Ahzab ayat 59:
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
http://twitter.com/Oom_Zast
http://www.facebook.com/zakirman.tanjung
Kamis, 26 April 2012
Minggu, 08 April 2012
Cerita Cinta Seorang Suami (Ratap Sesal Seorang Isteri)
|
Minggu, 01 April 2012
HUBUNGAN SEKS JUSTRU PERLANCAR PERSALINAN
Hamil bukan halangan berhubungan intim. Asal tahu posisi yang nyaman dan aman, suami istri masih bisa menikmatinya.
Hubungan seks yang memiliki tiga fungsi, yakni fungsi reproduksi (keturunan), rekreasi, dan ekspresi cinta merupakan kebutuhan setiap suami istri. Fungsi yang terakhir biasanya dibutuhkan wanita hamil. Selain itu dengan berhubungan intim, wanita hamil dengan tubuh membesar akan merasa dirinya makin dicintai suaminya. Sedang bagi suami, ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri karena dianggap mampu memberikan keturunan. Ekspresi cinta itulah yang dibutuhkan kedua pasangan ini untuk semakin mempererat hubungan pasutri mereka.
Lantas sejauh mana hubungan intim ini aman, khususnya bagi wanita hamil? Menurut Konsultan Seks dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG,. selama dokter kandungan tidak mengatakan rawan keguguran, rentan perdarahan, berisiko pecah ketuban, atau ari-ari janin berada di bawah, hubungan intim aman untuk dilakukan. Saran Boyke lagi, jangan segan dan banyak bertanya kepada dokter kandungan dan lakukanlah konsultasi itu minimal sebulan sekali.
Sperma Bikin Perut Mulas
Tidak hanya untuk memenuhi ekspresi cinta, jika di usia kandungan 39-40 minggu ibu hamil tidak juga merasakan tanda-tanda persalinan pancinglah dengan melakukan hubungan intim juga bisa memancing.
Berdasarkan penelitian, sperma pria yang mengadung prostaglandin bisa mengakibatkan kontraksi pada rahim dan menyebabkan mulut rahim terbuka, selain itu bisa juga membuat perut Si Ibu terasa mulas. Sayangnya, banyak ibu hamil yang mengira salah satu penyebab keguguran adalah dikarenakan hubungan intim. Padahal, mulas dari prostaglandin tidak sampai menyebabkan keguguran, lho. “Jadi jangan disalahkan seksnya. Itu (keguguran, Red.) bisa saja terjadi karena letak rahimnya yang tidak normal (kandungan lemah), ada kelalaian pada rahim (moima atau kista), atau kelainan pada bayi (kromosom, ari-ari). Seksnya sendiri tidak mengganggu, kok, sekalipun pasutri melakukannya dengan sangat bersemangat,” terang Boyke.
Bisa Tiap Hari
Berapa kali sebaiknya wanita hamil melakukan hubungan intim, itu tergantung dari kebutuhan wanita hamil tersebut. Di awal kehamilan, hormon pada ibu hamil membuat beberapa wanita hamil lebih doyan melakukan hubungan intim. Dorongan seksual itu juga muncul dari suami yang merasa istrinya terlihat lebih seksi saat sedang hamil (misalnya karena tak tahan melihat payudara dan bokong istrinya yang membesar). Saran Boyke, terima semuanya itu sebagai kewajaran.
“Seberapa seringnya tidak ada batasan. Semuanya on demand (sesuai kebutuhan). Kadang ada suami yang merasa takut istrinya tidak merasa nyaman, tapi di sisi lain istrinya pengin . Ya, lakukan saja. Saya pernah punya pasien yang pada saat hamil melakukan hubungan intim sampai 12 kali dalam sehari. Tingginya dorongan seksual itu dikarenakan istri merasa lebih bahagia dan menganggap dirinya lebih sempurna di saat hamil.“
Posisi yang Aman
Saat sedang hamil, kadang Si Ibu merasa perlu berhati-hati melakukan segala sesuatu, khususnya berhubungan intim. Nah agar tidak sampai salah tindakan, berikut posisi hubungan intim yang aman bagi wanita hamil:
1 Di usia kehamilan muda (0-12 minggu), menurut Boyke, posisi apapun masih sangat aman dan boleh dilakukan.
2. Sedang jika usia kandungannya di atas 12 minggu, ada baiknya istri mengonsultasikan ke dokter kandungan untuk melihat kondisi kehamilannya. Biasanya sih dalam usia kandungan ini, posisi menyamping (sideways ), menungging (doggy position ), dan duduk (woman on back ) masih aman dan lebih dianjurkan untuk dilakukan. “Posisi ini masih nyaman bagi istri. Pokoknya selama dokter kandungan mengatakan aman, lakukan saja,” ujar Boyke.
