oleh Zakirman Tanjung
Akan tetapi, usaha saja belumlah cukup. Sadar, bahwa Allah Mahakuasa, kita pun mengiringi setiap usaha dengan doa. Hanya saja, kedua hal itu tidaklah menjamin keinginan dan harapan kita pasti menjadi kenyataan. Masih ada rangkaian ketiga dan keempat; beribadah sekhusu' dan seikhlas mungkin serta tawakkal.
Ya, tawakkal! Sebab, kita hanya bisa berusaha dan berdoa, kita hanya bisa berharap, berangan dan berkeinginan, tetapi Tuhan-lah Yang Maha Menentukan sesuai kehendak-Nya. Bukankah Dia Mahatahu terhadap kebutuhan dan kadar keperluan makhluk²Nya? Dalam hal ini kita tidak bisa memaksa takdir sesuai kemauan kita.
Pengalaman demi pengalaman spritual demikian begitu sering saya alami. Nilai kebenaran yang diciptakan Tuhan baru saya sadari setelah kejadian yang terkadang menyakitkan berlalu sekian waktu. Saya akui memang, ketika sedang terjadi, kadang sempat menyesali dan merutukinya.
Terkait masalah jodoh misalnya, berkali-kali saya hancur dan nyaris bunuh diri. Bagaimana tidak! Dengan kondisi fisik yang cacat, wajah tidak tampan dan ekonomi orangtua pas-pasan (bahkan sering kekurangan), menjelang tamat SMA saya berkenalan dengan seorang gadis yang begitu cantik. Kami pun segera akrab, 68 hari kemudian kami memproklamirkan ikatan cinta.
Meski sembunyi-sembunyi, kami menikmati masa-masa berpacaran yang panas membara. Tak usahlah saya papar-curahkan di sini; nanti terkena sensor. Sayangnya, kemesraan dalam kebersamaan itu tak berlangsung lama; hanya enam bulan lebih tiga hari, gadis itu mendatangiku dan meminta kami memutuskan hubungan percintaan.
Alasan meminta putus dia urai dalam belasan lembar buku yang hingga kini masih kusimpan. Namun, peristiwa terpenting yang kuingat, pada pertemuan terakhir itu si gadis menyerahkan segalanya padaku. Katanya sebagai wujud ketulusan cintanya padaku. Untunglah akal sehatku masih normal. Gadis itu kulepas tanpa cidera.
Dari peristiwa ini lahirlah serangkaian kata dari pikiranku; "Gadis yang aku cintai harus hidup bahagia walau dia dinikahi lelaki lain."
Bertahun-tahun hatiku remuk, serasa hidup ini tak ada artinya. Bahkan, saya pernah mengalami stres berat dan berkali-kali mencoba bunuh diri.
Ternyata hidupku terus berlanjut; hingga suatu ketika saya berkenalan dengan seorang gadis di atas bus. Saya naik dari Payakumbuh, duduk sendirian; gadis itu naik di Bangkinang, lalu duduk di sebelahku; kami sama-sama ke Pekanbaru, Riau. Dalam hitungan menit kami pun berkenalan dan saling bertukar nomor telepon.
Setelah menaikkan gadis itu ke mobil angkutan kota, saya melangkah gontai ke hotel. Setelah melepas lelah, kuhubungi gadis itu lalu kami pun janji bertemu di suatu tempat. Bahkan, dua hari kemudian, kami sebangku lagi di atas bus, kali ini dalam perjalanan dari Pekanbaru menuju Kota Solok, Sumbar. Gadis itu mengatakan akan mengunjungi kakaknya di Sijunjung.
Menikmati kebersamaan selama hampir delapan jam, banyak hal yang kami bicarakan, tak terkecuali keinginanku menyuntingnya. Lelah berpacaran, saya memang melakukan 'tembakan 12 pas'. Cinta tak lagi jadi ukuran. Asalkan saya menyukai, langsung tancap gas. Gayung bersambut kata berjawab. Setelahnya saya jadi rutin tour Padang - Pekanbaru. Berangkat Sabtu pagi, kembali Minggu sore.
Entah karena belum jodoh, suatu kali gadis itu menolak bertemu denganku. Lewat telepon ia menyatakan, "Cari saja gadis lain, Bang!" Saya terhenyak lagi walau tak separah sebelumnya dan tak menyisakan patah hati. Terbukti, perburuanku mencari jodoh terus berlanjut, bahkan hingga ke Batam dan Yogyakarta.
Namun, jika Tuhan belum menghendaki, upaya bagaimana pun tidak membuahkan hasil meski sering cawan sudah sampai di bibir; toh isinya tumpah juga. Banyak sebab yang tak logis mengapa hingga usia sudah melewati 30 tahun saya belum beristeri juga. Gurauan teman dan orang sekampung terdengar makin menyakitkan.
Suatu malam harapanku terasa bertunas lagi. Waktu itu saya menonton pagelaran teater di Taman Budaya Sumbar. Tatkala pertunjukan dimulai, lampu-lampu yang menerangi balkon penonton dipadamkan. Praktis saya tidak bisa mengenali penonton yang datang kemudian dan memenuhi deretan bertingkat di sekitar saya yang semula sepi. Rasa frustrasi telah menyebabkan saya enggan mendekati gadis-gadis.
