AYAT
terakhir Al-Qur'an surah Al-Ashr mengingatkan kita agar senantiasa
saling berwasiat untuk menaati kebenaran dan saling berwasiat untuk
menetapi kesabaran. Alhamdulillah, makin banyak saja pemimpin yang
mengamalkan maksud ayat tersebut.
Terkait
dengan krisis ekonomi global yang diikuti membubungnya semua harga yang
lain (kecuali mungkin harga diri), hampir semua pemimpin di negeri ini
seperti sudah satu suara untuk mengajak rakyat dan jajaran pemerintahan
agar berhemat, mengetatkan ikat pinggang; ajakan yang sesungguhnya sudah
diterima semua orang sejak menjadi murid sekolah dasar. Hemat pangkal
kaya, boros pangkal miskin.
Pertanyaannya,
apakah pihak-pihak yang mengajak sudah melakukan penghematan terlebih
dahulu? Jawabannya; cenderung tidak! Umumnya pemimpin di negeri ini,
termasuk para pejabat pada hampir semula lini pemerintahan, terkesan
hanya doyan mengajak - kalau perlu dengan kesan simpatik pula - tetapi
sangat jarang ditemukan yang menunjukkan contoh dengan perilaku terpuji
dan layak ditauladani rakyat.
Anggapan
demikian tidaklah berlebihan. Cukup banyak fakta nyata yang dapat
dikemukakan. Jangankan dalam bentuk perbuatan, dalam ucapan sendiri
terkadang banyak yang tidak konsisten. Hal ini berbeda jauh dengan
contoh perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW dan para sahabat r.a.
Mengenai
hal itu, ada perbincangan menarik Drs H Damsuar Dt Bandaro Putiah MM
dengan penulis, beberapa waktu silam. Entah bagaimana awalnya, Wakil
Bupati Padangpariaman ini menyentil kebiasaan banyak pembicara dalam
berbagai forum. Mereka mengajak tetapi tidak ikut melaksanakan.
Menurut
Damsuar, ia sering mengamati kebiasaan kebanyakan pembicara yang
memulai pidato atau kata-kata sambutan dengan mengajak hadirin;
"Terlebih dahulu marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke Hadirat
Allah SWT yang telah... dst-nya (tetapi tidak turut melafazkan
Hamdallah). Selanjutnya, marilah kita menghadiahkan shalawat dan salam
untuk junjungan kita Rasulullah SAW yang telah... dst-nya" (tetapi tidak
turut melafazkan Allahumma shali'ala Saidina Muhammad)
Apa
yang diungkapkan Damsuar ternyata bukan isapan jempol belaka, melainkan
realita yang sering kita temui. Sepertinya pembicara tersebut hanya
sekadar latah mewarnai pidato atau sambutannya dengan mukadimah tanpa
memahami kandungan maknanya. Atau, lantaran terlanjur merasa hebat,
sengaja melalaikan hal demikian.
Itu
sekadar gambaran betapa kebanyakan di antara kita sangat gemar mengajak
tanpa turut melaksanakan apa yang dia ajakkan tersebut. Sepertinya,
dengan berbuat seperti itu, para pelakunya sudah merasa dirinya hebat
dan menjadi pahlawan. Dia sepertinya hanya menyelamatkan orang lain,
tetapi membiarkan dirinya tetap terjerumus dalam kekeliruan. Islam
menyebutnya munafik!
Sebaliknya,
tak sedikit pula di antara kita yang hobi mengeritik, melontarkan
kecaman, sementara perilaku dan tindakan dia sendiri cendrung tercela.
Ketika hal itu dipersoalkan, dengan enteng dia menyatakan, "Omongan saya
sajalah perhatikan, perilaku dan tindakan saya jangan ditiru." Islam
menyebutnya pasik!
Kondisi
beginilah yang menjadi fenomena dan menggejala dalam khasanah
kepemimpinan di negeri kita. Rakyat diajak berhemat, akan tetapi mereka
-- umumnya para penyelenggara pemerintahan dan wakil rakyat -- tetap
bergelimang dalam pola hidup foya-foya.
Sifat-sifat
demikian sebenarnya sudah diingatkan Allah SWT dalam Al-Qur'an surah
Ash-Shaff ayat 2-3: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu
mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi
Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
Asumsi
demikian sudah pasti mereka bantah dengan mengemukakan dalih sudah
melakukan penghematan anggaran. Namun, kalau mereka mau transparan,
niscaya akan ketahuan, penghematan dimaksud diduga hanya mereka lakukan
pada pos mata anggaran tertentu yang tidak bersentuhan secara langsung
dengan kepentingan mereka.
