oleh Prof Dr (C) Zastra Certa SpKK MMK
BERMULA dari dimuatnya kiriman SMS saya pada Harian Denpasar Post, Jumat 5 Januari 2007, telepon genggam (handphone) saya pun kebanjiran panggilan dan SMS atau sekadar miskol. Ada yang cuma bertanya apa maksud isi SMS tersebut, baik secara lisan maupun lewat SMS, tak sedikit pula yang sungguh-sungguh ingin konsultasi.
Ketika SMS itu dimuat Denpost, sebetulnya saya sudah kembali ke Kota Padang, Sumatera Barat. Sebelumnya, selama empat hari – Senin s/d Kamis 25 – 28 Desember 2006, saya berada di Bali untuk misi studibanding dan berwisata. Ini kunjungan saya kedua setelah Agustus – September 2005.
Kecuali yang sekadar iseng, saya melayani penelepon atau pengirim SMS yang mengaku tengah menghadapi problema hati, prahara rumahtangga hingga kesulitan mencari pasangan hidup. Pertanyaan mereka saya jawab, keluhan mereka saya perhatikan, kemudian saya coba menganalisa secara cerdas, selanjutnya saya tawarkan solusi positif, jauh dari makna provokatif. Untuk ini saya tidak minta bayaran atau sekadar dikirimi pulsa elektronik atas SMS-SMS respons yang saya kirim.
Terus-terang saya bukan psikolog atau psikiater. Namun, pengalaman hidup dan banyak belajar secara otodidak menggiring naluri dan perhatian saya untuk menekuni permasalahan yang banyak melanda muda-mudi dan suami-isteri ini. Hubungan antar dua hati atau kegalauan akibat kurang / tiada mendapat respons dari lawan jenis merupakan problema spesifik yang – celakanya – cenderung diabaikan orang lain.
Dasar pemikiran
Sebagai laki-laki normal, saya sudah mulai merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis pada usia relatif sangat muda, seingat saya sejak berusia 9 tahun. Kala itu saya mulai merasakan getaran cinta terhadap teman sekelas, waktu itu masih sama-sama kelas II SD. Pagi-pagi saya ingin cepat sampai di sekolah agar segera bertemu dengan teman pujaan, malamnya angan dan bayangan di ruang mata saya dipenuhi kelebat gadis itu.
Gejala seperti itu terus berlanjut hingga saya menamatkan SD, lalu memasuki jenjang pendidikan SMP dan SMA. Sialnya, entah lantaran banyak kekurangan pada wajah, fisik dan kemampuan ekonomi orangtua saya, selama itu kerinduan dan ilusi cinta saya selalu saja bertepuk sebelah tangan. Jangankan menerima, melirik dengan sebelah mata pun tidak, termasuk gadis-gadis sekampung. Jadilah saya memuaskan keinginan dengan menyahabati gadis-gadis luar daerah dengan jalan bersahabat pena.
Barulah dua minggu menjelang tamat SMA saya berkenalan dengan seorang gadis. Waktu itu dia kelas II SPG (Sekolah Pendidikan Guru), + 5 km dari SMA saya. Kami berkenalan hari Sabtu 1 April 1989, setelah melewati proses saling mengenal, Jumat 9 Juni – dua bulan kemudian – kami pun memproklamirkan cinta-kasih.
Singkat cerita, saya dan gadis itu merajut buhul asmara sebagaimana layaknya orang berpacaran. Dunia saat itu kami anggap milik berdua, orang lain ngontrak. Janji sehidup semati dan impian masa depan pun kami kukuhkan. Meski demikian, satu hal yang saya jaga; tidak memetik perawan si gadis walau berkali-kali diberinya kesempatan.
Sayangnya, kisah percintaan kami harus berakhir Selasa 12 Desember tahun itu juga. Kami dipaksa putus oleh ayah si gadis yang baru mengetahui anaknya berpacaran dengan saya. Dunia pun saya rasa hampa. Masa depan pun seperti lenyap di balik tikungan.
