Perjalanan profesiku sebagai wartawan sungguh penuh romantika. Entah
lantaran aku terlalu bersikukuh pada sikap yang kuyakini benar -- yang
menurut teman-teman bahwa aku kelewat idealis -- tak pelak aku pun kerap
berhadapan dengan kesulitan demi kesulitan. Meski demikian, aku tetap
tidak bisa keluar dari kerangka keyakinanku.
Tahun 1990-an
merupakan dasawarsa yang penuh warna dalam catatan karier
jurnalistik-ku. Terancam pembunuhan, dapat penghargaan hingga
berkali-kali memperoleh berkah atas peluang yang ditolak para wartawan
senior.
Kali ini aku ingin menceritakan pengalaman mengecewakan
yang ternyata berakhir menyenangkan. Itulah sebabnya mengapa catatan ini
kuberi judul: Tiada Malang yang Semujur Ini.
Senin pagi itu,
seperti biasanya, aku berangkat dari rumah menuju kantor bupati. Seperti
biasanya juga, unit kerja pertama yang kutuju adalah ruang Bagian Humas
(Hubungan Masyarakat). Namun, pintu ruangan itu tertutup dan terkunci.
Aku jadi bertanya-tanya, ke mana mereka?
Dari staf bagian lain
aku pun memperoleh informasi, Bagian Humas pergi mengikuti kunjungan
kerja bupati ke Kepulauan Mentawai dengan mengajak serta sejumlah
wartawan. Hmmm... berarti mereka sengaja tidak mengajakku! Padahal, hari
Sabtu sebelumnya aku masih ke Bagian Humas.
Kecewa memang, tapi
aku tak bisa berbuat apa-apa. Kususul pun mereka ke Pelabuhan Nusantara -
Bungus tak ada gunanya. Toh, aku tidak diajak. Lagipula, kapal yang
mereka tumpangi tentu sudah berangkat. Ah, biarlah! Mungkin ada hal yang
tidak disenangi Kepala Bagian Humas atas pemberitaanku.
Siangnya, aku berangkat ke redaksi surat kabar mingguan tempatku
bergabung di Kota Padang. Seperti biasa, tujuanku ke redaksi untuk
menyerahkan beberapa naskah berita yang sudah kutulis di rumah berikut
foto pendukung. Selain itu, juga menulis naskah berita yang kuperoleh
hari itu.
Menjelang sore, pemimpin redaksi memanggilku ke
ruangannya. Ternyata dalam ruangan itu sudah ada dua orang tamu yang
kemudian kuketahui adalah Staf PT Minas Pagai Lumber Coorporation
(MPLC). Staf itu menyampaikan surat permintaan wartawan guna mendampingi
Direktris PT MPLC Selvyana Sofjan Husein yang akan berkunjung ke
Kepulauan Mentawai, tepatnya ke Pulau Pagai Selatan, Rabu s/d Jumat.
Pemimpin redaksi menugaskanku mengikuti kunjungan itu.
Tak lama
setelah Staf PT MPLC meninggalkan redaksi, datang tamu berikutnya, yakni
Sekretaris DPRD Kota Solok. Sekwan yang tak kuingat lagi namanya itu
juga meminta wartawan untuk mendampingi kunjungan kerja (kunker) dewan
ke luar provinsi, Senin s/d Rabu depan. Lantaran wartawan yang stand by
di redaksi sore itu, lagi-lagi pemimpin redaksi menugaskanku untuk
mengikuti kunjungan itu.
Tak selesai sampai di situ, menjelang
maghrib datang lagi tamu ketiga yang juga meminta wartawan. Tamu ketiga
adalah Humas Depot Logistik (Dolog) Sumbar. Ia meminta wartawan untuk
mendampingi Kepala Dolog Drs Muslim Kasim Ak (kini Wakil Gubernur
Sumbar) melakukan kunjungan kerja ke Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman,
Selasa besok. Namun, karena jarak tempuh cukup jauh, mencapai 200 km,
rombongan berangkat malam itu juga dan dijadwalkan menginap di sebuah
hotel di Kota Bukittinggi.
Karena tak punya pilihan lain,
otomatis penugasan itu tertuju kepadaku. Kepada Humas Dolog kukatakan,
aku akan menunggunya di Puncak Kiambang karena aku harus pulang dulu ke
rumah (kampungku berada di kawasan Jalan Raya Padang - Bukittinggi km
44).
Dalam perjalanan pulang ke rumah aku tercenung di atas bus:
Tuhan benar-benar Mahakuasa. Dia punya rencana yang tidak diketahui
hamba-hambaNya. Mungkin karena aku bersabar ketika mengetahui
ditinggalkan Bagian Humas Kantor Bupati, hari itu juga Tuhan
menggantinya dengan tiga penugasan berturut-turut. Mahabenar-lah
FirmanNya dalam Al-Qur'an surah ke-2 Al-Baqarah ayat 153 .... Sungguh,
Allah beserta orang-orang yang sabar.
