Minggu, 01 April 2012

Gemar Mengajak Tanpa Ikut Melaksanakan


AYAT terakhir Al-Qur'an surah Al-Ashr mengingatkan kita agar senantiasa saling berwasiat untuk menaati kebenaran dan saling berwasiat untuk menetapi kesabaran. Alhamdulillah, makin banyak saja pemimpin yang mengamalkan maksud ayat tersebut.


Terkait dengan krisis ekonomi global yang diikuti membubungnya semua harga yang lain (kecuali mungkin harga diri), hampir semua pemimpin di negeri ini seperti sudah satu suara untuk mengajak rakyat dan jajaran pemerintahan agar berhemat, mengetatkan ikat pinggang; ajakan yang sesungguhnya sudah diterima semua orang sejak menjadi murid sekolah dasar. Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin.


Pertanyaannya, apakah pihak-pihak yang mengajak sudah melakukan penghematan terlebih dahulu? Jawabannya; cenderung tidak! Umumnya pemimpin di negeri ini, termasuk para pejabat pada hampir semula lini pemerintahan, terkesan hanya doyan mengajak - kalau perlu dengan kesan simpatik pula - tetapi sangat jarang ditemukan yang menunjukkan contoh dengan perilaku terpuji dan layak ditauladani rakyat.


Anggapan demikian tidaklah berlebihan. Cukup banyak fakta nyata yang dapat dikemukakan. Jangankan dalam bentuk perbuatan, dalam ucapan sendiri terkadang banyak yang tidak konsisten. Hal ini berbeda jauh dengan contoh perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW dan para sahabat r.a.


Mengenai hal itu, ada perbincangan menarik Drs H Damsuar Dt Bandaro Putiah MM dengan penulis, beberapa waktu silam. Entah bagaimana awalnya, Wakil Bupati Padangpariaman ini menyentil kebiasaan banyak pembicara dalam berbagai forum. Mereka mengajak tetapi tidak ikut melaksanakan.


Menurut Damsuar, ia sering mengamati kebiasaan kebanyakan pembicara yang memulai pidato atau kata-kata sambutan dengan mengajak hadirin; "Terlebih dahulu marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke Hadirat Allah SWT yang telah... dst-nya (tetapi tidak turut melafazkan Hamdallah). Selanjutnya, marilah kita menghadiahkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Rasulullah SAW yang telah... dst-nya" (tetapi tidak turut melafazkan Allahumma shali'ala Saidina Muhammad)


Apa yang diungkapkan Damsuar ternyata bukan isapan jempol belaka, melainkan realita yang sering kita temui. Sepertinya pembicara tersebut hanya sekadar latah mewarnai pidato atau sambutannya dengan mukadimah tanpa memahami kandungan maknanya. Atau, lantaran terlanjur merasa hebat, sengaja melalaikan hal demikian. 


Itu sekadar gambaran betapa kebanyakan di antara kita sangat gemar mengajak tanpa turut melaksanakan apa yang dia ajakkan tersebut. Sepertinya, dengan berbuat seperti itu, para pelakunya sudah merasa dirinya hebat dan menjadi pahlawan. Dia sepertinya hanya menyelamatkan orang lain, tetapi membiarkan dirinya tetap terjerumus dalam kekeliruan. Islam menyebutnya munafik!


Sebaliknya, tak sedikit pula di antara kita yang hobi mengeritik, melontarkan kecaman, sementara perilaku dan tindakan dia sendiri cendrung tercela. Ketika hal itu dipersoalkan, dengan enteng dia menyatakan, "Omongan saya sajalah perhatikan, perilaku dan tindakan saya jangan ditiru." Islam menyebutnya pasik! 


Kondisi beginilah yang menjadi fenomena dan menggejala dalam khasanah kepemimpinan di negeri kita. Rakyat diajak berhemat, akan tetapi mereka -- umumnya para penyelenggara pemerintahan dan wakil rakyat -- tetap bergelimang dalam pola hidup foya-foya.


Sifat-sifat demikian sebenarnya sudah diingatkan Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Ash-Shaff ayat 2-3: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.


Asumsi demikian sudah pasti mereka bantah dengan mengemukakan dalih sudah melakukan penghematan anggaran. Namun, kalau mereka mau transparan, niscaya akan ketahuan, penghematan dimaksud diduga hanya mereka lakukan pada pos mata anggaran tertentu yang tidak bersentuhan secara langsung dengan kepentingan mereka.