Selanjutnya, saya pun menjadi lelaki linglung. Di tengah kuatnya jerat kenangan, keinginan bercinta lagi sebenarnya tetap menggebu. Hanya saja tak mudah bagi saya untuk mendapatkan gadis lain. Karenanya, rindu akan padang perkekasihan laksana fatamorgana di depan mata. Saya tersaruk-saruk dan terluka. Namun, tak patah hati.
Setelah menganggur setahun, tetapi sempat jadi sekretaris dan pjs kepala desa, saya diterima kuliah pada Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand) Padang melalui jalur UMPTN (kini SPMB). Hijrah dari desa ke kota, saya pun mendapati banyak pengalaman. Sementara perburuan kekasih di rimba pergaulan terus saya jajal.
Malang tak dapat ditolak, mujur yang belum juga bisa diraih, bukan salah bunda mengandung atau bapak yang punya burung, setiap uluran cinta saya selalu berujung penolakan. Setiap gadis yang saya incar selalu memalingkan muka. Kendati demikian saya tak pula mau menggunakan jasa dukun. Syirik dan tidak akan berkah!
Dari pengalaman tersebut dan berdasarkan pengamatan terhadap orang yang mengalami hal serupa, saya memperoleh satu kesimpulan. Bahwa orang yang gagal dalam cinta bagai ditelan oleh kesendirian dan ketidakpedulian. Kalau ingin bertutur dan berbagi kegundahan, orang lain mendengarnya sangat setengah hati. Jangankan hiburan, penyejuk dan solusi yang bisa diharapkan, malah si korban cinta dianggap cengeng, dicibirkan bahkan dilecehkan.
Keadaannya berbeda dengan korban HIV/AIDS dan narkoba; mereka relatif mendapat perhatian, baik dari lembaga pemerintah, badan-badan internasional maupun oleh banyak LSM. Para korban yang terdata memperoleh jasa pendampingan dan pengobatan. Padahal, orang yang patah hati juga berpotensi mengalami kerusakan masa depan, bahkan bisa berujung bunuh diri.
Karenanya, ketika masih kuliah, muncul pikiran saya untuk menggagas sebuah jasa konsultasi yang saya beri nama Bengkel Las Khusus Reparasi Patah Hati (BLK-RPH). Namun, akibat keterbatasan kemampuan, obsesi yang lahir tahun 1991 itu tidak sampai menjadi kenyataan. Kuliah hanya dua semester, saya pun meninggalkan universitas setelah memecat rektor, memberhentikan dekan dan membebastugaskan dosen-dosen.
Hingga kini, ketika saya sudah beristeri, punya dua putri dan satu putra, BLK-RPH belum juga terwujud secara kelembagaan. Namun, keinginan saya untuk itu tak pernah surut. Barulah ketika berkunjung ke Bali akhir tahun lalu dan saya menemukan ada rubrik SMS oke, obsesi itu mendadak menguat. Ketika SMS berikut nomor ponsel yang saya kirim benar-benar dimuat Denpost, banyak pemilik handphone yang menghubungi.
Dengar, respos, solusi
Walau obsesi mendirikan BLK-RPH secara kelembagaan belum jua terwujud, secara pribadi saya sudah melakoni kegiatan jasa itu semenjak tahun 1991. Saya melihat hal ini sebagai celah pengabdian untuk membuat diri berarti. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat dan berarti bagi orang lain?
Bersahabat dengan orang yang tengah mengalami kegagalan ternyata punya sisi kemanusiaan yang indah juga. Logikanya begini; jika berteman dengan orang yang baru atau sedang meraih sukses, keberadaan diri kita bagi dirinya mungkin tak terlalu penting lantaran banyak yang mau berteman dengannya. Ini berbeda dengan jika berteman dengan orang gagal dan cenderung ditinggalkan.
Keberartian itulah yang saya lakon dan nikmati selama 15 tahun terakhir. Bahkan, terkait dengan profesi jurnalistik yang saya jalani semenjak 1992, saya gemar menawarkan persahabatan kepada pejabat yang baru dicopot oleh atasannya atau pemimpin politik yang tak terpilih lagi, di samping mereka yang gagal dalam cinta atau tengah menghadapi prahara rumahtangga.