Sesampai di rumah, aku
segera berganti pakaian dan memasukkan satu stel pakaian pengganti ke
dalam tas sandang, lalu berangkat menuju Puncak Kiambang. Sekitar jam
21.30 mobil Humas Dolog menyinggahiku dan kami berangkat menuju Kota
Bukittinggi. Keesokan paginya kami bergabung dan konvoi dengan mobil
Kepala Dolog menuju Lubuk Sikaping.
Usai acara di kantor bupati,
Selasa siang, Kepala Dolog tidak langsung kembali ke Kota Padang tetapi
justru mengarah ke Pasaman Barat via Talu lantaran ada pula yang hendak
dia tinjau ke kawasan itu. Otomatis Humas terpaksa mengikuti. Aku mulai
bertanya-tanya dalam hati, jam berapalah nanti akan sampai di rumah?
Padahal besok pagi aku harus berangkat ke Mentawai mendampingi Direktris
PT MPLC.
Di Pasaman Barat, Kepala Dolog memanggilku agar
mendekat ke mobilnya. Ternyata dia memberiku uang Rp200 ribu. Ahaa...
aku terkesima. Kalau sekiranya aku diajak Humas Kantor Bupati, untuk
tiga hari perjalanan paling mendapat uang saku Rp150 ribu. Untuk satu
penugasan saja aku sudah untung Rp50 ribu.
Ternyata memang aku
baru sampai kembali di rumah sudah menjelang tengah malam. Kelelahan
menyebabkanku tertidur pulas. Rabu pagi, aku buru-buru berangkat ke Kota
Padang. Dari Terminal Lintas Andalas aku naik taksi ke Kantor PT MPLC.
Namun, menurut seorang staf, rombongan sudah setengah jam lalu berangkat
ke Pelabuhan Muara. Yaa, aku ketinggalan!
Tak menyerah begitu
saja, aku kembali menyetop taksi dan menyuruh sopir ngebut menuju
Pelabuhan Muara. Alhamdulillah... meski ketika menapaki dermaga anak
buah kapal (ABK) Kuda Laut sudah membuka tali pengikat kapal, aku masih
bisa melompat masuk kapal.
Di atas kapal cukup lama aku bengong
sendiri lantaran tidak seorang pun yang kukenal. Tapi, tak masalah, yang
penting aku ikut, terlebih seorang Staf MPLC mempersilahkanku duduk
setelah kepada kuperlihatkan undangan mengikuti kegiatan itu yang sudah
di-disposisi pemimpin redaksi. Kemudian, baru aku berkenalan dengan tiga
wartawan lain yang juga ikut. Mereka adalah wartawan Harian Semangat
Erion Saad, Wartawan LKBN Antara Riza Mulyadi dan Wartawan TVRI Stasiun
Padang Agung Nugroho Widi.
Setelah empat jam membelah laut, kami
sampai di Base Camp PT MPLC, Pulau Pagai Selatan. Rasa lapar menyebabkan
kami melahap suguhan ikan bakar tanpa menunggu nasi masak. Kami dapat
kamar penginapan cukup layak plus fasilitas penunjang akomodasi.
Kamis pagi, kami menelusuri pedalaman Pagai Selatan mengikuti misi
sosial Direktris PT MPLC. Antara lain mengunjungi dua unit sekolah dasar
dan dua unit gereja. Jika lokasi yang hendak dituju tak bisa dimasuki
Kapal Kuda Laut, perjalanan diteruskan dengan menaiki beberapa sampan
nelayan, selanjutnya berjalan kaki.
Menjelang senja barulah kami kembali ke base camp. Kelelahan lagi-lagi menyebabkan kami disergap kantuk.
Jumat pagi kami kembali ke Kota Padang. Namun, sebelumnya Staf Humas PT
MPLC memberi kami uang saku, masing-masing Rp400 ribu. Satu jam
menjelang berlabuh, aku teringat kalau hari itu merupakan pelantikan
Kapolda Sumbar. Dan, kulihat Bu Direktris sedang duduk santai. Dia
kudekati dan kepadanya kutawarkan pemuatan iklan ucapan selamat atas
pelantikan kapolda untuk surat kabar tempatku bergabung dan Surat Kabar
Semangat. Selvyana mempersilahkanku mengajukan penawaran tertulis.
Langsung saja kutemui Erion Saad yang duduk di bagian belakang kapal
dan kuminta dia membuat penawaran. Karena tak ada kertas folio semisal
HVS, kuminta Erion menulis penawaran itu pada lembaran notes, baik untuk
koranku maupun koran dia, masing-masing dengan tawaran harga Rp1 juta.
Selesai, aku pun kembali mendekati Selvyana untuk meminta dia
membubuhkan persetujuan.
Selvi sempat berkilah, "Nantilah, kita
makan dulu di restoran." Oke, lembaran itu kusimpan kembali. Segera
selesai makan, kusodorkan kedua lembar penawaran itu. Selvi langsung
men-disposisi "Setuju". Aku kaget, karena dia tidak menawar dengan harga
lebih rendah.