3. Jika sudah mendekati usia 29-36 minggu (jelang persalinan), lebih dianjurkan untuk melakukan posisi miring (spooning ) atau duduk (sitting , woman on top ). “Doggy style /rear entry juga masih boleh, tapi kalau Si Istri merasa perutnya keberatan atau sakit, coba tahan perutnya dengan bantal untuk mendapatkan posisi nyaman.”
Kenapa Menolak?
Kehamilan itu Indah, begitu juga dengan seks. Jadi selama dokter mengatakan aman, lakukanlah seks sesuai dengan kebutuhan. Jangan menjadikan kehamilan sebagai alasan untuk menolak hubungan seksual. Suami juga jangan menjadikan penolakan istri sebagai alasan mencari “jajanan” di luar. Lebih baik, lakukan komunikasi dua arah. Rundingkan soal posisi-posisi berhubungan intim yang membuat Anda dan pasangan merasa aman dan nyaman.
Namun tak jarang juga saat sedang hamil, ada istri yang tidak mau “disentuh” suaminya. Alasannya bisa jadi karena:
Termakan mitos yang mengatakan janinnya akan keguguran jika perut hamilnya tersentuh saat berhubungan seks. Ini jelas pandangan yang salah. Seks sering dijadikan kambing hitam. Jika ada sesuatu terjadi pada kandungan, ibu hamil sering menyalahkan seks. Inilah yang kemudian membuat wanita hamil takut melakukan hubungan seksual.
Terlalu berhati-hati melakukan sesuatu kala hamil. Usahakan rileks saja. Ada yang bilang, turunnya dorongan seks pada wanita hamil dikarenakan hormon. Yang benar, dorongan itu turun karena ngidam dan mual yang berat. Seringkali ibu hamil berkata, “Boro-boro mau berhubungan seks, wong aku aja sedikit-sedikit muntah. Masak kondisi begini aku masih harus melayani suami!”
Sejak istri hamil, suami kurang perhatian dan membuat istri merasa sendiri. Tapi, ketika butuh seks, suaminya (tanpa merasa bersalah) meminta. Jadi untuk membalasnya, istri menolak suami untuk melakukan pembalasan secara psikolog
===
Hubungan suami Istri saat hamil 9 bulan diyakini oleh banyak orang dapat mempercepat proses persalinan. Padahal pendapat tersebut bisa benar namun juga bisa salah. Apabila Hari Perkiraan Lahir yang diperkirakan dokter masih jauh, maka aktivitas ini tidak berpengaruh terhadap induksi persalinan.
Namun, apabila Berhubungan badan saat hamil dilakukan apabila usianya memang sudah melebihi HPL, maka berdasarkan berbagai penelitian mampu mempercepat proses persalinan. Hubungan Suami Istri saat Hamil tua dapat mempercepat persalinan karena sperma pria mengandung hormon prostaglandin, yang dapat membantu melembutkan dan mematangkan serviks ibu hamil agar siap untuk persalinan.
Cara ini sebenarnya adalah teknik lama yang efektif memacu terjadinya persalian. Selama berhubungan suami istri, tubuh akan melepas hormon oksitosin yang dapat merangsang kontraksi. Sperma akan membantu melembutkan leher rahim sehingga dapat melebar dan mempermudah kepala bayi melaluinya.
Namun tentu yang perlu diingat adalah hubungan suami istri bisa dilakukan dengan posisi yang aman dan tidak boleh dilakukan apabila ketuban sudah pecah sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi.
FILOSOFI SOPIR: CARA WARTAWAN BERSIKAP
Oleh : Zakirman Tanjung *)
PEMBERITAAN yang kita saksikan, dengar dan baca di media publik umumnya melalui proses pembuatan oleh para pewarta dan tim kerja di meja redaksi. Semakin layak suatu berita akan semakin panjang proses penggarapannya. Berita yang baik dan benar bukanlah gunjingan melainkan hasil kerja profesionalistik wartawan dan tim redaksi.