Agar bisa memposisikan diri menjadi sahabat mereka sesungguhnya tidaklah sulit. Modalnya cukup kemampuan dan menyediakan ruang perhatian. Dengarkan curahan hati (curhat) mereka dengan mimik dan respons simpatik. Namun, jangan sekali-kali memotong bicara mereka untuk menyanggah, apalagi menyalahkan. Sebab, siapapun yang sedang curhat akan sangat benci bila disalahkan. Mereka butuh simpati, bukan penilaian.
Memang, menjadi pendengar yang baik tidaklah semudah jadi pembicara yang baik. Banyak orang yang gemar berbicara tetapi cenderung bosan mendengar. Hanya saja, itulah yang mesti dilakukan agar diri kita punya arti. Selanjutnya, kalau diminta, barulah saya tawarkan solusi yang relevan dengan persoalan. Ini pun memerlukan dasar pengetahuan.
Keinginan memberi solusi kerap menghentak emosi dan ego orang yang mendengar suatu persoalan, lantaran didorong rasa diri lebih hebat. Namun, tahan dulu keinginan itu sampai benar-benar diminta. Dalam hal ini, fase meminta solusi atau sekadar tanggapan itu akan tiba dengan sendirinya. Sebab, ibarat gelas, kalau isinya sudah dituang habis, biasanya akan ditelentangkan lagi; minta diisi.
Sekretariat K3C
Dari sekian banyak pengirim SMS dan penelepon yang menghubungi saya terkait BLK-RPH yang dimuat Denpost, saya mencatat sedikitnya ada sepuluh orang yang secara intensif tetap berkomunikasi dengan saya hingga artikel ini ditulis. Mereka rata-rata terlibat konflik percintaan, bertemu mantan kekasih setelah menikah – lalu terlibat affair – atau dikhianati pasangan.
Setelah saya dengar, perhatikan, analisa dan tawarkan solusi yang diminta, mereka rata-rata mengaku cukup puas dan menyatakan mengalami perubahan mendasar. Seseorang yang tadinya – SMS pertama – menyatakan akan bunuh diri, belakangan mengaku lebih tenang dan bisa enjoy menjalani hari-harinya.
Menanggapi tawaran saya – seperti yang dimuat SMS Oke Denpost – untuk membentuk Sekretariat K3C (Komunitas Korban Kejahatan Cinta), mereka langsung mengontak saya dan berkeinginan ikut terlibat di dalamnya.
Sekretariat K3C adalah pemikiran saya berikutnya. Untuk ini diperlukan suatu wadah atau tempat, entah dengan membangun sendiri, membeli atau mengontrak sebuah petak toko, ruangan pada suatu bangunan hotel atau komplek perkantoran. Mengingat ide ini terlontar, berkembang dan memasyarakat di Bali, saya berharap Sekretariat K3C pertama muncul di Kota Denpasar atau kawasan sekitarnya.
Pada sekretariat ini tercakup sekaligus BLK-RPH meskipun konsultasi bisa dilakukan via telepon atau SMS. Persoalan yang timbul kemudian, untuk membentuknya jelas memerlukan modal awal, minimal untuk kontrak tempat dan fasilitan pendukung seperti listrik dan personal komputer. Biaya operasional untuk sementara bisa ditekan.
Sebagai penggagas, saya akan sangat mengapresiasi jika ada pihak atau lembaga yang bersifat sosial mau memfasilitas kelahiran Sekretariat K3C plus BLK-RPH ini. Sepanjang dimaksudkan untuk misi kemanusiaan, saya akan mendukung secara penuh, di manapun lembaga itu berada. ***
Padang, 14 Januari 2007
*) Prof Dr (C) Zakirman Susastra Cancer Tanjung Spesialis Keluh-kesah Magister Manajemen Konflik (zastra certa)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
saran