Jumat, 26 Oktober 2012

FILOSOFI HIDUP


Dalam hidup ini...
terkadang
kita membenci kehadiran orang-orang yang menyusahkan kita;

terkadang
kita risau pada kondisi yang tidak menyenangkan atau kendala yang menghadang;

Namun, ketahuilah, semua itu hanyalah soal-soal ujian yang diberikan Tuhan; jika kita mampu menjawab dan mengatasinya dengan baik dan benar, niscaya kita akan lulus dengan prediket memuaskan

==========

Maka...
tersenyumlah
meski dunia cuek padamu

tersenyumlah
meski duka mendekapmu

tersenyumlah
meski amarah memenuhi dadamu

tersenyumlah
meski tak semua tahu deritamu

tersenyumlah!
niscaya semua akan terasa indah

========

sebab...
= Hidup adalah belajar =

Belajar bersyukur meski tak cukup;
Belajar ikhlas meski tak rela;
Belajar berbagi meski membutuhkan;
Belajar taat meski berat;
Belajar memahami meski tak sehati;
Belajar bersabar meski terbebani;
Belajar setia meski tergoda ...
Belajar mencintai meski tak suka

Belajar & teruslah belajar dengan keyakinan setegar batu karang, tak goyah walau dihempas gelombang realita kehidupan

==============

FILOSOFI HATI

Seorang guru sufi menyuruh muridnya mengambil segelas air dan membubuhi segenggam garam; kemudian menyuruh si murid meminum air dari gelas itu. "Bagaimana rasanya?"

"Asin sangat, Guru...."

Lalu, sang guru mengajak si murid ke pinggir danau, kembali menyuruh si murid melakukan hal yang sama; menaburkan segenggam garam, menceduk air danau dengan telapak tangan dan meminumnya. "Bagaimana rasanya?"

"Segar, Guru...."

"Begitulah hatimu, Nak! Jika ruang hatimu sempit menerima realita miris kehidupan, kau akan tersiksa. Sebaliknya, jika engkau melapangkan hatimu, niscaya takkan ada persoalan yang terlalu berat untuk diatasi."

* Jika engkau memandang kehidupan ini dengan persepsi negatif, hal apa pun akan membuatmu susah;

* Jika engkau menerima realita apa pun dalam hidupmu dengan persepsi positif, bahkan penderitaan pun akan kau rasa indah

* Terkadang kita teramat kesal menghadapi sifat egois seseorang ...

Pernahkah engkau memancing ikan di sungai atau di laut?
Ketika umpan pada mata kailmu ditelan ikan besar, jangan buru-buru engkau tarik jika tali pancingmu halus; bisa-bisa putus, ikan tak jadi kau dapat. Tetapi, longgarkan dulu tali pancingmu dan biarkan si ikan kelelahan sendiri;.pada saatnya engkau bisa menarik ikan pancinganmu dengan mudah.

Artinya...
Dalam menghadapi orang yang egois, entah suami, isteri, anak-anak, kerabat atau sejawat; bersabarlah, ikuti apa maunya dalam batas yang wajar... pada saatnya engkau akan bisa melunakkan sifat egois orang itu

Atau, pernahkah engkau bermain layang-layang?
Manakala angin di angkasa bertiup kencang, lepaslah layang-layangmu dengan melonggarkan benang; jika habis sepuntaran, tambah dan sambung dengan puntaran berikutnya, tambah lagi dan lagi ....

Pada saat angin berhembus stabil, kau pun dapat mengendalikan layang-layang itu sesuai keinginanmu

Begitulah; kesabaran tak boleh ada batasnya, kecuali dua hal: tawakkal (+) atau putusasa (-)

Salam...
 

Zakirman Tanjung (halaman facebook) 

@Oom_Zast (twitter)

Penggagas dan Pengelola BLK-RPH (Bengkel Las Khusus Reparasi Patah Hati)  


Minggu, 19 Agustus 2012

WANITA DI OTAK LAKI-LAKI



Kamu tahu kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab?

Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi.

