
(kumpulan komentar saya di postingan Yurnaldi / facebook)
Jujur saja, ketika pertama kali hendak memesan Mpek-mpek Lamak Bana Ayuk Lina, saya sempat ragu, apa benar Da Nal (sapaan saya kepada Yurnaldi) benar-benar akan membawakan mpek-mpek dan menunggu menunggu di Simpang Lalang? Saya ragu karena ... bukankah Yurnaldi itu wartawan hebat? Apalagi kedatangan saya rada molor akibat macet panjang di kawasan Lubuk Buaya
Ternyata memang, Da Nal benar-benar menunggu. Dari kejauhan sudah terlihat ia duduk di atas sadel sepeda motor. Saya merasa surprise!
Sebab, sebelumnya, saya pernah mengenal banyak oknum wartawan yang angkuh dan sombong. Itulah mengapa dalam berbagai kesempatan saya sering menyatakan, "Saya ini wartawan paling senior di Sumbar, bahkan di Indonesia."
Saya punya alasan untuk menyatakan hal itu! Sejak memulai jadi penulis di KMS Singgalang, Agustus 1985, tak ada seorang pun wartawan senior yang berkenan membina atau membimbing. Jadilah saya merangkak secara otodidak, bahkan hingga kini.
Namun, kesan angkuh dan sombong itu pupus ketika bertemu Da Nal. Saya jadi ingat Prof Khaidir Anwar yang terlihat biasa saja pergi ke kampus naik bis kota dan berdiri pula, bahkan dengan baju lusuh meskipun rapi.
Kali kedua, saya sebenarnya sudah sampai di Simpang Tabing. Tetapi, teringat permintaan isteri sejak beberapa hari terakhir dan mengingat masih sore serta saya pun sudah men-jamak shalat ashar, saya menelepon Da Nal. Dia pun mempersilahkan ke rumah. Saya naik angkot ke Simpang Lalang.
Pertama kali memasuki ..... jalan menuju rumah Da Nal, saya sempat protes dalam hati. Katanya cuma 150 meter. Telapak kaki saya sudah semakin sakit tiap kali dipijakkan. Ternyata tujuh tiang listrik baru sampai di simpang komplek perumahan seperti tanda-tanda yang Da Nal sebutkan. Itu berarti 350 meter.
Tapi tak apa, dorongan ingin mengenal kehidupan Da Nal memicu saya terus melangkah. Ketika bertanya ke warga untuk kedua kali, rupanya saya sudah berada di depan pintu pagar rumah Da Nal. Masuk, kedatangan saya disambut Ayuk Rozalina. Mengucap salam, saya lihat Da Nal sedang memasukkan mpek-mpek lamak bana ke dalam kemasan. Selain untuk saya, katanya juga memenuhi order seseorang di Anduriang.
Semula, saya bermaksud ambil pesanan dan pamit. Namun, Da Nal dan Ayuk Lina 'memaksa' saya duduk dulu sebagai tamu, mencicipi hidangan mpek-mpek lamak bana dan teh hangat.
Ada setengah jam kami bertukar kabar tentang banyak hal. Saya pun pamit dan Da Nal menawarkan hendak mengantar hingga ke jalan raya, tapi saya menolak (begitulah saya, Da Nal, dari dulu paling tidak mau menyusahkan orang, bahkan keluarga sendiri).
Sepuluh menit menjelang sampai Sungailareh, hujan turun dengan sangat lebat. Turun dari angkot, berlari ke teras rumah orang, saya kirim SMS ke rumah (350 meter dari pinggir jalan) agar mengantarkan payung dan sandal jepit. Sepuluh menit kemudian, putri sulung datang membawa dua payung dan sandal jepit.
Alhamdulillah.... meski tubuh bagian belakang basah kuyup karena hjujan disertai angin kencang, mpek-mpek lamak bana tak terkena air karena sudah dikemas Da Nal dengan rapi dan berbungkus dua lapis plastik pula.
Selepas shalat maghrib, isteri saya menghabiskan enam potong mpek-mpek lamak bana, putri sulung tiga potong, putri kedua dua potong dan si kecil Habil satu potong. Lebihnya baru habis sore tadi.
***
Rumah tulisan? Ide yang sangat tepat, Thamrin Husein! Pertama masuk rumah Da Nal, pandangan saya dipukau oleh ratusan buku, sebagian tersusun rapi di setiap celah anak tangga menuju lantai dua yang diberi sekat atau dinding.
Da Nal pantas berjuluk wartawan hebat lantaran gemar membeli dan mengoleksi buku, sekaligus tentu seorang yang suka membaca. Sangat berbeda dengan saya yang tidak begitu suka membeli buku. Kalaupun pernah membeli satu - dua buku, langsung saya abaikan setelah selesai membacanya.
Sebagai mahasiswa abadi Program Super Doktor S.7) Universitas Kehidupan, saya memang juga suka membaca, tetapi apa saja; terkadang koran bekas atau buku-buku yang saya temukan di mana saja. Saya bahkan, sangat jarang membeli koran atau majalah.
Tentang hal ini, saya ingat ancaman yang dilontarkan Da Gusfen Khairul, koordinator Koran Masuk Sekolah (KMS) Singgalang. Katanya, kalau saya tidak mau membeli serta mengedarkan KMS di sekolah, tulisan-tulisan yang saya kirim takkan dia muat lagi (ini kisah semasa saya SMA).
Tetapi, saya memang tidak suka dan tidak bisa, mau bagaimana lagi? Nyatanya, Da Gusfen tetap saja menurunkan / memuat setiap tulisan yang saya kirim dengan cara menitipkan melalui agen Singgalang di Sicincin, bahkan tak satu pun naskah yang saya kirim masuk tong sampah
***
http://www.facebook.com/yurnaldi.raja/posts/10205477328283441?notif_t=comment_mention