Kita bisa menyaksikan bagaimana kebanyakan pejabat pemerintah dan para wakil rakyat bersandar lepas di dalam mobil-mobil dinas kelas 'wah' dengan semburat AC sejuk yang melelapkan. Jarang ada yang peduli pada rakyat miskin yang terpaksa berdesakan dalam angkutan-angkutan umum yang terkadang tidak manusiawi.


Ah, rakyat kalangan bawah sudah jenuh dan muak oleh kebohongan mayoritas pemimpin mereka sehingga kebanyakan di antara mereka sudah sampai pada titik kebal dan tak mau peduli terhadap apa pun yang dilakukan para pemimpin. "Terserah mereka sajalah! Toh, mereka sendiri kelak yang akan mempertanggungjawaban perbuatannya di depan pengadilan Tuhan," desis seorang kuli harian.


Lihatlah, semakin banyak saja rakyat kecil bersikap acuh tak acuh terhadap perkembangan yang terjadi karena mereka seperti tidak melihat harapan ke arah perbaikan. Perjuangan para demonstrans dan kritikan yang tersaji di media massa mereka sikapi secara dingin. Sebab, mereka sudah paham, semua itu hangat-hangat tahi ayam. Banyak yang bersuara lantang menjelang dapat beras segantang. Ketika si demonstrans sudah masuk dalam pelukan kekuasaan, ia melupakan materi kritikannya dulu.


Kalau saja kita -- terutama para pejabat pemerintah yang mengelola negeri ini berikut kekayaannya -- mau membaca atau menyimak kembali kisah-kisah tauladan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, mungkin kita akan merasa malu dan takut hidup dalam gelimang kecukupan, apalagi sampai bermewah-mewah (baca QS At Takatsur).


Pada suatu ketika, isteri Abu Bakar r.a memohon pada suaminya, "Aku ingin makan manisan."


Abu Bakar r.a pun berkata, "Aku tidak punya uang untuk membelinya."


Isterinya mengusulkan, "Kalau engkau setuju, aku akan menyisihkan sedikit uang dari perbelanjaan setiap hari, sehingga dalam beberapa hari uang akan terkumpul." Abu Bakar Ash Shiddiq mengizinkannya.


Setelah terkumpul, isterinya menyerahkan uang itu kepada Abu Bakar r.a untuk dibelikan bahan-bahan pembuat manisan. Namun, Abu Bakar r.a berkata, "Dari pengalaman ini sekarang aku tahu, bahwa kita mendapatkan gaji yang berlebihan dari Baitul Mal."


Oleh karena itulah, uang yang dikumpulkan isterinya dikembalikan Abu Bakar r.a ke Baitul Mal. Selanjutnya dia mengurangi gajinya sebanyak yang dikumpulkan isterinya setiap hari. (selengkapnya, baca Himpunan Kitab Fadhilah A'mal terbitan Pustaka Ramadhan tahun?) 


Adakah di antara pejabat di negeri kita yang dengan sukarela mengembalikan kelebihan penghasilannya ke kas negara atau daerah? Wallahu'alam bish shawab!


Nyatanya, mengiringi kenaikan harga BBM, pemerintah juga mengambil kebijakan menaikkan gaji seluruh pegawainya. Kalau saja pegawai yang menerima berada pada level staf dengan golongan rendah, masih dapatlah dipahami. Namun, para pejabatnya ikut pula kecipratan. Padahal, umumnya pejabat pemerintah di negeri ini memiliki kepiawaian 'mencari tambahan penghasilan' melebihi gaji dan tunjangan resmi.


Namun, ketika harga BBM turun, gaji pejabat dan aparat pemerintah, bahkan para wakil rakyat tetap naik. Biduan Doel Sumbang pernah menyentilnya; ketika laut pasang, cinta kita ikut pasang. Ketika laut surut, cinta kita tetap pasang... 


Padahal, menurut penyair Taufik Ismail, rakyatlah pemilik sah negeri ini, bukan aparat pemerintah yang cuma abdi, juga bukan para legislator yang hanya 'wakil rakyat. Akan tetapi, mudah-mudahan rakyat maklum, bahwa menjadi pejabat dan aparat -- termasuk wakil rakyat -- berpeluang jadi kualat dan kena laknat; terutama ketika mereka menjadikan sumpah sebagai permen coklat, bukan amanat dan pengikat.




Gemar Mengajak Tanpa Ikut Melaksanakan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

saran