Dan kamu tahu? Di kampus tempat saya seharian di sana, ke mana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah.

Melihat ke depan ada perempuan berlenggok dengan seutas tank top, menoleh ke kiri pemandangan 'pinggul / udel terbuka', menghindar ke kanan ada sajian 'celana ketat plus you can see', berbalik ke belakang dihadang oleh 'dada indah/montok menantang!'

Astaghfirullah... ke mana lagi mata ini harus memandang?

Kalau berbicara nafsu, ooow... jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tetapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup dengan pemandangan yang membuat saya tenang.

Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tetapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran 'culas' dan hati pun menjadi keras.

Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi; kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk menikmati 'aset berharga' yang mereka punya.

Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi.

Dan anda tau apa kesimpulan yang ada dalam benak sang lelaki? Yaitu: anda bisa diajak untuk begini dan begitu alias gampangan!

Mau tidak mau, sengaja atau pun tidak, anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apakah itu dengan kata-kata yang nyeleneh, pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan, siapa yang semestinya disalahkan? 
 

Saya yakin, anda menjawabnya 'lelaki' bukan?
Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki normal di jaman sekarang ini!

Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang menawari. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk mendapatkan.

Nah, apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai? Saya yakin, siapa yang melihat tentulah ingin mencicipinya.

Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap hari!. Saya ingin protes, tapi mau protes ke siapa? Atau, apakah saya harus menikmatinya...? Tetapi, saya sungguh takut dengan Dzat Yang Memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan penglihatan ini? Sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya!

Allah Subhannahu Wa Taala telah berfirman: Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya," yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur : 30-31)

Jadi, tak salah bukan(?) kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggungjawabkan nantinya di akhirat.

Jadi, tak salah juga bukan(?) kalau saya paling malas diajak ke mall, jjs, kafe dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian.

Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa. Bagi anda para wanita apakah akan selalu, bahkan semakin, menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk, kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemadangan yang anda tayangkan?

So, saudariku muslimah, berjilbablah ...(!) karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempesona dan tentunya sejuk di mata lelaki.


Allah Subhannahu Wa Ta'ala mewajibkan perempuan berjilbab; please baca Al-Qur'an surah ke-33 Al-Ahzab  ayat 59:
 

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.







http://twitter.com/Oom_Zast
 

http://www.facebook.com/zakirman.tanjung

Minggu, 08 April 2012

Cerita Cinta Seorang Suami (Ratap Sesal Seorang Isteri)


Oleh : Liliana Armandi *)


Aku membencinya!!! 


Itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun bersedia dia nikahi, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua,membuatku membenci suamiku sendiri. 

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. 

Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tetapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk mereka putri satu-satunya. 

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar- benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. 

Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur. Aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket. 

Aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku. Aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi. Aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku. 

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tetapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan. Dokterpun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya. 

Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami. 

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang kedelapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. 

Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Pagi itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya. Saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu.

Yaah..., aku merasa terjebak dengan perkimpoianku. Aku juga membenci kedua orangtuaku. Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. 

Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Setelah mereka pergi, aku memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. 

Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam, aku tak jua menemukannya. 

Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan,aku menelepon suami dan bertanya... 

“Maaf ya, Sayang! Kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu. Kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku,” katanya menjelaskan dengan lembut. 

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara.

Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan, meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??” 

“Sayang, aku pulang sekarang, Aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada di mana?” tanya suamiku cepat, sepertinya kuatir aku menutup telepon kembali. 

Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. 

Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu. 

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam. Aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah. 

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, Ibu. Apakah ibu ini istri dari Pak Armandi?” 

Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi. Ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. 

Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas. 

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. 

Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, Serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah, ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis. 

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. 

Saat itulah dadaku menjadi sesak, teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. 

Air mata merebak di mataku, Mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap, berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, Aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. 

Tetapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tetapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makanannya, padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. 

Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak dia sukai. 

Hampir seluruh keluarga kemudian tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, Karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. 

Ia pun pulang larut malam setiap hari karena jarak kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apa pun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besar membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya. 