Kita
bisa menyaksikan bagaimana kebanyakan pejabat pemerintah dan para wakil
rakyat bersandar lepas di dalam mobil-mobil dinas kelas 'wah' dengan
semburat AC sejuk yang melelapkan. Jarang ada yang peduli pada rakyat
miskin yang terpaksa berdesakan dalam angkutan-angkutan umum yang
terkadang tidak manusiawi.
Ah,
rakyat kalangan bawah sudah jenuh dan muak oleh kebohongan mayoritas
pemimpin mereka sehingga kebanyakan di antara mereka sudah sampai pada
titik kebal dan tak mau peduli terhadap apa pun yang dilakukan para
pemimpin. "Terserah mereka sajalah! Toh, mereka sendiri kelak yang akan
mempertanggungjawaban perbuatannya di depan pengadilan Tuhan," desis
seorang kuli harian.
Lihatlah,
semakin banyak saja rakyat kecil bersikap acuh tak acuh terhadap
perkembangan yang terjadi karena mereka seperti tidak melihat harapan ke
arah perbaikan. Perjuangan para demonstrans dan kritikan yang tersaji
di media massa mereka sikapi secara dingin. Sebab, mereka sudah paham,
semua itu hangat-hangat tahi ayam. Banyak yang bersuara lantang
menjelang dapat beras segantang. Ketika si demonstrans sudah masuk dalam
pelukan kekuasaan, ia melupakan materi kritikannya dulu.
Kalau
saja kita -- terutama para pejabat pemerintah yang mengelola negeri ini
berikut kekayaannya -- mau membaca atau menyimak kembali kisah-kisah
tauladan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, mungkin kita akan merasa
malu dan takut hidup dalam gelimang kecukupan, apalagi sampai
bermewah-mewah (baca QS At Takatsur).
Pada suatu ketika, isteri Abu Bakar r.a memohon pada suaminya, "Aku ingin makan manisan."
Abu Bakar r.a pun berkata, "Aku tidak punya uang untuk membelinya."
Isterinya
mengusulkan, "Kalau engkau setuju, aku akan menyisihkan sedikit uang
dari perbelanjaan setiap hari, sehingga dalam beberapa hari uang akan
terkumpul." Abu Bakar Ash Shiddiq mengizinkannya.
Setelah
terkumpul, isterinya menyerahkan uang itu kepada Abu Bakar r.a untuk
dibelikan bahan-bahan pembuat manisan. Namun, Abu Bakar r.a berkata,
"Dari pengalaman ini sekarang aku tahu, bahwa kita mendapatkan gaji yang
berlebihan dari Baitul Mal."
Oleh
karena itulah, uang yang dikumpulkan isterinya dikembalikan Abu Bakar
r.a ke Baitul Mal. Selanjutnya dia mengurangi gajinya sebanyak yang
dikumpulkan isterinya setiap hari. (selengkapnya, baca Himpunan Kitab
Fadhilah A'mal terbitan Pustaka Ramadhan tahun?)
Adakah
di antara pejabat di negeri kita yang dengan sukarela mengembalikan
kelebihan penghasilannya ke kas negara atau daerah? Wallahu'alam bish
shawab!
Nyatanya,
mengiringi kenaikan harga BBM, pemerintah juga mengambil kebijakan
menaikkan gaji seluruh pegawainya. Kalau saja pegawai yang menerima
berada pada level staf dengan golongan rendah, masih dapatlah dipahami.
Namun, para pejabatnya ikut pula kecipratan. Padahal, umumnya pejabat
pemerintah di negeri ini memiliki kepiawaian 'mencari tambahan
penghasilan' melebihi gaji dan tunjangan resmi.
Namun,
ketika harga BBM turun, gaji pejabat dan aparat pemerintah, bahkan para
wakil rakyat tetap naik. Biduan Doel Sumbang pernah menyentilnya;
ketika laut pasang, cinta kita ikut pasang. Ketika laut surut, cinta
kita tetap pasang...
Padahal,
menurut penyair Taufik Ismail, rakyatlah pemilik sah negeri ini, bukan
aparat pemerintah yang cuma abdi, juga bukan para legislator yang hanya
'wakil rakyat. Akan tetapi, mudah-mudahan rakyat maklum, bahwa menjadi
pejabat dan aparat -- termasuk wakil rakyat -- berpeluang jadi kualat
dan kena laknat; terutama ketika mereka menjadikan sumpah sebagai permen
coklat, bukan amanat dan pengikat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
saran