Hingga, usai saya menyulut rokok, ada seorang gadis menarik pergelangan tangan kiri saya; meminta pindah ke sisinya dengan meminta temannya bergeser menempati posisi saya. Hati pun berbunga-bunga. Setelah dia menyebut nama dan mendengar suaranya, saya baru ingat; mengenal gadis mahasiswi Fakultas Sastra Unand itu ketika ia kemping jurusan di Pantai Ulakan seminggu sebelumnya.
Karuan saja konsentrasi kami terhadap pementasan jadi terburai. Menjelang tengah malam ia kuantar ke tempat setelah menikmati martabak mesir dan membungkuskan untuk teman-temannya. Selanjutnya, kami sering bertemu dan teleponan. Jarak usia kami berkisar delapan tahun.
Dengan maksud hendak menyatakan isi hati, gadis itu kuajak plesiran ke objek wisata alam Anai Resor. Kami berangkat dari Padang sudah agak siang, cuaca pun mendung. Tetapi kondisi itu tak menghalangi. Kami pun berbasah-basah di objek wisata pemandian itu.
Hanya, sikap lahiriah gadis itu ternyata tidaklah mencerminkan hatinya. Hatiku boleh bergetar ketika menggenggam jemarinya, ketika... ah! Namun, ketika kutanyakan hal sesungguhnya, dengan santai dia menjawab, "Saya telah bertunangan...." Glegarrrrr!!!
Terjatuh, bangun lagi, berburu lagi. Hikmah semua kegagalan itu baru kurasakan setelah benar-benar menemukan jodoh, lalu menikah, Jumat 24 Maret 2000. Banyak hal yang kupahami kemudian (dan tak mungkin kutuliskan, sebab gadis-gadis yang dulu itu kemudian juga bergabung dan berteman denganku dalam facebook ini).
Namun, satu hal, Tuhan tidak menghendaki saya berjodoh dengan gadis-gadis dulu itu. Gadis terbaik untukku adalah perempuan yang telah melahirkan dua putri dan seorang putraku; perempuan yang kini jadi isteriku tanpa proses pacaran; bertemu langsung kulamar.
Masih tentang kehendak Tuhan, ada pengalaman spritual lain yang kuingat; terjadi persis setahun silam. Pagi itu, Jumat 12 Desember 2008 isteriku mengeluh sakit dan mengira akan segera melahirkan. Ditemani tetangga, ia memeriksakan diri ke bidan. Sorenya saya dapat laporan, bidan menyarankan USG ke dokter.
Kami pun berangkat menemui dokter dimaksud ditemani si bidan. Sekitar pukul 22.30 wib barulah pemeriksaan berlangsung. Dengan tenang si dokter berkata, "Anaknya perempuan, lahir seminggu lagi." Kulihat, wajah isteri menegang. Di luar ruang ia pun mengeluh dan mengomel, "Perempuan lagi, perempuan lagi!"
Ia juga mengeluhkan lamanya waktu yang diperkirakan dokter. Padahal, rasa sakit hendak melahirkan sudah ia rasakan sejak dua bulan sebelumnya. Saya pun tak berdaya, kecuali menghiburnya, Proklamator Bung Hatta juga hanya memiliki, ternyata 'jadi orang ketiganya', lalu kutawarkan operasi caesar.
Hingga kembali pulang ke rumah, isteri masih terus mengeluh dan mengomel. Dinihari Sabtu 13 Desember, ia kembali minta diantar ke rumah bidan. Saya pun membangunkan tetangga, seorang sopir angkutan kota (angkot). Ia berangkat ditemani ibu, adik dan seorang tetangga. Saya tetap di rumah, menemani dua putri kami yang tertidur pulas.
Tak tahu hendak mengapa; tidur lagi tak bisa, saya pun berwudhu'. Lantaran waktu shalat subuh belum masuk, saya membuka Kitab Suci Al-Qur'an. Ingat ucapan dokter bahwa anak di kandungan isteriku perempuan, saya pun membaca surah ke-19 Maryam dengan mengikhlaskan jika anak ketiga kami perempuan lagi. Ternyata, ayat 1 - 15 belum membahas kisah Maryam dan Nabi 'Isa a.s, melainkan kisah Nabi Zakariyya a.s dan Nabi Yahya a.s.
Bertepatan ketika saya melantunkan ayat ke-7, ponsel berdering. Kulihat, dari isteri, "Ya...?" Lalu....
"Ini Etek mah, Sutan, anak sudah lahir, laki-laki.... " (Etek = bibi, adik mertua)
Alhamdulillah... Allahuakbar! Suara adzan subuh pun bergema dari menara-menara masjid dan mushala se-Kota Padang. Ternyata benar; Jika Tuhan berkehendak.... Katakanlah analisa dokter benar, tetapi Allah SWT bisa saja mengubahnya, bahkan dalam hitungan waktu sepersekian detik.
Inilah hikmah berikutnya yang kupahami kemudian. Ayat ke-7 surah Maryam yang kubaca ketika kemudian ponsel berdering: Hai Zakariyya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
Subhanallah, Walhamdulillah...!
Anak itu kemudian kuberi nama Adzanil Subhani D'smiza. Namun, ibu yang mengandung dan melahirkannya, Gusmiati, menginginkan nama putranya 'Habil'. Maka, ketika mengurus akte kelahiran ke Catatan Sipil, kudaftarkan namanya M Habil AS D'smiza (Muhammad Habil Adzanil Subhani D'smiza)
Padang, 13 Desember 2009 -- 22.06 wib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
saran