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya.

Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. 

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan malah ibuku yang datang, Aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. 

Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tetapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. 

Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, tetapi sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. 

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, tetapi sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnya pun tidak kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. 

Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri. Aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang. 

Tak ada lagi yang mengingatkanku shalat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku shalat karena aku ingin meminta maaf; meminta ampun pada Allah Yang Maha Pengampun karena menyia-nyiakan suami yang Dia anugerahi padaku; meminta ampun karena telah menjadi isteri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. 

Shalat-lah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang padaku ditunjukkanNya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belakan, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. 

Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli; yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku guna kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. 

Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. 

Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, Ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tetapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku: 

Istriku Liliana tersayang! 

Maaf karena aku harus meninggalkanmu terlebih dahulu. Maaf karena harus membuatmu bertanggungjawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah Yang Mahakuasa memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingimu, Sayang, selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. 

Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin Sayang dan anak-anak kita susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap Sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak- anak. Lakukanlah yang terbaik untuk mereka ya, Sayang! 

Jangan menangis, Sayangku yang manja! Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku. 

Teruntuk Farah, putri tercintaku: maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah kelak isteri yang baik seperti Ibu. 

Dan Farhan, ksatria kebanggaanku: jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat di manapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke! 

Aku terisak membaca surat itu, Ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. 

Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta. 

Aku pun tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkan kami selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikah dengan seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri? Soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya, Bu?” 

Aku merangkulnya sambil berkata, “Cinta, Sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta,kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.” 

Putriku menatapku, “Seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?” 

Aku menggeleng, “Bukan, Sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tetapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

*) Saya copy dari status facebook seorang teman dan melakukan editing bahasa. Sayangnya, saya tak menemukan nama Liliana Armandi di kolom pencarian facebook -- cerita ini juga berlaku bagi para suami yang menyia-nyiakan cinta isteri mereka-- editor : tzakirman@gmail.com dan tzakirman@ymail.com)




Minggu, 01 April 2012

Kepala Daerah dalam Belenggu Politik Keberjasaan

Kepala Daerah dalam Belenggu Politik Keberjasaan

HUBUNGAN SEKS JUSTRU PERLANCAR PERSALINAN

Hamil bukan halangan berhubungan intim. Asal tahu posisi yang nyaman dan aman, suami istri masih bisa menikmatinya.

Hubungan seks yang memiliki tiga fungsi, yakni fungsi reproduksi (keturunan), rekreasi, dan ekspresi cinta merupakan kebutuhan setiap suami istri. Fungsi yang terakhir biasanya dibutuhkan wanita hamil. Selain itu dengan berhubungan intim, wanita hamil dengan tubuh membesar akan merasa dirinya makin dicintai suaminya. Sedang bagi suami, ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri karena dianggap mampu memberikan keturunan. Ekspresi cinta itulah yang dibutuhkan kedua pasangan ini untuk semakin mempererat hubungan pasutri mereka.

Lantas sejauh mana hubungan intim ini aman, khususnya bagi wanita hamil? Menurut Konsultan Seks dr. Boyke Dian Nugraha, SpOG,. selama dokter kandungan tidak mengatakan rawan keguguran, rentan perdarahan, berisiko pecah ketuban, atau ari-ari janin berada di bawah, hubungan intim aman untuk dilakukan. Saran Boyke lagi, jangan segan dan banyak bertanya kepada dokter kandungan dan lakukanlah konsultasi itu minimal sebulan sekali.

Sperma Bikin Perut Mulas

Tidak hanya untuk memenuhi ekspresi cinta, jika di usia kandungan 39-40 minggu ibu hamil tidak juga merasakan tanda-tanda persalinan pancinglah dengan melakukan hubungan intim juga bisa memancing.