Dengan demikian, pemberitaan yang dirilis asal jadi, dengan maksud semata-mata cepat saji, dapat dikategorikan sebagai gas beracun, terlebih jika tidak memuat seluruh aspek terkait. Dalam hal ini, pemberitaan jurnalistik yang benar haruslah konprehensif alias menyeluruh. Sifatnya tidak hanya menginformasikan, tetapi mesti berimbang atau tidak sepihak.
Pengertian tidak sepihak adalah pemberitaan bersifat negatif -- baik mengenai orang, lembaga maupun organisasi -- harus melengkapi penjelasan atau konfirmasi orang atau pihak yang terkait dengan lembaga atau organisasi dimaksud dalam berita pada judul yang sama. Informasi dan konfirmasi haruslah padu, tidak terpisah oleh halaman, rubrik dan waktu penyajian.
Dengan demikian, seorang pewarta wajib profesional, dia harus mengerti dan memahami benar tugas-tugas dan fungsinya. Jika tidak, ia tak pantas dan tak layak menyebut diri atau disebut wartawan. Sebab, pemberitaan yang disajikan secara tidak profesional bisa (dan sering telah) menyebabkan bencana sosial yang sangat dahsyat. Jangankan seseorang, negara dan peradaban pun bisa hancur karenanya.
Terkait hal ini, Tuhan Pencipta dan Penguasa alam ini bahkan sejak awal sudah mengingatkan:
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. [Al-Qur'an surah Al-Hujurat (49) ayat 6]
Wartawan yang profesional bukanlah pekerja, bukan pula budak kapitalis alias pemodal usaha penerbitannya tempatnya bergabung. Dengan profesinya wartawan memang membutuhkan penghasilan untuk biaya hidup dan lain-lain, akan tetapi dia tidak boleh menghalalkan segala cara.
Sejelas dan senyata apa pun informasi yang diterima wartawan, malahan ia saksikan sendiri kejadiannya -- kalau menyangkut citra seseorang, lembaga atau organisasi -- si wartawan tetap wajib melakukan konfirmasi sebelum menyajikannya dalam bentuk pemberitaan di media publik. Alasan dikejar deadline, lalu tidak melakukan konfirmasi, sangat tidak dapat diterima. Termasuk dalam hal ini (bahkan) pernyataan resmi pejabat pemerintah sekali pun tentang kondisi rakyat.
Pemahaman ini sangat penting! Jangan lantaran pernyataan resmi pejabat pemerintah... lalu otomatis benar. Belum tentu! Contohnya tentang kesejahteraan rakyat, angka pengangguran dan pembangunan fasilitas umum. Wartawan yang cerdas takkan mempublikasikan begitu saja sebelum melakukan cek dan ricek faktanya di lapangan, kecuali dalam bentuk pariwara.
Pariwara merupakan pemberitaan yang bersifat pesanan dan pemesannya membayar ke perusahaan penerbit, penempatannya harus jelas, bukan terselubung. Oleh karena itu, pariwara tidak layak disebut karya jurnalistik.
Meski demikian, walau profesi wartawan telah dilindungi dan diatur secara khusus dengan UU 40/1999 tentang pers, kemudian ada pula kode etik jurnalistik (KEJ) serta undang-undang tentang keterbukaan informasi publik (KIP), menjalankan profesi kewartawanan tidaklah mudah; lebih-lebih dalam penggarapan berita yang bersifat penyelidikan (investigated report). Biasanya banyak kendala yang menghadang.
Jangankan untuk memperoleh pemberimbangan, mengumpulkan informasi awal saja terkadang sangat susah dan rumit. Banyak informan yang cendrung memberi informasi yang bersifat sepotong-sepotong, itu pun tidak pula mau bertanggungjawab; dengan kata lain meminta identitasnya dirahasiakan. Belum lagi upaya memperoleh konfirmasi agar penyajian laporan atau berita jadi berimbang.
Namun, bagi wartawan profesional, hal ini justru sangat menarik dan menantang. Mereka takkan serta-merta menyerah. Kepiawaian, kemampuan, pengalaman dan nyali wartawan pun diuji untuk menyajikan berita atau laporannya secara bernas dan cerdas. Banyak cara elegan yang bisa dilakukan supaya karya jurnalistiknya yang berbobot bisa terwujud.
