Minggu, 26 Februari 2012

SIFAT PENDENGKI DAN CARA MENYIKAPINYA Oleh Nita Meutia H*)





Sebagian kecil di antara kita pasti ada seorang penyeru manusia kepada jalan Allah Subhannahu wa Ta’ala, seorang yang pada perjalanannya pasti menemukan pesaing. Ada pesaing yang sehat dan ada pula yang hasud (dengki). 


Si pendengki akan melakukan upaya apa saja untuk menghasut dan mencoba alihkan simpati kepada dirinya; segala macam bentuk fitnah, tuhmah (tuduhan) atau tha’nah (tikaman) yang kita alami perlu disikapi sebijak mungkin. 


Bagaimanapun diri kita berbuat baik kepada orang yang hasud, kita tetap akan dianggapnya sebagai musuh. Sebab, hal-hal yang menjadi pemicu permusuhan dengannya itu masih melekat pada diri kita, yaitu keutamaan, ilmu pengetahuan, tata-krama, harta atau jabatan. 


Bagaimana pun upaya kita tidak akan dapat berdamai dengannya selama diri kita belum menanggalkan karunia-karunia tersebut dari diri kita. Orang yang iri hati akan selalu menunggu-nunggu saat diri kita terpeleset, menanti-nanti kapan diri kita terjatuh dan berangan-angan suatu saat diri kita tergelincir. 


Hari terbaik baginya adalah hari saat diri kita jatuh sakit, malam terindah baginya adalah malam saat diri kita jatuh miskin, saat-saat paling membahagiakan baginya adalah hari diri kita tertimpa bencana dan waktu yang paling disukainya adalah hari dia melihat diri kita gelisah, resah, sedih dan rapuh. 


Momen yang paling menyiksanya adalah ketika ia melihat diri kita menjadi kaya raya. Berita paling menyedihkannya adalah ketika diri kita meraih keberuntungan dan menjadi orang terhormat. Dan bencana paling besar baginya adalah ketika diri kita mendapat promosi.


Tawa diri kita adalah menjadi tangisnya, pesta diri kita adalah upacara kematiannya dan keberhasilan diri kita adalah kegagalannya.


Dia akan melupakan segala-galanya tentang diri kita, kecuali kesalahan-kesalahan diri kita. Dia tidak memandang apa pun kepada diri kita, kecuali pada kekurangan-kekurangan diri kita.


Orang yang memuji diri kita di hadapannya dianggapnya pendusta. Orang yang menyanjung diri kita di dekatnya dianggapnya orang munafik. Orang yang memuji diri kita di majelisnya dianggapnya orang rendah yang tak tahu etika. 


Sebaliknya, dia mempercayai orang yang mencela diri kita, menyukai orang yang membenci diri kita, mendekati orang yang memusuhi diri kita, menolong orang yang tidak menyukai dan tidak akrab dengan diri kita. 


Warna putih menurut pandangan mata kita, terlihat hitam baginya. Siang dalam penglihatan kita, malam dalam pandangannya.


Hindari menjadikannya sebagai hakim dalam perkara diri kita dengan orang lain, karena dia telah memvonis diri kita bersalah sebelum mendengar tuntutan dan melihat bukti-bukti. Hindari bocornya rahasia padanya, karena dia sangat bersemangat menyebarkan dan menyiarkannya. Ia menyimpan kekeliruan diri kita sampai hari ia membutuhkannya dan mencatat kesalahan diri kita sampai hari ia memerlukannya. 


Cara menghadapinya hanyalah menghindari dan meninggalkannya, menghilang dari pandangannya, menjauhi rumahnya dan menyingkir dari tempatnya. 

Sebab, dia sebenarnya adalah sang penindas yang berpenampilan orang yang tertindas. Tak usah diri kita membalas, sudah cukup baginya kepahitan di kerongkongannya, duka nestapa yang dialaminya, kesedihan yang merundungnya, dan kecelakaan yang dirasakannya. 


Aku berhasil, maka sujudlah orang yang dulu mencela diriku.... ia tidak kucela, itulah pemaafan dan penghinaanku baginya. Itu juga yang kualami di antara keluarga. Sebab, barang yang berharga memang aneh di mana saja dia berada. 


Orang yang iri pada kebaikanku: berdusta di belakangku, ber-ghibah sembunyi-sembunyi, memuji-muji di depan mata. Apa adanya diri kita yang membuatnya sakit dan menderita; yang membuatnya tidak bisa tidur dan gundah-gulana; yang mendatangkan kegelisahan, kesedihan, kelelahan, dan keletihan padanya. 


Kedengkian adalah penyakit mematikan bagi pengidapnya. Hatinya sempit, jiwanya bergoncang, pikiran pun buram; karena semua telah diliputi rasa khawatir terhadap kemuliaan dan kemajuan orang lain, lalu sedih terhadap kebahagian orang lain, dan marah terhadap pujian yang diterima mereka. 


Ia menolak dan membantah ketika ada ulama atau tokoh yang memberi kesaksian positif terhadap aktivis da’wah lain. Ia cari- cari alasan agar kesaksian itu menjadi mentah dan tidak berharga. 


Sungguh betapa lelah dan payahnya orang seperti itu. Orang-orang yang disebutnya ahli bid’ah, ternyata disebut Ahlus Sunnah oleh para ulama, tokoh yang disebutnya sebagai teroris dan khawarij, ternyata disebut mujahid yang syahid oleh para ulama. Akhirnya, ia hidup hingga matinya diliputi kebencian, angkara murka dan tanpa kasih sayang sesama muslim, kecuali yang dirahmati oleh Allah ’Azza wa Jalla untuk berubah. 


Di mana saja berada, orang-orang seperti ini menjadi kerikil dalam sepatu bagi saudaranya sesama muslim. Kecil tetapi mengganggu, atau seperti kutil, kecil tetapi merusak pemandangan. Kritik yang dilakukan bukan didasari cinta dan ilmu, tetapi amarah, dendam, dan pelampiasan hawa nafsu. 

Semua akan dilakukan, semua menjadi sarana, semua yang menjadi musuh pada masa lalu menjadi kawan masa kini.... karena satu tujuan, satu target dan sasaran, kehancuran da’wah dan tokoh-tokohnya. 


Dengki tidaklah memandang usia dan tempat, ia bisa diidap siapa saja dan hidup di mana saja. Orang yang menjadi korban juga tidak memandang usia dan posisi, siapa saja pernah menjadi sasaran kedengkian. Baik itu jamaah, ulama, da’i, politisi, tokoh negara, guru, pedagang, dan sebagainya. 


Ketika diri kita menjadikan Allah ’Azza wa Jalla sebagai satu-satunya tujuan dan tempat bersandar, maka musuh- musuh yg demikian itu tidak akan bisa berbuat apa-apa kecuali celaka bagi dirinya sendiri. 


Wallahu A’lam wa Lillahil ’Izzahsemoga bermanfaat - wassalaamu'alaikum wr wb 


*) ustadzah, pemerhati sosial dan kemanusiaan berdomisili di Tangerang Selatan - Banten

4 komentar:

  1. pak zast...makin mantap blog nya pak zast

    BalasHapus
  2. sukses slalu pak zast....

    BalasHapus
  3. subhanallah,bagus juga tausiah nya

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

saran