Berdasarkan penelitian, sperma pria yang mengadung prostaglandin bisa mengakibatkan kontraksi pada rahim dan menyebabkan mulut rahim terbuka, selain itu bisa juga membuat perut Si Ibu terasa mulas. Sayangnya, banyak ibu hamil yang mengira salah satu penyebab keguguran adalah dikarenakan hubungan intim. Padahal, mulas dari prostaglandin tidak sampai menyebabkan keguguran, lho. “Jadi jangan disalahkan seksnya. Itu (keguguran, Red.) bisa saja terjadi karena letak rahimnya yang tidak normal (kandungan lemah), ada kelalaian pada rahim (moima atau kista), atau kelainan pada bayi (kromosom, ari-ari). Seksnya sendiri tidak mengganggu, kok, sekalipun pasutri melakukannya dengan sangat bersemangat,” terang Boyke.

Bisa Tiap Hari

Berapa kali sebaiknya wanita hamil melakukan hubungan intim, itu tergantung dari kebutuhan wanita hamil tersebut. Di awal kehamilan, hormon pada ibu hamil membuat beberapa wanita hamil lebih doyan melakukan hubungan intim. Dorongan seksual itu juga muncul dari suami yang merasa istrinya terlihat lebih seksi saat sedang hamil (misalnya karena tak tahan melihat payudara dan bokong istrinya yang membesar). Saran Boyke, terima semuanya itu sebagai kewajaran.

“Seberapa seringnya tidak ada batasan. Semuanya on demand (sesuai kebutuhan). Kadang ada suami yang merasa takut istrinya tidak merasa nyaman, tapi di sisi lain istrinya pengin . Ya, lakukan saja. Saya pernah punya pasien yang pada saat hamil melakukan hubungan intim sampai 12 kali dalam sehari. Tingginya dorongan seksual itu dikarenakan istri merasa lebih bahagia dan menganggap dirinya lebih sempurna di saat hamil.“

Posisi yang Aman

Saat sedang hamil, kadang Si Ibu merasa perlu berhati-hati melakukan segala sesuatu, khususnya berhubungan intim. Nah agar tidak sampai salah tindakan, berikut posisi hubungan intim yang aman bagi wanita hamil:

1 Di usia kehamilan muda (0-12 minggu), menurut Boyke, posisi apapun masih sangat aman dan boleh dilakukan.

2. Sedang jika usia kandungannya di atas 12 minggu, ada baiknya istri mengonsultasikan ke dokter kandungan untuk melihat kondisi kehamilannya. Biasanya sih dalam usia kandungan ini, posisi menyamping (sideways ), menungging (doggy position ), dan duduk (woman on back ) masih aman dan lebih dianjurkan untuk dilakukan. “Posisi ini masih nyaman bagi istri. Pokoknya selama dokter kandungan mengatakan aman, lakukan saja,” ujar Boyke.

3. Jika sudah mendekati usia 29-36 minggu (jelang persalinan), lebih dianjurkan untuk melakukan posisi miring (spooning ) atau duduk (sitting , woman on top ). “Doggy style /rear entry juga masih boleh, tapi kalau Si Istri merasa perutnya keberatan atau sakit, coba tahan perutnya dengan bantal untuk mendapatkan posisi nyaman.”

Kenapa Menolak?

Kehamilan itu Indah, begitu juga dengan seks. Jadi selama dokter mengatakan aman, lakukanlah seks sesuai dengan kebutuhan. Jangan menjadikan kehamilan sebagai alasan untuk menolak hubungan seksual. Suami juga jangan menjadikan penolakan istri sebagai alasan mencari “jajanan” di luar. Lebih baik, lakukan komunikasi dua arah. Rundingkan soal posisi-posisi berhubungan intim yang membuat Anda dan pasangan merasa aman dan nyaman.

Namun tak jarang juga saat sedang hamil, ada istri yang tidak mau “disentuh” suaminya. Alasannya bisa jadi karena:

Termakan mitos yang mengatakan janinnya akan keguguran jika perut hamilnya tersentuh saat berhubungan seks. Ini jelas pandangan yang salah. Seks sering dijadikan kambing hitam. Jika ada sesuatu terjadi pada kandungan, ibu hamil sering menyalahkan seks. Inilah yang kemudian membuat wanita hamil takut melakukan hubungan seksual.