Karuan saja, timbul perintah dari otakku dan
mulutku berkata, "Bu, harga yang satu juta ini untuk perusahaan surat
kabar," Selvi kembali menarik kertas yang akan dia serahkan kepadaku
lalu menulis kalimat tambahan: Rp1 juta untuk redaksi + Rp500 ribu untuk
wartawan.
Urusan selesai. Dari perjalanan mengikuti PT MPLC aku
mengantongi penghasilan bersih Rp1,1 juta. Rinciannya Rp400 ribu dari
Staf Humas, Rp500 ribu Direktris dan Rp200 ribu merupakan fee iklan dari
perusahaan.
Dua hari kemudian, Minggu siang, aku berangkat
menuju Kota Solok, lalu mencari penginapan tak jauh dari Gedung DPRD.
Sebab, tak mungkin bagiku berangkat dari rumah Senin pagi. Sebab, jadwal
keberangkatan kunker dewan Senin pagi pula. Lagipula, sebelumnya aku
belum pernah bertugas di Kota Solok, otomatis aku tak mengenal dan
dikenal oleh pejabat dan anggota DPRD kota itu.
Sekitar jam
delapan pagi aku melapor ke Sekwan. Aku pun dia minta memilih, mau ikut
tim ke Kota Pekanbaru (Riau) atau ke Kota Jambi? Kupilih ke Jambi
lantaran memang belum pernah mengunjungi daerah itu. Sedangkan tim ke
Pekanbaru diikuti Wartawan Singgalang, Wannedi Saman. Bendarawan DPRD
pun membayarkan uang saku untukku Rp1 juta... sialnya dalam bentuk
lembaran Rp1.000.
Sempat kelabakan harus menyimpan di mana
sepuluh ikat uang kertas -- tas sandangku sudah padat berisi pakaian --
seorang staf DPRD menyarankanku untuk menukar uang itu ke BRI Cabang
yang berjarak sekitar 100 meter dari gedung dewan.
Perjalanan
menuju Kota Jambi tenyata sangat menyenangkan. Rombongan Tim II
berangkat dengan tiga unit mobil Toyota Kijang. Oleh Sekwan yang ikut ke
Riau aku ditumpangkan ke mobil BA 5 P yang merupakan mobil dinas Ketua
Bappeda Drs Aulizul Syuib. Praktis, aku baru mengenalnya setelah menaiki
mobil itu. Begitu juga dengan tiga anggota DPRD yang semobil denganku.
Lantaran aku duduk persis di belakang sopir, praktis aku bisa bebas
berbicara dengan Aulizul yang kupanggil Pak Cun karena ia duduk di
samping sopir. Ketiga anggota dewan, seorang di sebelahku dan dua lagi
di bangku belakang. Sepanjang perjalanan menuju Kota Jambi sekitar 6 jam
-- kami sering berhenti untuk makan dan mengopi -- Pak Cun, sopir dan
ketiga anggota dewan kubuat tak pernah berhenti tertawa, apalagi sampai
tertidur.
Hingga kembali lagi ke Solok, Rabu sore, uang saku yang
diberikan Bendaharawan DPRD kepadaku tersimpan utuh. Malah bertambah
hingga menjadi Rp2,5 juta. Penyebabnya, ilmu akalku juga, ilmu yang
dianugerahkan Tuhan.
Baru saja sampai di Hotel Adipura - Kota
Jambi, kulihat beberapa anggota DPRD berbisik-bisik sembari melirik
kepadaku. Setelah kutelusuri, rupanya mereka kuatir dengan
keikutsertaanku. Selain belum mereka kenal seperti wartawan lain yang
bertugas di Kota Solok, surat kabar tempatku bergabung sangat kritis
dalam menyajikan pemberitaan.
Guna mengendorkan suasana, aku
berinisiatif mengumpulkan kesepuluh anggota dewan dan berkata kepada
mereka, bahwa kehadiranku hanya sebatas untuk meliput kegiatan kunker
dan hal itu pula yang akan kutulis dan kulaporkan nanti. "Jangan kuatir,
saya tidak akan mengamati urusan atau kegiatan pribadi Bapak-bapak dan
Ibu anggota dewan yang terhormat, apalagi akan menulisnya dan melaporkan
jadi berita."
Karuan saja, kemudian satu persatu anggota dewan
itu menemuiku dan memberi uang dengan kilah untuk tambahan permbeli
film. Waktu itu aku masih menggunakan kamera atau tustel biasa dan belum
mengenal kamera digital. Sedangkan biaya makan-minum dan rokokku mulai
berangkat hingga kembali ke Kota Solok ditanggung oleh Ketua Bappeda.
Bahkan, malam pertama di Kota Jambi aku dijemput ke hotel dan dijamu
oleh Mursyid YM Songsang, koresponden RCTI di kota itu.
===
Ibarat pohon, bersabar itu memang pahit, tetapi buahnya sangat manis
Jumat, 24 April 2015 -- 21.45