oleh Zakirman Tanjung
Gempa bumi yang meluluh-lantakkan bumi Kabupaten Padang Pariaman tidak hanya mengakhiri hidup sekitar 600 jiwa penduduknya, tetapi menyisakan lara bagi ratusan ribu masyarakat setempat. Mereka akan menanggungkan derita berkepanjangan, entah akan sampai kapan....
Kesulitan demi kesulitan hidup akan menyertai hari-hari mereka hingga pemerintah - dengan dukungan dana negara dan donatur - melakukan rehabilitasi dan pemulihan pemukiman serta tempat-tempat usaha mereka. Mengharapkan masyarakat membangun kembali rumah mereka yang hancur merupakan hal yang sangat tidak mungkin.
Bagaimana tidak! Berdasarkan penelusuran wartawan anda ke lokasi-lokasi yang porak-poranda oleh guncangan gempa bumi 7,9 skala richter (SR), Rabu 30 September 2009 pukul 17.16 wib, umumnya rumah-rumah yang ambruk total atau rusak berat adalah milik warga berekonomi menengah ke bawah. Akan sangat mustahil bagi mereka bisa membangun kembali rumah tersebut dalam waktu cepat, bahkan hingga lima tahun ke depan.
Zuniar (ibu kandung yang melahirkanku pada hari Minggu 29 Juni 1969 jam 20.00 WIB) merupakan seorang di antara puluhan ribu wanita yang kehilangan tempat bernaung sekaligus tempatnya berusaha. Ibu tiga anak berusia 59 tahun itu adalah penduduk Korong Balaisatu, Kenagarian Lubuk Pandan, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung. Rumah yang dibangun ayahnya, Boeyoeng Ketek (almarhum) tahun 1958 hancur tak berbentuk dalam hitungan detik.
Meski demikian, perempuan yang biasa disapa 'One Sijun' ini mengaku masih bersyukur ke hadirat Allah SWT. Sebab, ketika gempa terjadi ia baru memulai shalat ashar pada raka'at pertama di dalam rumah dengan seluruh dinding dari susunan batu kali itu. Begitu pula suaminya, Rusli (67 tahun) serta putri mereka, Devi (29 tahun) dengan suaminya, Syamsuardi (Boy) dan dua putri mereka, Sherlin dan Qaisya.
"Alhamdulillah, kami berhasil berhamburan ke luar. Beberapa detik kemudian, seluruh dinding rumah berikut atapnya ambruk; termasuk bagian dapur yang dibangunnya belakangan, sekitar 1974," katanya mengenang. "Lihatlah, tak ada dinding yang tersisa."
Bagi One Sijun, rumah yang berlokasi di pinggir jalan antara Kiambang dan Padanggedok, Pakandangan, itu sangatlah berarti. Selain sebagai tempat bernaung bersama suami, anak, menantu dan dua cucunya, juga tempatnya berusaha membuat berbagai jenis kue pesanan untuk keperluan pesta pernikahan dan hari-hari raya.
"Di rumah ini pula saya melahirkan anak pertama melalui perjuangan dan rasa sakit teramat sangat, Minggu 29 Juni 1969, dengan pertolongan dukun. Putra yang nyaris dikubur setelah lahir itu pun tumbuh dengan kondisi fisik yang cacat," paparnya sembari menyebutkan nama si anak.
Ditanya kapan akan membangun kembali rumah yang hancur itu, One Sijun hanya menerawangkan pandangan kosong.
Sejak tiga tahun lalu, katanya, anak dan menantunya sudah berniat hendak membangun baru rumah tersebut. Bahkan, seluruh kusen pintu dan jendela sudah selesai dibuat melalui kegiatan julo-julo (arisan) tukang. Akan tetapi, niat itu belum terlaksana lantaran biaya yang diperlukan belum terkumpul.
Setelah rumahnya roboh, One Sijun mengumpulkan barang-barang seperti pakaian dan perkakas dapur di emperan rumah tetangga yang tak ikut ambruk - tetapi juga rusak berat. Ruang tamu rumah tetangga itu pun dia tumpangi untuk tempat bernaung di malam hari walau dengan perasaan was-was karena retak di sana-sini.
Sedang untuk anggota keluarga yang lain, menurut One, anak bujangnya dan menantunya mendirikan tenda darurat dengan bahan alakadarnya di halaman rumah yang ambruk. "Kalau boleh berharap, kami ingin agar pemerintah atau pihak yang peduli membantu tenda standar ukuran keluarga, bukan tenda umum berukuran besar," pintanya.
Ketika sedang berbincang, sekali-sekali One melayangkan pandangan ke reruntuhan rumah berukuran 10,5 x 6,5 meter plus dapur 6 x 9 meter dan dilengkapi teras terbuka di bagian depan. Wajahnya masih kelihatan mencerminkan ketegaran jiwanya. Tak terdengar nada putus-asa dan kecewa atas ketentuan Allah SWT dari nada bicaranya.
Namun, di ruang matanya bagai terbaca beribu kepiluan. Kepiluan yang bagaimana; hanya One yang memahami maknanya.
Catatan ini kubuat 10 Oktober 2009 pukul 21:25
ALHAMDULILLAH... rumah tersebut sudah kembali mulai dibangun, meski bantuan Rp15 juta / rumah yang diprogramkan pemerintah belum lagi diterima ibuku hingga kini. Insya Allah, menurut rencana, pada hari Kamis 12 April 2012 nanti akan dilaksanakan hajatan batagak kudo-kudo, yakni acara memasang pekayuan untuk bubungan / atap secara gotong-royong dengan mengundang kaum-kerabat, kolega dan relasi.
Pembangunan kembali rumah tempatku dilahirkan ibunda dilaksanakan oleh adik iparku, Sutan Boy, bersama One dan adik-adikku, Devi dan Wiko, serta dibantu kaum kerabat.



semoga dilapangkan segala urusan..
BalasHapussalam