SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN RI

Dear Presiden RI
Pak Presiden yang baik,
Harga BBM naik, dengan gagah dan baik hati konon Bapak akan memberi
kami kompensasi; Bapak akan membuat kami mengantre untuk mendapatkan
uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan. Tetapi, pikiran kami
sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami mengantre panjang
mengular dari Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak! Kami tak
suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin.
Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami, pakailah
uang itu, kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian
nasional’ yang konon sedang gawat itu. Tak perlu naikkan BBM, pakailah
uang kami itu: kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan bangsa!
Hidup kami sederhana kok, Pak, disambung lembaran-lembaran uang
recehan. Ilmu hitung kami pun kelas rendahan: berapa untuk makan
sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya transportasi, biaya listrik
bulanan dan kadang- kadang cicilan motor, dispenser atau DVD player. Tak
perlu kalkulator.
Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa
uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit, kami tidak ke
mana-mana, Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi meski
kadang kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang beberapa
anak buah Bapak yang korupsi.
Bila perlu, Pak, berdirilah di
hadapan kami, katakan apa yang negara perlukan dari kami untuk
menyelamatkan kegawatan bencana ekonomi negara ini? Bila Bapak perlu
uang, kami akan menjual ayam, sapi, mesin jahit, jam tangan, gitar
,bass, alat-alat musik kami atau apa saja agar terkumpul sejumlah uang
untuk melakukan pembangunan dan penyelamatan perekonomian bangsa. Bila
Bapak disandra mafia, oknum-oknum pejabat yang bangsat atau oknum-oknum
pengusaha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami: siapa saja
mereka? Kami akan bersatu untuk membantumu melenyapkan mereka – tentu
saja "semoga Anda bukan salah satu bagian dari mereka”!
Please… bagikan / share / forward ke teman-teman lainnya, jangan
berhenti padamu, Pak, Bu, Oom, Tante, Bung & Nona – mudah-mudahan
sampai ke Jokowi!
Salam Anak Negeri
Petisi 181 Juta Jiwa Lebih
izinkan saya menikmati kemerdekaan negeri ini, Pak!
saya hanya menghargai jasa pahlawan
kita sama-sama membenci penjajahan kan, Pak?
saya bukan gepeka, hanya penegak
kebenaran sering rebah, Pak
terinjak-injak
saya cuma cari makan
juga membajui Ibu Pertiwi
agar tidak usil dijahili jemari usil
izinkan saya memiliki kemerdekaan negeri ini, Pak!
saya juga cucu-buyut moyang yang berjuang
kemerdekaan ini untuk kita kan, Pak?
bagi mereka telah cukup seliang lahat sebilah papan
barisan doa dari kita yang rela berkhusu’
izinkan saya mempertahankan kemerdekaan negeri ini, Pak!
sebab, masih banyak famili kita yang tertindas di kolong-kolong keserakahan dimulutmanisi janji-janji imitasi
saya bukan gepeka hanya pembela
keadilan sering diomongkosongkan
padahal kita membutuhkannya kan, Pak?
Izinkanlah saya berjuang, Pak!
ternyata kemerdekaan belum sempurna
di sana-sini masih buka praktek penjajahan
entah legal atau tak ada yang berani menjegal
gepeka = generasi penggugat kemerdekaan
Jakarta, 1994
Puisi ‘Petisi 181 Juta Jiwa Lebih’ telah dipublikasikan Surat Kabar Suara Pembaruan, Jakarta, Minggu 12 Februari 1995
Bulan Madu Negeri Pengungsian
kita kenyangi lapar ini dengan tawa
aku tak kuasa menatap bola di matamu
getir enggan beranjak
padahal kita begitu sering mengajaknya
mendustai kenyataan
mala mini kuingin mengulum lembut bibirmu
sayang terlanjur pagi kau menelannya
“pengganti sarapan,” cetusmu memelas
kita susuri hamparan retak-rengkah
kau bergelayut di belulang pundakku
trenyuh sapaan kanan – kiri
padahal kita bukan petugas kemanusiaan
aku ingin mengajakmu menyanyi
cacing-cacing di perut kita duluan bersenandung
tertegun, kita bertatapan, menikmati
“aku ngidam lihat hutan pegunungan,” rengekmu mengiris hati
kubawa kau terlelap ke barak
di mimpi kita menceburi sungai siak
kau tersenyum memipil sebelah jantungku
Perbatasan Zaire – Rwanda, 1995
Surat Anak Pengungsi
saya ingin menangis, Kak
tapi tak punya airmata lagi
air liur pun kering-kerontang
kamp-kamp pada tandus
perang itu jahat ya, Kak!
Kak, Indonesiamu indah ya?
hutannya sejuk rimbanya teduh
masa-masa sekolah mengasyikkan
oow, Indonesiamu di ujung angan
Kak, kirimi saya sedahan pinus
lapar kami beritamu, tangis kami nyanyianmu
tercetak di Koran-koran
tersiar di radio
kau tayangkan di televisi
Kak, kapan hujan akan turun?
kapan saya bias menangis lagi?
Ethiopia, 1989
Surat Tawanan Perang
kalau kau pernah merenung sesaat
longoklah kamp-kamp tandus dan gersang
tataplah negeri kami, rengkah tanah merah
genderang, biola dan pembantaian
kalau kau pernah masuk penjara
anak – binimu masih bisa melepas rindu
rasakan derita kami di sini
korban kebuasan nafsu duniawi
kalau kau pernah menanggung lapar
waktu berbuka dating menanti
sekadar tidur tak kami kata
bukan tangis narapidana
Palestina, 1988
Ketiga puisi di atas telah dipublikasikan Surat Kabar Riau Pos, Pekanbaru, Minggu 4 Mei 1997
Zakirman Tanjung (tzakirman@gmail.com)
atau
pernah mempopulerkan diri dengan nama pena Zastra Certa (Zakirman
Susastra Cancer Tanjung) dan Playboy Pattikawa, lahir 29 Juni 1969.
Menulis puisi, cerita fiksi, opini dan surat cinta sejak masih di bangku
SD tetapi baru mulai mempublikasikannya Agustus 1985. Pernah kuliah di
Fakultas Sastra Universitas Andalas (BP 90184041) kemudian keluar
setelah memecat rektor, memberhentikan dekan dan membebas-tugaskan
dosen-dosen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
saran