Terlalu berhati-hati melakukan sesuatu kala hamil. Usahakan rileks saja. Ada yang bilang, turunnya dorongan seks pada wanita hamil dikarenakan hormon. Yang benar, dorongan itu turun karena ngidam dan mual yang berat. Seringkali ibu hamil berkata, “Boro-boro mau berhubungan seks, wong aku aja sedikit-sedikit muntah. Masak kondisi begini aku masih harus melayani suami!”

Sejak istri hamil, suami kurang perhatian dan membuat istri merasa sendiri. Tapi, ketika butuh seks, suaminya (tanpa merasa bersalah) meminta. Jadi untuk membalasnya, istri menolak suami untuk melakukan pembalasan secara psikolog

===

Hubungan suami Istri saat hamil 9 bulan diyakini oleh banyak orang dapat mempercepat proses persalinan. Padahal pendapat tersebut bisa benar namun juga bisa salah. Apabila Hari Perkiraan Lahir yang diperkirakan dokter masih jauh, maka aktivitas ini tidak berpengaruh terhadap induksi persalinan.

Namun, apabila Berhubungan badan saat hamil dilakukan apabila usianya memang sudah melebihi HPL, maka berdasarkan berbagai penelitian mampu mempercepat proses persalinan. Hubungan Suami Istri saat Hamil tua dapat mempercepat persalinan karena sperma pria mengandung hormon prostaglandin, yang dapat membantu melembutkan dan mematangkan serviks ibu hamil agar siap untuk persalinan.

Cara ini sebenarnya adalah teknik lama yang efektif memacu terjadinya persalian. Selama berhubungan suami istri, tubuh akan melepas hormon oksitosin yang dapat merangsang kontraksi. Sperma akan membantu melembutkan leher rahim sehingga dapat melebar dan mempermudah kepala bayi melaluinya.

Namun tentu yang perlu diingat adalah hubungan suami istri bisa dilakukan dengan posisi yang aman dan tidak boleh dilakukan apabila ketuban sudah pecah sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi.

Perjalanan Dinas Fiktif dan Hati Nurani

Perjalanan Dinas Fiktif dan Hati Nurani

Inspirasi dari Natuna!

Inspirasi dari Natuna!

Posisi Tawar PNS Sangat Rendah, Jika...

Posisi Tawar PNS Sangat Rendah, Jika...

Siapa yang Miskin, Rakyat atau Aparat?

Siapa yang Miskin, Rakyat atau Aparat?

Filosofi Sopir(1): Kiat Menaklukkan Atasan

Filosofi Sopir(1): Kiat Menaklukkan Atasan

FILOSOFI SOPIR: CARA WARTAWAN BERSIKAP

Oleh : Zakirman Tanjung *)


PEMBERITAAN yang kita saksikan, dengar dan baca di media publik umumnya melalui proses pembuatan oleh para pewarta dan tim kerja di meja redaksi. Semakin layak suatu berita akan semakin panjang proses penggarapannya. Berita yang baik dan benar bukanlah gunjingan melainkan hasil kerja profesionalistik wartawan dan tim redaksi. 


Dengan demikian, pemberitaan yang dirilis asal jadi, dengan maksud semata-mata cepat saji, dapat dikategorikan sebagai gas beracun, terlebih jika tidak memuat seluruh aspek terkait. Dalam hal ini, pemberitaan jurnalistik yang benar haruslah konprehensif alias menyeluruh. Sifatnya tidak hanya menginformasikan, tetapi mesti berimbang atau tidak sepihak. 


Pengertian tidak sepihak adalah pemberitaan bersifat negatif -- baik mengenai orang, lembaga maupun organisasi -- harus melengkapi penjelasan atau konfirmasi orang atau pihak yang terkait dengan lembaga atau organisasi dimaksud dalam berita pada judul yang sama. Informasi dan konfirmasi haruslah padu, tidak terpisah oleh halaman, rubrik dan waktu penyajian. 