Mengacu pada filosofi rumah makan (jika hidangan dan pelayanan memuaskan), pemberitaan yang ditulis tidak akan mencemarkan nama baik orang, lembaga atau organisasi yang akan diberitakan, tidak apalah jika tak dikonfirmasikan. Dalam konteks tertentu, menyebut-nyebut kebaikan pihak lain itu justru akan disukai yang bersangkutan. Jika sebaliknya, harus dikonfirmasikan dulu kepada pihak terkait.
Hanya saja, melakukan konfirmasi atas suatu informasi negatif bukanlah urusan mudah. Pihak terkait yang sedang terbelit masalah umumnya cendrung menghindari wartawan. Akan tetapi, usaha mendapatkan konfirmasi tidak boleh mentok atau nekat melakukan tabrak lari.
Tabrak lari yang dimaksud adalah dengan menulis pada bagian akhir laporan / berita: "Pejabat anu yang hendak dikonfirmasikan, Senin siang, ternyata tidak berada di kantornya. Sementara telepon selulernya ketika dihubungi tidak pula aktif..."
Ketika melakukan konfirmasi dengan cara menemui pihak terkait atau diduga terlibat dalam suatu kasus / permasalahan, wartawan biasanya akan berhadapan dengan dua hal. Pertama, ditawari uang sogok alias 86 atau menerima ancaman jika nekat mempublikasikan kasus oknum yang ditemui; alih-alih memperoleh konfirmasi.
Setelah segala usaha ditempuh, dengan pijakan tidak boleh menyerah, seorang wartawan profesional tetap mewujudkan karya jurnalistiknya. Artinya, walau tidak memperoleh konfirmasi pun, tetapi sudah bertemu dengan pihak terkait yang justru menawarkan seonggok uang sogok -- lalu, karena tak mempan, si oknum menyatakan ancaman, si wartawan sudah boleh mempublikasikan laporannya. Pada akhir berita bisa ditulis, "Pejabat anu yang hendak dikonfirmasikan, Senin siang, menolak memberikan penjelasan..."
Dalam kaitan ini berlakulah filosofi sopir bus. Pada suatu ketika, sewaktu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi berkisar 80 s/d 100 km/jam dengan sarat penumpang, si sopir dikagetkan oleh seseorang yang menyeberang mendadak. Maka, dalam waktu sepersekian detik naluri si sopir langsung bekerja untuk menentukan pilihan sikap.
Berdasarkan pengalamannya mengendara, secara naluriah sebenarnya ada tiga pilihan yang bisa dia ambil untuk menyelamatkan si penyeberang. Pertama, melakukan pengereman; tetapi lantaran jarak yang teramat dekat jadi tidak memungkinkan, jika dipaksakan mengerem pakem bus bisa jungkir-balik. Kedua, banting kiri; juga tak mungkin karena selokan lebar dan dalam siap menanti. Ketiga, banting kanan; ada kendaraan lain melaju berlawanan arah dengan kecepatan tinggi.
Ketiga pilihan itu sama-sama berisiko terjadi kecelakaan fatal. Puluhan penumpang bus, termasuk si sopir, bisa jadi korban sia-sia. Maka, alternatif paling cerdas adalah pilihan keempat, menabrak penyeberang; tak peduli apakah dia rakyat biasa atau orang penting. Perbandingannya adalah jumlah nyawa.
Begitu pulalah dengan wartawan. Ketika berhadapan dengan kasus yang ia duga bisa merugikan banyak orang, termasuk dirinya sebagai bagian dari rakyat, naluri dan nuraninya akan mendorongnya bertindak berani; tentu saja setelah melalui proses yang benar dan cerdas.
Sebab, perlu juga menjadi pertimbangan, dengan mengungkap suatu kejahatan -- umpamanya kasus korupsi dalam penyelenggaraan pemerintahan -- tidak ada jaminan persoalan akan tuntas. Wartawan dituntut memiliki kemampuan melakukan follow up (tindak-lanjut) terhadap kasus yang dia ungkap.
Seorang wartawan sejati semestinya tidak hanya memiliki keberanian, naluri yang tajam, kecerdasan dan kemampuan yang terasah, tetapi hendaknya juga memungsikan hati nurani secara benar. Sebab, perbuatan mengungkapkan suatu fakta secara sembrono, bisa mengakibatkan terjadinya hal-hal yang fatal; bukan hanya terhadap orang / objek yang dia sasar dan dirinya, melainkan terhadap kondisi sosial secara umum.
17 Mei 2011 -- 07.19 wib
Filosofi Sopir (2): Cara Wartawan Bersikap
Langganan:
Postingan (Atom)