Dengan demikian, seorang pewarta wajib profesional, dia harus mengerti dan memahami benar tugas-tugas dan fungsinya. Jika tidak, ia tak pantas dan tak layak menyebut diri atau disebut wartawan. Sebab, pemberitaan yang disajikan secara tidak profesional bisa (dan sering telah) menyebabkan bencana sosial yang sangat dahsyat. Jangankan seseorang, negara dan peradaban pun bisa hancur karenanya. 


Terkait hal ini, Tuhan Pencipta dan Penguasa alam ini bahkan sejak awal sudah mengingatkan: 


Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. [Al-Qur'an surah Al-Hujurat (49) ayat 6]


Wartawan yang profesional bukanlah pekerja, bukan pula budak kapitalis alias pemodal usaha penerbitannya tempatnya bergabung. Dengan profesinya wartawan memang membutuhkan penghasilan untuk biaya hidup dan lain-lain, akan tetapi dia tidak boleh menghalalkan segala cara.


Sejelas dan senyata apa pun informasi yang diterima wartawan, malahan ia saksikan sendiri kejadiannya -- kalau menyangkut citra seseorang, lembaga atau organisasi -- si wartawan tetap wajib melakukan konfirmasi sebelum menyajikannya dalam bentuk pemberitaan di media publik. Alasan dikejar deadline, lalu tidak melakukan konfirmasi, sangat tidak dapat diterima. Termasuk dalam hal ini (bahkan) pernyataan resmi pejabat pemerintah sekali pun tentang kondisi rakyat. 


Pemahaman ini sangat penting! Jangan lantaran pernyataan resmi pejabat pemerintah... lalu otomatis benar. Belum tentu! Contohnya tentang kesejahteraan rakyat, angka pengangguran dan pembangunan fasilitas umum. Wartawan yang cerdas takkan mempublikasikan begitu saja sebelum melakukan cek dan ricek faktanya di lapangan, kecuali dalam bentuk pariwara. 


Pariwara merupakan pemberitaan yang bersifat pesanan dan pemesannya membayar ke perusahaan penerbit, penempatannya harus jelas, bukan terselubung. Oleh karena itu, pariwara tidak layak disebut karya jurnalistik. 


Meski demikian, walau profesi wartawan telah dilindungi dan diatur secara khusus dengan UU 40/1999 tentang pers, kemudian ada pula kode etik jurnalistik (KEJ) serta undang-undang tentang keterbukaan informasi publik (KIP), menjalankan profesi kewartawanan tidaklah mudah; lebih-lebih dalam penggarapan berita yang bersifat penyelidikan (investigated report). Biasanya banyak kendala yang menghadang. 


Jangankan untuk memperoleh pemberimbangan, mengumpulkan informasi awal saja terkadang sangat susah dan rumit. Banyak informan yang cendrung memberi informasi yang bersifat sepotong-sepotong, itu pun tidak pula mau bertanggungjawab; dengan kata lain meminta identitasnya dirahasiakan. Belum lagi upaya memperoleh konfirmasi agar penyajian laporan atau berita jadi berimbang. 


Namun, bagi wartawan profesional, hal ini justru sangat menarik dan menantang. Mereka takkan serta-merta menyerah. Kepiawaian, kemampuan, pengalaman dan nyali wartawan pun diuji untuk menyajikan berita atau laporannya secara bernas dan cerdas. Banyak cara elegan yang bisa dilakukan supaya karya jurnalistiknya yang berbobot bisa terwujud. 


Mengacu pada filosofi rumah makan (jika hidangan dan pelayanan memuaskan), pemberitaan yang ditulis tidak akan mencemarkan nama baik orang, lembaga atau organisasi yang akan diberitakan, tidak apalah jika tak dikonfirmasikan. Dalam konteks tertentu, menyebut-nyebut kebaikan pihak lain itu justru akan disukai yang bersangkutan. Jika sebaliknya, harus dikonfirmasikan dulu kepada pihak terkait. 


Hanya saja, melakukan konfirmasi atas suatu informasi negatif bukanlah urusan mudah. Pihak terkait yang sedang terbelit masalah umumnya cendrung menghindari wartawan. Akan tetapi, usaha mendapatkan konfirmasi tidak boleh mentok atau nekat melakukan tabrak lari. 


Tabrak lari yang dimaksud adalah dengan menulis pada bagian akhir laporan / berita: "Pejabat anu yang hendak dikonfirmasikan, Senin siang, ternyata tidak berada di kantornya. Sementara telepon selulernya ketika dihubungi tidak pula aktif..."


Ketika melakukan konfirmasi dengan cara menemui pihak terkait atau diduga terlibat dalam suatu kasus / permasalahan, wartawan biasanya akan berhadapan dengan dua hal. Pertama, ditawari uang sogok alias 86 atau menerima ancaman jika nekat mempublikasikan kasus oknum yang ditemui; alih-alih memperoleh konfirmasi. 


Setelah segala usaha ditempuh, dengan pijakan tidak boleh menyerah, seorang wartawan profesional tetap mewujudkan karya jurnalistiknya. Artinya, walau tidak memperoleh konfirmasi pun, tetapi sudah bertemu dengan pihak terkait yang justru menawarkan seonggok uang sogok -- lalu, karena tak mempan, si oknum menyatakan ancaman, si wartawan sudah boleh mempublikasikan laporannya. Pada akhir berita bisa ditulis, "Pejabat anu yang hendak dikonfirmasikan, Senin siang, menolak memberikan penjelasan..." 


Dalam kaitan ini berlakulah filosofi sopir bus. Pada suatu ketika, sewaktu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi berkisar 80 s/d 100 km/jam dengan sarat penumpang, si sopir dikagetkan oleh seseorang yang menyeberang mendadak. Maka, dalam waktu sepersekian detik naluri si sopir langsung bekerja untuk menentukan pilihan sikap. 


Berdasarkan pengalamannya mengendara, secara naluriah sebenarnya ada tiga pilihan yang bisa dia ambil untuk menyelamatkan si penyeberang. Pertama, melakukan pengereman; tetapi lantaran jarak yang teramat dekat jadi tidak memungkinkan, jika dipaksakan mengerem pakem bus bisa jungkir-balik. Kedua, banting kiri; juga tak mungkin karena selokan lebar dan dalam siap menanti. Ketiga, banting kanan; ada kendaraan lain melaju berlawanan arah dengan kecepatan tinggi. 


Ketiga pilihan itu sama-sama berisiko terjadi kecelakaan fatal. Puluhan penumpang bus, termasuk si sopir, bisa jadi korban sia-sia. Maka, alternatif paling cerdas adalah pilihan keempat, menabrak penyeberang; tak peduli apakah dia rakyat biasa atau orang penting. Perbandingannya adalah jumlah nyawa. 


Begitu pulalah dengan wartawan. Ketika berhadapan dengan kasus yang ia duga bisa merugikan banyak orang, termasuk dirinya sebagai bagian dari rakyat, naluri dan nuraninya akan mendorongnya bertindak berani; tentu saja setelah melalui proses yang benar dan cerdas. 


Sebab, perlu juga menjadi pertimbangan, dengan mengungkap suatu kejahatan -- umpamanya kasus korupsi dalam penyelenggaraan pemerintahan -- tidak ada jaminan persoalan akan tuntas. Wartawan dituntut memiliki kemampuan melakukan follow up (tindak-lanjut) terhadap kasus yang dia ungkap. 


Seorang wartawan sejati semestinya tidak hanya memiliki keberanian, naluri yang tajam, kecerdasan dan kemampuan yang terasah, tetapi hendaknya juga memungsikan hati nurani secara benar. Sebab, perbuatan mengungkapkan suatu fakta secara sembrono, bisa mengakibatkan terjadinya hal-hal yang fatal; bukan hanya terhadap orang / objek yang dia sasar dan dirinya, melainkan terhadap kondisi sosial secara umum. 


17 Mei 2011 -- 07.19 wib 






Filosofi Sopir (2): Cara Wartawan Bersikap